// Ganyong yang kadang gak kita manfaatkan ternyata bisa jadi pengganti bensin, 
mirip yang dulu pernah akan dicoba oleh salah satu warga KOL, mas Agus 
Kaliwungu Indah...pripun mas Agus perkembangane, kabar terakhirnya mas Agus 
sedang mengerjakan proyek kompor bioethanol Pak Siswono//

Bagi sebagian orang, rimpang ganyong (Canna edulis Ker) selama ini
dipandang sebelah mata sehingga kurang dibudidayakan. Rimpang yang
selama ini diketahui hanya sebagai makanan selingan atau tepung
pengganti tepung terigu, ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bakar alternatif pengganti minyak tanah dan bensin. Hal ini terungkap
setelah Tim Peneliti UGM mengembangkan produksi bio-ethanol dari
rimpang kana sebagai salah satu bahan bakar hidrogen. 


“Menarik dari ganyong, tanaman
ini belum banyak dibudidayakan dan punya potensi besar. Karena
mengandung zat pati yang cukup tinggi, gulanya cukup tinggi, sehingga
punya potensi untuk bahan bio-ethanol. Selain itu, tanaman itu mudah
tumbuh, toleran pada naungan, punya potensi yang cukup tinggi untuk
dibudidayakan,” kata Dr. Kumala Dewi, M.Sc., salah seorang anggota tim
peneliti dalam Pameran 25 Hasil Kegiatan Penelitian UGM dan Hi-Link
Project di Hotel Sheraton Yogyakarta, Selasa (4/3). 


Selain Kumala Dewi, peneliti
lain adalah Prof. Dra. Endang Sutariningsih Soetarto, M.Sc., Ph.D.,
keduanya merupakan dosen Fakultas Biologi UGM, serta Prof. Dra. Wega
Trisunaryanti, M.S., Ph.D. dari Fakultas MIPA UGM. Dalam penelitian tersebut,
produksi bio-ethanol dilakukan dengan cara memanfaatkan kadar pati di
dalam ganyong yang mencapai 15-20 persen. Kandungan pati kemudian
dirombak secara hidrolisis untuk menjadi ikatan yang lebih sederhana
melalui proses Liquefaction Saccharification. 


“Dengan ikatan yang lebih
sederhana, rantai glukosa yang lebih panjang, kita potong-potong
sehingga menjadi bentuk gula yang sederhana. Selanjutnya difermentasi
dengan bantuan khamir yang biasa dipakai sebagai ragi roti,” kata
perempuan kelahiran Magelang, 8 April 1966 ini. 
Berikutnya dilakukan fermentasi
selama 3-4 hari. Hasil fermentasi berupa alkohol. Namun, kadar alkohol
akan meningkat tajam selama berlangsung proses fermentasi hingga
mencapai 40 persen pada hari keeempat. Hasil fermentasi lalu
didestilasi untuk proses pemurnian. Dari destilasi pertama diperoleh
bio-ethanol dengan kadar 50-75 persen. Selanjutnya, dilakukan destilasi
ulang untuk memperoleh bio-ethanol dengan kadar di atas 90 persen. 


“Setelah itu bio-ethanol dapat
dimurnikan dengan menggunakan molecular sieves,” tutur Kumala Dewi
lebih lanjut. Dari penelitian ini, kualitas kadar bio-ethanol 98
persen dapat memenuhi standar bahan substitusi bensin. Konsentrasi
maksimum yang disarankan untuk pencampuran bio-ethanol 98 persen dengan
bensin adalah 10 persen.Disebutkan dalam penelitian
itu, satu kilogram (kg) ganyong dapat menghasilkan 120 cc bio-ethanol.
Artinya, diperlukan 7-8 kg ganyong untuk menghasilkan satu liter
bio-ethanol. Dengan kata lain, diperlukan perbandingan 8:1 untuk dapat
menghasilkan bio-ethanol berkadar 75 persen dan perbandingan 12:1 untuk
bioethanol berkadar 97-98 persen. 


Kumala Dewi bersama anggota tim
lainnya melakukan penelitian sejak Juli 2008 setelah mendapat dana
hibah dari Hi-Link. Ide untuk memanfaatkan ganyong diperolehnya tahun
1993. Kala itu ia tengah melakukan penelitian budidaya ganyong.“Di situ saya 
mendapatkan bahwa
ganyong mudah tumbuh dan pembentukan umbinya bisa dimanipulasi
sedemikian rupa sehingga produksi lebih banyak. Namun kan,
pemanfaatannya banyak yang belum tahu. Selain untuk pangan, karena
mengandung pati dan gula maka saya punya ide untuk mengembangkannya
sebagai bahan bio-ethanol,” jelas ibu tiga anak ini.
 Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/


      

Kirim email ke