Mengikuti kisah Ponari yang lagi rame di media kok saya jadi ingat kisah lele jelmaan di Terompo awal 2000 lalu. Anda, yang khususnya tinggal di Kendal mungkin pernah mendengarnya juga. Bagi yang pernah mendengar atau tahu persisnya, silakan lengkapi...
Saat itu, "lele jelmaan" juga mendapat publisitas yang luas dari media. Saya mendengarnya kali pertama juga dari siaran TV. Tepatnya, di liputan siang RCTI. Eh, sebelumnya saya sudah pernah posting ini belum ya? Kalau udah ya anggap saja mengingatkan kembali Alkisah, seorang warga di kampung yang terletak di Terompo mendapat seekor lele. Ikan itu ditangkapnya dari kali gedhe (Sungai Kendal) yang mengalir melalui kampung. Ukurannya cukup besar, lebih besar dari betis orang dewasa. Konon, mata ikan itu pun bisa berkedip. Nah, entah dari mana kabarnya, berkembang isu bahwa lele itu lele jelmaan. Malam sebelum mendapat tangkapan lele, si penangkap bermimpi bertemu dengan anaknya yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Menurut mimpinya, si anak yang meninggal karena tenggelam itu besok mau pulang. Esoknya, si anak pulang dalam bentuk ikan lele. Rupanya isu itu menarik perhatian. Berbondong-bondong orang datang untuk melihat lele katanya jelmaan. Bukan hanya dari sekitar kampung, orang luar kotapun berdatangan. Ah, yang namanya isu, keluar dari mulut orang pertama ibaratnya masih berupa badan. Keluar dari mulut orang kedua sudah muncul tangan. Muncul dari orang ketiga sudah numbuh kepala. Begitu keluar dari mulut orang keempat, sudah lengkap dengan kaki. Selanjutnya, isu sudah mampu untuk berjalan dan berlari sendiri . Dari yang sekedar isu lele jelmaan, selanjutnya berkembang bahwa air yang digunakan untuk menampung lele itu bisa mendatangkah berkah. Bisa menyembuhkan penyangkit serta membantu mewujudkan keinginan manusia lainnya. Ketika saya pulang ke Kendal (saya dari Jakarta pulang kampung seminggu sekali waktu itu) saya sempat melihat dengan mata kepala sendiri banyaknya mobil bernomor B, L dan nomor daerah lain yang berjejer di lokasi. Saya sendiri tidak tertarik melihat. Bener, banyak orang yang datang, persis di TV. Bukan sekadar untuk melihat, orang juga, kabarnya, mengambil air dari tampungan lele itu. Selanjutnya air itu buat cuci muka, mandi dan bahkan diminum. Banyak yang membawanya pulang untuk oleh-oleh untuk menularkan keberkahan atau penyembuhan penyakit bagi kerabat di rumah. Kampung di dekat perbatasan Terompo, Kebondalem dan Sijeruk, kalau dari Kendal menuju Putat adanya di sebelah kanan seberang sungai, itu mendadak ramai. Padahal, sehari-harinya setahu saya kampung itu sepi. Jembatan penghubungnya masih jembatan bambu. Jalanannya masih tanah. Sudah pasti keramaian itu mendatangkan berkah bagi warga kampung tersebut. Orang membuka lahan parkir dadakan. Untuk setiap orang yang mau melihat, mesti mengisi kaleng di ujung jembatan. Mereka yang mu mengambil air juga harus mengisi infaq. Namanya isu, dibiarkan lama-lama juga tenggelam sendiri. Begitu juga dengan lele jelmaan kita itu. Ketika saya lewat daerah itu lagi beberapa bulan kemudian, sudah tidak ada kumpulan orang lagi. Namun, ada sesuatu yang baru di kampung itu. Sebuah langgar/mushola permanen sudah berdiri. Kabarnya, langgar itu dibangun dari hasil sumbangan pengunjung yang bermurah hati mengisi kaleng amal. Meneurut temen yang tinggal di sekitar lokasi, beberapa minggu sebelumnya, saat peresmian mushola warga, mengadakan pengajian mendatangkan ustad terkenal segala. Sebagai ungkapan rasa syukur, warga tidak lupa juga menggelar tumpengan. Uniknya, bukan ingkung yang sajikan pada tumpengan. Namun, seekor ikan lele. Oalah . Lele jelmaan itu bener-bener mendatangkan berkah bagi warga kampung yang sudah sekian lama mendambakan sebuah langgar. Sebaliknya, bagi yang sudah cuci muka, mandi or minum air kubangan lele karena berharap berkah, penyakitnya tersembuhkan atau keinginannya terkabul, silakan merasa bego dan mules-mules deh .. salam imron

