Sepenggal Nyanyian Hujan
-------------------------
Hari semakin malam, hujan tak berhenti juga sejak sore. Terkadang mereda
sebentar, tidak lama kemudian deras lagi, dan sesekali menyisakan gerimis meski
tak sudah jua.
Mencoba online dengan fasilitas IM2 seperti yang biasa saya lakukan hampir
setahun ini, nampaknya tak mau dipacu juga kecepatannya. Perlahan-lahan bisa
konek, lalu sesekali ngebut. Kalau hari hujan gini malah seringkali tiba-tiba
mbegegek, diam seribu basa, tak mau jalan. Tapi lumayan masih bisa membalas
email dan membuka Facebook.
Saya coba ganti ke pesawat Smart yang baru saya beli belum seminggu, masih bau
plastik dan masih mengkilat tampilannya. Rupanya tetap saja berkecepatan setara
genjotan sepeda onthel. Memang lebih stabil, ya… stabil alon-alon waton
kelakon. Dasar Punokawan..... Smart, Gareng, Petruk, Bagong (mbayar murah kok
minta bagus.....).
Yo wis, matikan laptop lalu pindah ke ruang tengah di depan pesawat televisi
yang sedang ditonton ibunya anak-anak. Sementara anak-anak sedang berada di
kamarnya masing-masing.
***
Agak jengkel juga saya. Ibunya anak-anak ini dari tadi nyetel sinetron sambil
tiduran (di ruang tengah rumah saya memang belum dibelikan meja-kursi, dan
sejak lebih empat tahun yang lalu masih juga belum). Maka sambil ikut-ikutan
lumah-lumah (berbaring) di sampng istri, di atas kambal warna merah yang dibeli
di Madinah, segera remote control saya kudeta, lalu saya matikan televisnya.
Serta-merta suasana malam berubah menjadi hening, tak lagi ada berisik suara
televisi melainkan suara hujan dan sayup-sayup guruh terdengar di kejauhan.
Sudah barang tentu istri saya protes keras. Lalu, berlagak bak seorang resi,
saya berkata lembut sambil mendesah.....
"Ssssst..., coba dengarkan bunyi hujan tok-tok-tok di teras depan.... (Lho, kok
bukan tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting? Ya, karena airnya menetes di
atas polikarbonat). Dan suara gemericik air di halaman belakang.... Kapan
terakhir kita sempat menikmati suara hujan dalam keheningan malam seperti
ini.....". Tanya saya meski sebenarnya saya tidak memerlukan jawaban.
Istri saya malah komplain memberitahu : "Tuh..., dengarkan atapnya bocor....".
Terdengar suara tek-tek-tek, air hujan yang lolos dari genting lalu jatuh ke
atas plafon gypsum.
Kembali bak seorang resi seolah tak hirau atas komplain istri saya tadi. saya
berkata lembut sambil mendesah....
"Ssssst....., terdengar seperti suara musik alam ya.....".
Lalu kata istri saya : "Musik opo..., wong genah bocor ngono...(musik apaan,
wong jelas-jelas bocor gitu...)".
"Apa sempat terpikir..., kenapa rumah bagus seperti ini kok atapnya bocor.
Pasti Tuhan punya maksud dengan mbocori atap rumah kita....", balas saya datar.
Dan malam pun terasa semakin hening, kecuali hanya bunyi hujan yang tak juga
kunjung reda.
"Coba kita renungkan pesan yang disampaikan oleh alam kepada kita....
Sekali waktu,
dengarkan, nikmati, hayati hingga lubuk hati yang paling dalam,
suara nyanyian alam di saat malam turun bersama titik-titik air hujan
yang menjatuhi atap polikarbonat, halaman belakang dan detak air yang menetes
di atas plafon....
Lalu perhatikan apa yang terjadi”.
Begitu kata saya kepada ibunya anak-anak yang masih terbaring di samping saya
yang adalah penggemar Mario Teguh.
Dan, istri saya yang dua hari lalu berulang tahun tapi saya lupa, pun menjawab
santai : "Yang terjadi ya rumah kita atapnya bocor.....!"
Yogyakarta, 17 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar