Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu
--------------------------------------------- 

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk 
menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah 
satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. 
Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin 
yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika. 

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood 
"Surabaya" sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir 
kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini 
lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh 
angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan 
milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang 
sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala "DS" jika terdaftar di 
kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim 
digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang 
diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran 
setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan 
murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian...), plus agak deg-degan karena 
biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda 
motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa 
ngebut sendiri.... Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah 
membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

*** 

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa 
Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik 
hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan 
mengomandonya untuk menuju ke warung seafood "Surabaya". Ongkos ojek dari Base 
Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali 
jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah.... Semua 
pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya 
bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang 
ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu 
agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram 
lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan 
penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, 
biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna 
kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat 
semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang 
diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas 
tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari 
"kekeliruan" jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan 
berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop 
ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu 
dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang 
maksudnya : "Naik ojek, pak?". Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan 
di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang 
ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya 
untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya 
hanya berkata pendek : "Kembaliannya untuk bapak saja...". Kalimat pendek itu 
rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari 
Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di 
depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri 
saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan 
tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

*** 

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada 
seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi 
dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi 
sedikit "surprise" yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah 
penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa 
rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. 
Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya. 

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar 
ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 
1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : "Tolong yang seribu lima 
ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak...". "Nggih, 
pak...", jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir 
di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu 
benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin 
berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang 
ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya 
hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai 
pesan kepada penjual tiket tol : "Sisanya untuk mobil di belakang saya ya...".

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk 
wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada 
"surprise-surprise" kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu 
terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. 
Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh 
kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan "bisnis memberi", entah sebagai 
penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai 
tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu 
saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat. 

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke