Kemarin wilayah Batang bagian timur, Kendal tengah-utara, dan Semarang di landa 
banjir. Kenapa ini terjadi? akibat perubahan penggunaan lahan? belum tentu. Cek 
data dulu, apakah jaman sebelum 70an juga sudah terjadi banjir. Ataukah 
banjirnya dulu lebih kecil dibandingkan banjir sekarang?
 
Jika sejak dulu sudah terjadi banjir, seperti halnya Jakarta, maka boleh jadi 
memang 'konstruksi' geologinya emang gitu. Artinya wilayah-wilayah yang terkena 
banjir itu lebih tepat disebut rawa daripada hunian. sampai pengalaman waktu 
kecil sangat familiar mandi di kali saat banjir. Namun jika banjirnya lebih 
heboh, maka ada yang salah dalam pemanfaatan lahan pada beberapa dasawarsa 
terakhir ini.
 
Lahan di Kabupaten Kendal dan sekitarnya, umumnya terbentuk dari endapan 
alluvial dengan tanah lempung (clay) tipe 2:1 atau jenis montmorilonit. Dengan 
bahasa populer, terdiri dari lempung hitam, yang mudah merekah saat kemarau dan 
mengembang saat hujan. Sifat lempung ini mempunyai gaya kohesi 
(lempung-lempung) dan adhesi (lempung-air) yang tinggi. Akibat rekahan, akar 
tanaman dan bangunan bisa ikut patah karenanya. Akibat sifat mengembangnya, 
lempung ini dapat membentuk lapisan mampat untuk sementara waktu. 
 
Penjelasan yang terakhir ini yang terkait dengan banjir. Tanah lempung ini 
mudah menyerap air dan mengembangkan diri, sehingga membentuk lapisan mampat 
yang sementara (beberapa hari). Akibatnya dalam beberapa jam, saat pasokan air 
hujan terus terjadi (data: curah hujan kemarin hampir 10 jam lebih) akan 
membentuk genangan yang makin besar.
 
Akibat sifat ini pula model pertanian di Kendal sering memakai bentuk ala 
sorjan, yaitu adanya got drainase diantara pematang. Fungsinya untuk membuang 
kelebihan air, mengurangi kejenuhan, dan membantu pernafasan tanaman.

Apabila banjir terjadi akibat perubahan lahan. Mungkinkah pasca reformasi ini 
banjir makin menggila? maklumlah, jaman reformasi khan sempat terjadi kebebasan 
menjarah hutan jati di daerah hulu di beberapa kabupaten ini.
 
Cerita ini agak berbeda dengan fenomena di Semarang, yang memang dahoeloenya 
sebagian besar merupakan laut. Wajar jika subsidence (ambles), rob, plus 
banjir. Lha lahan dah potensial, ditambah pembangunan gedung dan permukiman 
super padat.
 
Beda pula banjir di Demak, yang tanah atasnya sama, hingga terjadi banjir. Tapi 
'alas pot bunga' (baca: batuan di bawahnya) mengandung kapur, jadi di sini 
kemarau juga kekeringan. 
 
Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan? budaya kita mah enaknya nyari 
kambing hitam penjarah kawasan hulu. 
 

 

Muhamad Kundarto
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
(Survey, Pemetaan, Evaluasi Sumberdaya Lahan, dan Pemberdayaan Masyarakat)
HP: 08180 272 6112
http://mkundarto.wordpress.com/
 
 


      

Kirim email ke