Sumbatan pada saluran air hanya layak untuk alasan di kota besar, dan ini 
biasanya mendorong terjadinya banjir sementara (1-2 jam) saat hujan turun, 
kemudian air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau banjir sudah 
merata di hampir semua permukaan tanah, ini berarti permasalahan massal di 
seluruh wilayah itu.
Dugaan pertama karena kondisi geologi, jenis tanahnya, dekat badan air (sungai 
dan laut), dan landai/cekung. Dugaan ini benar jika memang sejak dulu (sebelum 
ada banyak permukiman), sudah menjadi langganan banjir.
Dugaan kedua, terjadi pengrusakan secara masal dan sistematis pada vegetasi di 
daerah hulu, sehingga meningkatkan 'kiriman' air melalui sungai ke hilir. 
Dugaan ini benar jika banjirnya dimulai dari meluapnya air dari sungai.
Dugaan ketiga, adanya bangunan yang banyak di bantaran kali atau perkotaan. 
Tapi alasan ini lebih cocok untuk wilayah Semarang saja.
 
Gitu bos.......



Muhamad Kundarto
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
(Survey, Pemetaan, Evaluasi Sumberdaya Lahan, dan Pemberdayaan Masyarakat)
HP: 08180 272 6112
http://mkundarto.wordpress.com/
 
 

--- On Mon, 2/9/09, agus subagijo <[email protected]> wrote:

From: agus subagijo <[email protected]>
Subject: Bls: [lintas-alumni-faperta] KENAPA BANJIR di BATANG timur - KENDAL - 
SEMARANG
To: [email protected]
Date: Monday, February 9, 2009, 5:27 PM











Mas, klu daerah cekungan apakah artinya kita harus menerima nasib
Klu di lihat mungkin bukan hanya faktor tata lahan pertanian, di beberapa 
daerah di sudut kota Jkt sangat terlihat jelek sekali sumbatan saluran air dan 
sangat fatal . Mungkin juga di Kendal itu krena pembuangan air ke arah aliran 
sungai dan ke arah hilir sangat sangat jelek. 
Pemda dan masyarakat kurang perhatian dengan kebersihan kota dan tidak ada dana 
utk itu karena faktor XXX. Kemungkinan lain adalah tingginya permukaan laut 
sehingga menahan sementara aliran dari daratan.

--- Pada Sen, 9/2/09, muhamad kundarto <mask...@yahoo. com> menulis:

Dari: muhamad kundarto <mask...@yahoo. com>
Topik: [lintas-alumni- faperta] KENAPA BANJIR di BATANG timur - KENDAL - 
SEMARANG
Kepada: "kendal online" <kendal-online@ yahoogroups. com>, "alumni faperta" 
<lintas_alumni_ fape...@yahoogro ups.com>, "milist alumni" <up...@yahoogroups. 
com>, "milist dosen UPN" <dosen_upnjogja@ yahoogroups. com>, "milist pty" 
<forum_...@yahoogrou ps.com>, "bintari bintari" <bintari.foundation@ yahoo.co. 
id>, "feri bintari" <prihantoro_feri@ yahoo.com>
Tanggal: Senin, 9 Februari, 2009, 4:46 AM









Kemarin wilayah Batang bagian timur, Kendal tengah-utara, dan Semarang di landa 
banjir. Kenapa ini terjadi? akibat perubahan penggunaan lahan? belum tentu. Cek 
data dulu, apakah jaman sebelum 70an juga sudah terjadi banjir. Ataukah 
banjirnya dulu lebih kecil dibandingkan banjir sekarang?
 
Jika sejak dulu sudah terjadi banjir, seperti halnya Jakarta, maka boleh jadi 
memang 'konstruksi' geologinya emang gitu. Artinya wilayah-wilayah yang terkena 
banjir itu lebih tepat disebut rawa daripada hunian. sampai pengalaman waktu 
kecil sangat familiar mandi di kali saat banjir. Namun jika banjirnya lebih 
heboh, maka ada yang salah dalam pemanfaatan lahan pada beberapa dasawarsa 
terakhir ini.
 
Lahan di Kabupaten Kendal dan sekitarnya, umumnya terbentuk dari endapan 
alluvial dengan tanah lempung (clay) tipe 2:1 atau jenis montmorilonit. Dengan 
bahasa populer, terdiri dari lempung hitam, yang mudah merekah saat kemarau dan 
mengembang saat hujan. Sifat lempung ini mempunyai gaya kohesi 
(lempung-lempung) dan adhesi (lempung-air) yang tinggi. Akibat rekahan, akar 
tanaman dan bangunan bisa ikut patah karenanya. Akibat sifat mengembangnya, 
lempung ini dapat membentuk lapisan mampat untuk sementara waktu. 
 
Penjelasan yang terakhir ini yang terkait dengan banjir. Tanah lempung ini 
mudah menyerap air dan mengembangkan diri, sehingga membentuk lapisan mampat 
yang sementara (beberapa hari). Akibatnya dalam beberapa jam, saat pasokan air 
hujan terus terjadi (data: curah hujan kemarin hampir 10 jam lebih) akan 
membentuk genangan yang makin besar.
 
Akibat sifat ini pula model pertanian di Kendal sering memakai bentuk ala 
sorjan, yaitu adanya got drainase diantara pematang. Fungsinya untuk membuang 
kelebihan air, mengurangi kejenuhan, dan membantu pernafasan tanaman.

Apabila banjir terjadi akibat perubahan lahan. Mungkinkah pasca reformasi ini 
banjir makin menggila? maklumlah, jaman reformasi khan sempat terjadi kebebasan 
menjarah hutan jati di daerah hulu di beberapa kabupaten ini.
 
Cerita ini agak berbeda dengan fenomena di Semarang, yang memang dahoeloenya 
sebagian besar merupakan laut. Wajar jika subsidence (ambles), rob, plus 
banjir. Lha lahan dah potensial, ditambah pembangunan gedung dan permukiman 
super padat.
 
Beda pula banjir di Demak, yang tanah atasnya sama, hingga terjadi banjir. Tapi 
'alas pot bunga' (baca: batuan di bawahnya) mengandung kapur, jadi di sini 
kemarau juga kekeringan. 
 
Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan? budaya kita mah enaknya nyari 
kambing hitam penjarah kawasan hulu. 
 

 

Muhamad Kundarto
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
(Survey, Pemetaan, Evaluasi Sumberdaya Lahan, dan Pemberdayaan Masyarakat)
HP: 08180 272 6112
http://mkundarto. wordpress. com/
 
 



Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3!
















      

Kirim email ke