"ikan bandeng", ngandikane siEmak doeloe : nek arep pang mangan lawuhe iwak bandeng,yo mrono neng mBandengan. \, maksud'e saya disuruh ke desa Bandengan..<kendal ngalor>,sing akeh tambak'e iwak bandeng.
--- Pada Ming, 1/2/09, Yusuf Iskandar <[email protected]> menulis: Dari: Yusuf Iskandar <[email protected]> Topik: [kendal-online] Bandeng Tambak Kropok, Pilihan Menu Bandeng Bebas Duri Kepada: "Kendal Online" <[email protected]> Tanggal: Minggu, 1 Februari, 2009, 3:58 AM Bandeng Tambak Kropok, Pilihan Menu Bandeng Bebas Duri ------------ --------- --------- --------- --------- --------- ------ Ikan bandeng memang memiliki citarasa berbeda dibanding ikan lainnya. Namun untuk menikmatinya acapkali nyali si calon pemakan sudah ciut kalau ingat duri bandeng kelewat banyak termasuk duri-duri kecil yang seakan tersusun rapi menyelimuti sekujur tubuh ikan bandeng. Makan bandeng presto atau yang juga dikenal sebagai bandeng berduri lunak adalah salah satu solusi menikmati bandeng tanpa takut terganggu duri. Namun pada bandeng presto yang dimasak pada temperatur tinggi itu duri-durinya masih tetap melekat di dalam dagingnya, hanya saja durinya menjadi lunak atau empuk ketika digigit atau dikunyah. Pilihan lain untuk menikmati bandeng adalah makan bandeng tanpa duri. Duri-durinya benar-benar dihilangkan sehingga dijamin si pemakan bandeng akan terbebas dari tertelan duri. Sungguh sebuah pengalaman yang menyesakkan, saat enak-enaknya makan ikan tiba-tiba durinya tertelan dan tersangkut di tenggorokan. Selezat apapun masakan yang disajikan, segera buyar selera kenikmatannya. Peristiwa tertelan duri ikan, oleh orang Jawa disebut ke-lek-an ri, yang lebih berkesan dramatis ketimbang menyebut tertelan duri. Kalau orang Jawa mengatakan ke-lek-an ri, seolah menggambarkan telah terjadi sebuah tragedi yang sukar dilukiskan penderitaannya. Herannya, kebanyakan peristiwa ini dialami oleh anak-anak. Entah karena tenggorokan anak kecil masih berlubang sempit atau karena anak kecil biasanya belum mampu mengamalkan prosedur yang aman untuk makan ikan berduri. Ingat masa kecil ketika mengalami ke-lek-an ri (tertelan duri)? Sedang enak-enaknya muluk (menjumput) nasi putih hangat yang di-ciprat-i kecap manis, tiba-tiba mak sek......, nafas serasa terhenti, dada sesak, gigi meringis menahan rasa sakit, mata agak melotot tertahan (karena malu dilihat orang) tapi titik air mata tak bisa ditahan juga, ketika sebatang duri kecil tertelan dan nyangkut di tenggorokan. Ugh.....! Diminumi banyak-banyak hanya membuat perut kembung saja, karena air minum hanya permisi lewat di tenggorokan. Orang tua kita biasanya lalu menganjurkan : ”Nge-lek sego..., nge-lek sego...!” (menelan nasi). Kita pun disuruh makan nasi tapi tidak dikunyah dulu melainkan langsung ditelan saja. Tujuannya agar gerombolan butir nasi tadi rame-rame mendorong duri yang nyangkut di tenggorokan seperti para demonstran yang mendorong-dorong pintu pagar gedung DPR, sehingga duri akan terdorong masuk ke perut. Perkara di dalam perut kemudian duri nusuk-nusuk lagi ya itu urusan nanti. Cilakanya, menelan nasi tanpa dikunyah adalah bukan pekerjaan mudah. Perlu energi ekstra untuk mampu melakukannya. Belum lagi kalau setelah rombongan nasi ditelan beberapa kali ternyata pertahanan duri di tenggorokan tak kunjung roboh juga. Akibatnya perut pun lalu merasa sudah kenyang sebelum makan. Ya, makan nasi putih thok itu tadi.... (Weleh...., lha saya ini mau cerita ikan bandeng bebas duri kok malah tentang keloloden ri..., tertelan duri). *** Di kota Yogyakarta, salah satu pilihan menikmati ikan bandeng tanpa duri ada di Gama Candi Resto yang berlokasi di penghujung selatan Jl. P.Mangkubumi. Tepatnya di depan seberang timur stasiun Tugu, pas di pojokan jalan yang membelok ke kiri yang di pojokan jalannya terdapat tugu jam kota yang salah satu jamnya tanpa jarum (heran juga sama Pemkot Jogja ini, lha wong jam tanpa jarum kok ya nekat dipasang di tengah kota.....). Menempati sebagian ruangan di sisi sebuah bangunan tua yang sudah direnovasi, restoran Gama Candi menyandang judul menu nasi uduk dan ikan bakar. Lokasinya memang sangat strategis, memandang ke arah selatan dari teras smoking-area resto ini terlihat bangunan hotel Garuda, kepadatan ujung utara Jl. Malioboro dan rangkaian kereta api (kalau pas ada kereta lewat, tentu saja) Bandeng tanpa duri yang disebut sebagai bandeng tambak kropok adalah salah satu menu unggulannya. Selain bandeng, juga tersedia cumi-cumi, kerang, kepiting, udang, ikan jepang (shisamo), tahu goreng, sayuran, trancam (bukan terancam dengan sisipan huruf ’e’), ca baby buncis (yang ini hoenak tenan....), ca taoge ikan asin dan aneka sayuran lainnya serta jus. Ada pilihan nasi biasa dan nasi uduk. Bandeng tambak kropok (sampai sekarang saya juga tidak tahu kenapa disebut demikian), daging bandengnya memang benar-benar tak mengandung duri (entah siapa pula yang tekun nduduti..., mencabuti duri-duri kecil ikan bandeng ini hingga begitu bersih). Ikan bandeng ini disajikan di atas piring oval putih sebagai bandeng goreng yang sudah dibumbui gurih dipadu dengan guyuran sambal kecap manis bercampur irisan cabe dan bawang merah mentah. Dipotong dengan pisau di atas piringnya, lalu disendok atau atau digarpu atau bisa juga di-usek-usek dengan tangan ke sambal kecapnya, lalu dikunyah bebas saja tanpa khawatir ada duri yang nyisip, sebelum akhirnya ditelan. Sebaiknya dimakan saat dalam kondisi masih agak panas dan jangan lupa dengan sambal kecapnya. Bumbunya terasa seperti kurang merasuk ke dagingnya, karena itu cocolan ke sambal kecap akan membantu mengantarkan si pemakan pada kesimpulan : ”hoenakeee... .”.. Meski suka akan bandeng, sebaiknya jangan tinggalkan untuk menikmati menu cumi-cumi, tahu goreng dan ca baby buncisnya. Suasana tata ruang resto yang dirancang demikian rapi dan enak ditempati, dipadu dengan pelayanan yang bagus dan ramah, lalu akhirnya dibayar dengan harga yang sangat wajar, membuat penikmat masakan ikan-ikanan kiranya cukup merasa puas. Seporsi bandeng tambak kropok harganya Rp 35.000,- cukup untuk 2-3 orang yang tidak sedang kemaruk baru sembuh dari sakit. Gama Candi Resto di Yogyakarta yang sudah berdiri setahunan terakhir ini masih seduluran dengan resto yang sama yang lebih dahulu ada di Semarang dan hingga kini masih diminati penggemarnya. Karena itu ada pilihan makan bandeng bebas duri ketika sedang berada di Yogya atau Semarang. Yogyakarta, 1 Pebruari 2009 Yusuf Iskandar http://yiskandar. wordpress. com Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

