Masing-masing agama mempunyai kitab suci yang berbeda. Tulisan ini bukan 
mengupas isi atau perbedaannya, namun sedikit mengamati fenomena perilaku umat 
terhadap kita sucinya. Ternyata, sangat beragam!
 
Ada yang menjadikan kitab sucinya menjadi benda yang "sekedar punya" sehingga 
entah tersimpan dimana, entah lupa belinya kapan, dan entah kapan terakhir 
membukanya. Yang jelas kitab suci itu bagai koleksi benda kuno nan usang yang 
sudah tidak tersentuh tangan lagi. Kena debu? sudah pasti. Tapi anehnya tidak 
sedikit diantara mereka yang masih cukup 'lumayan' punya semangat beragama, 
yaitu dengan memajang hiasan dinding yang menjadi trend merk agamanya.
 
Ada lagi yang demikian tinggi mensakralkan kitab sucinya. Sehingga apabila 
tidak dalam keadaan yang benar-benar suci, dia tidak berani untuk menyentuh 
kitab sucinya itu. Sampai-sampai untuk memindahkan benda itu dari tempat satu 
ke tempat lain perlu meminta tolong orang lain yang dianggap suci.
Ada juga perilaku yang memberikan penghormatan pada artikel-leaflet yang 
mencantumkan beberapa ayat dalam suatu kitab suci, dengan cara menyimpannya dan 
menganggap benda publikasi ini sebagaimana layaknya kitab sucinya.
 
Pemahaman kalimat "hanya orang suci yang boleh menyentuh kitab suci itu" paling 
tidak ada dua makna. Makna pertama, kesucian dipandang dari segi kebersihan 
fisik, misalnya sudah mandi, tangan tidak kotor, dan sudah bersuci (wudhu, 
mandi junub, dll.). Sehingga pemaknaan kata 'menyentuh' diartikan sebagai 
tangan yang menyentuh kitab itu. Namun pikiran 'usil' kadang bertanya, bagian 
mana yang benar-benar tidak boleh disentuh? kitab seperti layaknya buku cetakan 
umumnya terdiri dari sampul plastik, cover, kata pengantar, tepi kertas tanpa 
ada tulisan, atau yang ada tulisannya.
Pikiran usil ini jika dilontarkan pada penganut makna pertama jelas akan 
membuat sewot plus aura ketidaksukaan.
Makna kedua, kesucian dipandang dari segi kebersihan hatinya. Maknanya, hanya 
orang-orang yang berhati bersih/suci saja yang dapat memahami dan menerima 
makna yang terkandung dalam isi kita suci tadi. Orang boleh saya hafal akan 
bunyi ayat-ayat kitab sucinya, tetapi apabila hatinya tidak bersih, maka 
hafalan itu hanya sebatas di mulut saja.
Mungkin pemahaman kedua ini lebih bisa diterima, tadi kadang agak cenderung 
meremehkan penganut makna pertama di atas. Sehingga dalam tindakannya sering 
kurang memberikan penghormatan pada kitab suci secara fisik.
 
Bagaimana dengan sikap anda?
 
Lain lagi cerita ketika kitab suci menjadi pustaka. Yah, ada segelintir orang 
yang karena terlalu pintar dan terlalu banyaknya buku yang dia baca, sehingga 
lengah, dengan menganggap kitab suci seperti layaknya pustaka yang lain, yang 
bisa berdalil kuat saat ini tetapi bisa tidak kuat lagi manakala ada pustaka 
baru yang lebih baik.
Mereka ini biasanya merupakan ilmuwan yang kutu buku, yang terkadang menganut 
100% logika untuk mengupas segala hal di dunia ini. Mereka kadang sangat anti 
dengan hal-hal yang tidak bisa diterima dengan logika. Padahal logika manusia 
sangatlah terbatas. Manusia yang mana? mungkin manusia jaman Majapahit merasa 
paling modern, tapi manusia sekarang menganggap paling modern saat ini. 
Artinya, logika dan ke-modern-an manusia sangat relatif tergantung jamannya.
Tapi, jika ada kitab suci yang dicetak menurut 'edisi', maka wajar jika 
kemudian berubah menjadi seperti pustaka pada umumnya. Maksudnya, bisa saja 
suatu kitab suci seiring waktu dicetak beberapa kali dan isinya mengalami 
revisi atau perubahan. Walaupun yang merubah mungkin adalah kumpulan para orang 
suci di penganut agama itu.
Jadi, ada kitab dianggap suci karena diyakini berasal dari Tuhan.
Ada pula kitab dianggap suci karena diyakini berasal dari Tuhan dan direvisi 
orang suci.
Ada pula kitab yang dianggap suci karena dibuat orang yang mengaku suci dan 
mendapat wangsit dari Tuhan.
 
Yang jelas, Suci itu bukan nama orangnya 
 
Bagaimana dengan anda?
 
 
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke