Dua bulan kemarin, Palestina menjadi target invasi pasukan Israel.
Afganistan jadi target berikutnya. Sekarang Sudan menjadi objek utama.
Senarai rangkaian permusuhan ini seharusnya semakin mendewasakan umat ini,
menyadarkan adanya perang tak berkesudahan, serta kebencian yang mendalam
terhadap Umat Islam.

Antara Sudan Utara dan Selatan

Bukan tanpa tujuan putusan International Criminal Court (ICC) terhadap
Presiden Sudan. Putusan itu menyatakan Al-Basyir sebagai pelaku tindak
pelanggaran terhadap HAM dan pembantaian manusia secara tidak langsung di
Darfur. Putusan yang dikeluarkan pada Rabu, 4 Maret 2009 ini sebelumnya
pernah mencuat pada Senin, 14 Juli 2008. Dr. Abdul Aziz Kamil dalam sebuah
kajiannya di Majalah Al-Bayan (edisi Muharram 1426) menyatakan, bahwa
Inggris adalah negara pertama yang mengambil peran dalam penyebaran benih
konflik di Sudan Selatan. Sejak Inggris menguasai negeri penguasa sungai Nil
kedua setelah Mesir ini pada akhir abad ke-19, mereka telah menutup jalan
masuk dakwah Islam ke Sudan Selatan. Di saat yang sama, mereka melebarkan
sayap kristenisasi dengan membiarkan masuk para misionaris untuk menyebarkan
paham dan pengaruh Kristen. Setelah Sudan merdeka, usaha kristenisasi ini
tetap berlangsung dengan makmur.

Keadaan ini tetap berlangsung hingga kini. Malah terlihat ada indikasi yang
memperlihatkan dukungan pemerintah Sudan terhadap proses kristenisasi. Hal
ini antara lain terlihat dengan dihapusnya undang-undang tentang batas
penyebaran agama Kristen yang pernah ditetapkan pada masa pemerintahan
Ibrahim Abud (tahun 1957—1963). Undang-undang ini melarang adanya
pembangunan gereja baru di wilayah Sudan Selatan tanpa izin dari pemerintah.
Kebijakan ini untuk menghindari terjadinya konflik antar agama dan
pembangunan tempat peribadatan Kristen di wilayah umat Islam. Namun kemudian
ketentuan ini dihapus atas permintaan Paus Paulus II yang berkunjung ke
Sudan tahun 1994. Sehingga terbukalah peluang emas bagi pihak gereja untuk
menyebarkan agama Kristen di Sudan dengan seluas-luasnya, dan tetap berpusat
di Sudan Selatan.

Perang ideologi antara penduduk Sudan Selatan yang mayoritas Kristen dan
Sudan Utara yang sebagian besar Muslim mulai tersulut sejak saat itu.
Disamping itu, perbedaan ras juga memicu panasnya konflik; penduduk Sudan
Selatan didominasi oleh orang-orang Negro, sedangkan Sudan Utara banyak
dihuni oleh keturunan Arab. Kesempatan ini dimanfaatkan Zionis Yahudi untuk
mempertajam konflik dengan mengubah "topik konflik" dari agama dan ras
menjadi konflik politik dan militer.

Motif terselubung permainan strategi ini melihat besarnya potensi Sudan
untuk kepentingan Yahudi dalam mewujudkan angan mereka, mendirikan negara
Israel Raya. Sebagaimana apa yang dikatakan Golda Meir, Perdana Menteri
Israel ke-4 (1969-1974) bahwa, “Melemahkan negara-negara Arab sentral dan
menggerogoti kekuatannya adalah keharusan, demi melipatgandakan kekuatan
kita dan meningkatkan daya tahan kekebalan kita menghadapi musuh. Untuk itu
kita harus menggunakan segala cara, kadang kala menggunakan kekerasan,
diplomasi, atau dengan cara perang terselubung.”

Sudan Selatan dan Israel

Hubungan baik antara kelompok pemberontak di Sudan Selatan—yang ingin
memisahkan diri dari Sudan—dengan Israel, telah terbina lama sebelum John
Garank, pimpinan kaum pemberontak muncul ke pentas politik Sudan. Upaya
penguasaan Sudan telah dirintis Zionis Israel sejak tahun 50-an. Mereka
membina hubungan dengan penduduk Sudan Selatan dengan cara memberikan
bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar kepada penduduk di Sudan Selatan dan
sebagian di Sudan Utara. Pada tahun 60-an, Israel mulai melancarkan
provokasi kepada penduduk untuk melakukan pemberontakan. Tidak hanya itu,
mereka juga mempersenjatai penduduk Sudan Selatan dengan berbagai
persenjataan militer dan mendirikan akademi militer untuk para pemuda Sudan
di Ethiopia, Uganda, dan Kenya. Bahkan tentara dan perwira Israel mendirikan
karantina khusus untuk melatih pemuda-pemuda Sudan, dengan mengambil tempat
di dalam negeri Sudan.

Pada pertengahan tahun 70-an, Zionis Israel menambah pasokan senjata untuk
tentara Sudan yang kemudian mereka gunakan untuk membantai kaum Muslimin di
sana. Mendekati paruh tahun 80-an, terbentuklah pasukan tentara Sudan
keluaran akademi militer Israel. Sepanjang tahun 80-an ini, negara-negara
tetangga, seperti Kenya dan Uganda, turut memberikan andil politik dalam
mengokohkan kepemimpinan John Garank di Sudan Selatan. Tahun 90-an, tentara
Israel kembali menambah perangkat senjata militer modern untuk kepentingan
perang. Genderang perang pun semakin kencang terdengar sejak saat itu.
Suaranya membahana ke seluruh penjuru dunia. Amru Musa, sekjend Liga Arab
pasca agresi AS ke Irak menegaskan, bahwa kondisi Irak pasca Saddam tidak
lebih parah daripada kondisi yang akan dihadapi Sudan mendatang. Dan benar,
tak lama setelah itu meletuslah tragedi Darfur di Sudan Barat.

Pengkotak-kotakan negara Arab oleh Zionis Israel merambah jauh ke dalam
negeri Sudan. Pemberontakan demi pemberontakan yang terjadi hanya sebagai
langkah awal untuk menjadikan Sudan terpecah-belah, dan pada gilirannya
tentu berpengaruh kepada kondisi negara-negara Arab di Timur Tengah.
Perjanjian damai yang terjadi kemudian tidak menjadi indikasi bahwa negara
Sudan akan kembali bersatu. Justru dari sinilah perpecahan itu dimulai.

Negara Sudan Selatan

Perjanjian yang diadakan pada hari Ahad, 28 Dzulqa'dah 1425/9 Januari 2005,
antara pemerintah Sudan dengan Sudan People’s Liberation Army (SPLA) yang
dipimpin oleh Dr. John Garank, telah menyepakati adanya referendum gencatan
senjata antar kedua belah pihak, memberikan kesempatan otonomi daerah kepada
pihak Sudan Selatan untuk menjalankan pemerintahan sendiri selama enam tahun
(2005-2011). John Garank sendiri diangkat menjadi wakil presiden pertama
Sudan dan memegang kepemimpinan tertinggi di Sudan Selatan yang mencakup
seperempat wilayah negeri.

Jangka waktu enam tahun ini bisa menjadi kesempatan emas bagi kaum
pemberontak untuk melebarkan sayapnya. Dalam rentang waktu ini mereka bebas
mengeruk kekayaan alam dan gas bumi yang berada di Sudan Selatan tanpa ada
campur tangan dari pemerintah. Enam tahun adalah waktu yang sangat panjang
untuk mempersiapkan segala sesuatu di bidang militer, ekonomi, sosial,
politik internasional, dan bidang lainnya. Mereka pun dapat menghantam dan
menyudutkan pemerintah Sudan di mata dunia dengan menyebarkan berbagai opini
dan isu atas bantuan AS dan Israel. Sehingga ketika masa enam tahun
terlewati, Dr. Abdul Aziz memprediksikan kelompok pemberontak di Sudan
Selatan tidak akan memberikan wilayah Sudan Selatan kepada pemerintah, namun
justru akan balik menyerang dengan segala kekuatan milter yang dimilikinya
bersama sekutunya.

Berdirinya sebuah negara yang berasaskan Islam merupakan ancaman besar.
Sosok Presiden Al-Basyir membuat AS takut. Apalagi dengan adanya keinginan
untuk menerapkan Syariat Islam di sana. Mereka ingin merebut Sudan dan
menggusur Al-Basyir yang punya komitmen keislaman kuat, hapal Al-Quran,
mendapat dukungan besar dari rakyat, dan diterima di kalangan ulama baik di
Sudan maupun di luar Sudan. Ia juga menjadi penghalang dalam mewujudkan
keinginan AS untuk memecah Sudan menjadi negara-negara kecil. Maka
rongrongan dari dalam terus dijalankan. Konflik dalam negeri terus ditabuh,
demi terwujudnya kepentingan berdirinya negara baru di Sudan Selatan dalam
tiga tahun terakhir ini. Al-Basyir harus kuat dan perlu dukungan dari
seluruh umat islam. Jika tidak, negara baru Selatan Sudan itu akan terwujud.
Wallahul Musta’an.

(Dimuat di situs warna
islam.com<http://www.warnaislam.com/rubrik/sinai/2009/3/13/1620/Menanti_Negara_Sudan_Selatan.htm>
)


-- 
ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3: Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com

Kirim email ke