Yth. Bpk Asrofi
Bisa saja pak untuk pengeloaan dan operasionalnya sudah saya serahkan 
seluruhnya  kepada team nya bpk Siswono saya hanya sekedar membantu 
mengaplikasikan teknologi yg saya punya punyai
untuk selnjutnya bpk bisa menghubungi langsung Manager operasionalnya 
bpk Ulil Albab di lokasi tempat  produksinya
tugas saya selanjutnya adalah mengemban amanat  APBI ( Assosiasi 
Pengusaha Bioetanol ) di Jakarta untuk ikut memberdayakan dan 
mengenalkan bahan bakar nabati ke wilayah Jawa Tengah.
dalam waktu dekat saya juga dipanggil ke Pekalongan untuk melakukan 
presentasi ttg bioethanol melalui Bupati ke masyarakat pengrajin batik 
yg sdh kesulitan mendapatkan minyak tanah sehingga para pembatik masih 
bisa berjalan apabila tdk mendapatkan pasokan minyak tanah.
salam hormat
agusmst
Xwungu kendal
ASROFI wrote:
>
> kami dari pegunungan sukorejo bisa urun ikut2 ga mas?
> misal stok bahan baku atau apa begitu
> atau stock tenaga kerja
>
> terimakaish
>
>
> Pada 6 Maret 2009 09:19, agusmst <[email protected] 
> <mailto:[email protected]>> menulis:
>
>     Apa kabar juga mas Ery
>     Berkat Doa semua Rekan KOL project pilot BioEthanol produksi nya sdh
>     berjalan lancar dan berlokasi di samping pabfrik es batu milik Bp.
>     Siswono di jalan Raya Sukarno -Hatta kendal .
>     untuk sementara untuk uji coba proses dan kemampuan kerja
>     peralatan dr
>     fermentasi sampai alat distilator nya masih di gunakan bahan baku
>     molases/limbah tetes dr pabrik gula
>     kemampuan peralatan sdh bagus mampu menghasilkan kadar sampai 92
>     -93 %
>     bioethanol
>     untuk peralatan pendukung pembuatan bioethanol dr umbi umbi an sdh
>     kami
>     rangkai di dalam proses tersebut
>     untuk bahan baku dr umbi diperlukan 1 tahapan proses lagi yaitu
>     mengubah
>     karbohidrat/ pati menjadi gula dgn bantuan ensym alfa dan gluco
>     amilase
>     akan kami coba secara bertahap dgn pelatihan-pelatihan agar teknologi
>     ini mampu diserap oleh masyarakat yg nantinya diharapkan mampu
>     mandiri
>     untuk membuat bioethanol dr umbi umbian sebagai bahan bakar
>     alternatif
>     pengganti gas dan minyak bumi
>     seperti yang pernah saya informasikan masih banyak umbi umbian yang
>     dianggap tidak bermanfaat di jadikan bahan baku bioethanol dan sangat
>     melimpah di daerah kaliwungu kendal dan sekitarnya
>     yang paling penting adalah analisa usaha dan biaya apakah umbi umbian
>     tersebut akan mempunyai nilai lebih atau tidak apabila kita
>     budidayakan
>     untuk bahan baku bioethanol.
>     masih perlu waktu dan perjuangan utk mensosialisasikan dan
>     memberdayakan
>     masyarakat dan potensi sekitar kita agar hasil bumi dan pertanian yg
>     dianggap tidak bermanfaat bisa di berdaykan secara maksimal.
>     salam hormat
>     agus mst
>     agrobisnis sukajaya
>     kaliwungu-kendal-jateng
>
>
>     ery wijaya wrote:
>     >
>     >
>     > // Ganyong yang kadang gak kita manfaatkan ternyata bisa jadi
>     > pengganti bensin, mirip yang dulu pernah akan dicoba oleh salah
>     > satu warga KOL, mas Agus Kaliwungu Indah...pripun mas Agus
>     > perkembangane, kabar terakhirnya mas Agus sedang mengerjakan
>     > proyek kompor bioethanol Pak Siswono//
>     >
>     > Bagi sebagian orang, rimpang ganyong (Canna edulis Ker) selama ini
>     > dipandang sebelah mata sehingga kurang dibudidayakan. Rimpang yang
>     > selama ini diketahui hanya sebagai makanan selingan atau tepung
>     > pengganti tepung terigu, ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai
>     > bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah dan bensin. Hal ini
>     > terungkap setelah Tim Peneliti UGM mengembangkan produksi
>     bio-ethanol
>     > dari rimpang kana sebagai salah satu bahan bakar hidrogen.
>     >
>     >
>     > “Menarik dari ganyong, tanaman ini belum banyak dibudidayakan dan
>     > punya potensi besar. Karena mengandung zat pati yang cukup tinggi,
>     > gulanya cukup tinggi, sehingga punya potensi untuk bahan
>     bio-ethanol.
>     > Selain itu, tanaman itu mudah tumbuh, toleran pada naungan, punya
>     > potensi yang cukup tinggi untuk dibudidayakan,” kata Dr. Kumala
>     Dewi,
>     > M.Sc., salah seorang anggota tim peneliti dalam Pameran 25 Hasil
>     > Kegiatan Penelitian UGM dan Hi-Link Project di Hotel Sheraton
>     > Yogyakarta, Selasa (4/3).
>     >
>     >
>     > Selain Kumala Dewi, peneliti lain adalah Prof. Dra. Endang
>     > Sutariningsih Soetarto, M.Sc., Ph.D., keduanya merupakan dosen
>     > Fakultas Biologi UGM, serta Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S.,
>     Ph.D.
>     > dari Fakultas MIPA UGM. Dalam penelitian tersebut, produksi
>     > bio-ethanol dilakukan dengan cara memanfaatkan kadar pati di dalam
>     > ganyong yang mencapai 15-20 persen. Kandungan pati kemudian
>     dirombak
>     > secara hidrolisis untuk menjadi ikatan yang lebih sederhana melalui
>     > proses Liquefaction Saccharification.
>     >
>     >
>     > “Dengan ikatan yang lebih sederhana, rantai glukosa yang lebih
>     > panjang, kita potong-potong sehingga menjadi bentuk gula yang
>     > sederhana. Selanjutnya difermentasi dengan bantuan khamir yang
>     biasa
>     > dipakai sebagai ragi roti,” kata perempuan kelahiran Magelang, 8
>     April
>     > 1966 ini.
>     >
>     > Berikutnya dilakukan fermentasi selama 3-4 hari. Hasil fermentasi
>     > berupa alkohol. Namun, kadar alkohol akan meningkat tajam selama
>     > berlangsung proses fermentasi hingga mencapai 40 persen pada hari
>     > keeempat. Hasil fermentasi lalu didestilasi untuk proses pemurnian.
>     > Dari destilasi pertama diperoleh bio-ethanol dengan kadar 50-75
>     > persen. Selanjutnya, dilakukan destilasi ulang untuk memperoleh
>     > bio-ethanol dengan kadar di atas 90 persen.
>     >
>     >
>     > “Setelah itu bio-ethanol dapat dimurnikan dengan menggunakan
>     molecular
>     > sieves,” tutur Kumala Dewi lebih lanjut. Dari penelitian ini,
>     > kualitas kadar bio-ethanol 98 persen dapat memenuhi standar bahan
>     > substitusi bensin. Konsentrasi maksimum yang disarankan untuk
>     > pencampuran bio-ethanol 98 persen dengan bensin adalah 10
>     > persen.Disebutkan dalam penelitian itu, satu kilogram (kg) ganyong
>     > dapat menghasilkan 120 cc bio-ethanol. Artinya, diperlukan 7-8 kg
>     > ganyong untuk menghasilkan satu liter bio-ethanol. Dengan kata
>     lain,
>     > diperlukan perbandingan 8:1 untuk dapat menghasilkan bio-ethanol
>     > berkadar 75 persen dan perbandingan 12:1 untuk bioethanol berkadar
>     > 97-98 persen.
>     >
>     >
>     > Kumala Dewi bersama anggota tim lainnya melakukan penelitian sejak
>     > Juli 2008 setelah mendapat dana hibah dari Hi-Link. Ide untuk
>     > memanfaatkan ganyong diperolehnya tahun 1993. Kala itu ia tengah
>     > melakukan penelitian budidaya ganyong.“Di situ saya mendapatkan
>     bahwa
>     > ganyong mudah tumbuh dan pembentukan umbinya bisa dimanipulasi
>     > sedemikian rupa sehingga produksi lebih banyak. Namun kan,
>     > pemanfaatannya banyak yang belum tahu. Selain untuk pangan, karena
>     > mengandung pati dan gula maka saya punya ide untuk mengembangkannya
>     > sebagai bahan bio-ethanol,” jelas ibu tiga anak ini.
>     >
>     > Salam,
>     >
>     >
>     > Ery Wijaya
>     > http://erywijaya.wordpress.com/
>     <http://erywijaya.wordpress.com/> <http://erywijaya.wordpress.com/
>     <http://erywijaya.wordpress.com/>>
>     >
>     > <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id>>
>     > <http://kamase.org <http://kamase.org>>
>     >
>     >
>     >
>
>
>
>
> -- 
> ASROFI
>
> Address : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta 
> Selatan
> Mobile  : +6281 311 661 479
> Phone : +6221 685 29 128
> Yahoo : asrofism
> G-Talk : [email protected] <mailto:[email protected]>
> Email : [email protected] <mailto:[email protected]>
> Blog : www.asrofi.web.id <http://www.asrofi.web.id>
> Office : www.sentraproperty.com <http://www.sentraproperty.com>
> 

Kirim email ke