samsul ulum

Tropical Forest Trust

wildlife specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tropicalforesttrust.com

--- On Sun, 4/12/09, Hartono Prabowo <[email protected]> wrote:

From: Hartono Prabowo <[email protected]>
Subject: [tft-indonesia] FW: Deklarasi biochar
To: [email protected]
Date: Sunday, April 12, 2009, 7:25 PM











    
            
            


      
      







Dear all, 

   

Sekedar bacaan tentang biochar untuk diketahui. 

   

Salam, 

Hap 

   





From: Carolyn Marr
[mailto:dte@ gn.apc.org] 

Sent: 07 April 2009 20:28

To: [email protected]

Subject: Deklarasi biochar 





   

Biochar, ancaman baru yang sangat berbahaya bagi manusia,
tanah dan ekosistem 

  

Jauhkan ‘biochar’ dan tanah dari perdagangan
karbon 

 

Waspadai usulan penggunaan arang dalam tanah secara besar-besaran untuk
mitigasi perubahan iklim dan reklamasi tanah 



Maret, 2009.



Penambahan arang (‘biochar’) ke dalam tanah diusulkan sebagai
strategi untuk 'mitigasi perubahan iklim' dan sebagai alat untuk memperbaiki
tanah yang mengalami degradasi. Bahkan ada yang mengklaim bahwa biochar dapat
menyerap sedemikian banyak karbon sehingga bumi dapat berada dalam kondisi
dengan tingkat karbon dioksida kembali seperti di masa pra-industri, yaitu
semua pemanasan global yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan
perusakan ekosistem dapat dipulihkan. Produksi arang secara besar-besaran
seperti itu akan memerlukan ratusan juta hektare lahan untuk menghasilkan
biomas (kemungkinan besar terutama perkebunan pohon). Ini adalah usaha untuk
memanipulasi biosfer dan penggunaan lahan secara besar-besaran untuk mengubah
iklim global, yang membuatnya menjadi semacam ‘geo-engineering’.


 

Seperti yang tampak jelas dari bahaya agrofuel yang terungkap, konversi tanah
yang sedemikian besar itu merupakan ancaman besar bagi keanekaragaman hayati
dan ekosistem yang memainkan peran penting dalam menstabilkan dan mengatur
iklim dan diperlukan untuk memastikan ketahanan pangan dan air. Ini mengancam
penghidupan banyak orang, termasuk masyarakat adat. 

 

Biochar dan agrofuel terkait erat: arang adalah produk sampingan dari suatu
jenis produksi bioenergi yang dapat juga digunakan untuk membuat agrofuel
generasi kedua, yaitu agrofuel cair dari kayu,  jerami, ampas tebu kering
(bagas), ampas inti sawit dan jenis biomasa padat lainnya.

 

Sebelas pemerintah negara di Afrika telah menyerukan dimasukkannya tanah
pertanian secara umum dan biochar secara khusus dalam perdagangan karbon. Hal
ini menandakan bahwa mereka berusaha meningkatkan “pendanaan sektor
swasta” (dan sebagai implikasinya kendali perusahaan) atas daerah
pedesaan di Selatan, dan untuk mengaitkannya dengan proposal dimasukkannya
hutan dalam perdagangan karbon (yaitu mekanisme bagi Pengurangan Emisi dari
Deforestasi dan Degradasi atau REDD yang tengah dinegosiasikan sekarang ini).
Proposal REDD itu mendapat tentangan karena usulan itu mengkomersialkan
ekosistem hutan dengan implikasi besar terhadap masyarakat adat dan
keanekaragaman hayati. Dimasukkannya tanah dalam mekanisme itu nantinya akan
menimbulkan dampak serius. 

 

Proposal bagi ‘mitigasi perubahan iklim’ melalui pemakaian
‘biochar’  secara besar-besaran merupakan bentuk berbahaya
dari geo-engineering berdasarkan klaim yang tak berdasar. 

 

Kelompok pelobi (International Biochar Initiative) yang sebagian besar terdiri
dari perusahaan yang baru mulai bergerak di bidang biochar dan agrofuel serta
akademisi, banyak diantaranya memiliki minat komersial, berada di balik usaha
untuk mendorong pemakaian ‘biochar’.  Klaim mereka yang sangat
berani itu tak didasari oleh pemahaman ilmiah. 

 

+ Belum diketahui apakah arang dalam tanah memang merupakan ‘penyerap
karbon’ (carbon sink). Arang industri sangat berbeda dengan Terra Preta,
tanah kaya karbon yang amat subur yang ditemukan di Amazon Tengah, yang
diciptakan oleh masyarakat adat ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. 
Perusahaan
‘biochar’ dan peneliti belum berhasil membuat Terra Preta.

 

+ Pendukung biochar mempromosikan ‘target’ yang akan perlu
menggunakan 500 juta hektare lahan atau lebih untuk memproduksi arang dan
energi. Industri perkebunan monokultur dari pohon yang cepat tumbuh dan tanaman
pemasok lain untuk industri bubur kertas dan kertas dan untuk agrofuel sudah
menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang parah sehingga memperburuk
perubahan iklim. Tuntutan lahan baru yang teramat besar untuk biochar akan
sangat membuat masalah ini menjadi kian parah. 

 

+ Ada resiko bahwa biochar di masa mendatang dapat digunakan untuk
mempromosikan pengembangan varietas tanaman rekayasa genetika (GE) yang
direkayasa secara khusus untuk menghasilkan biochar atau untuk memperluas jenis
tanaman yang cepat tumbuh, yang keduanya dapat memberi dampak ekologi serius. 

 

+ Tak ada bukti yang konsisten bahwa arang betul-betul dapat membuat tanah
lebih subur. Produksi arang industri dengan mengorbankan zat organik yang
diperlukan untuk membuat humus bisa memberikan hasil yang sebaliknya. 

 

+ Campuran arang dan pupuk berbasis bahan bakar fosil yang dibuat melalui
pemberusan/scrubbin g gas buang pabrik pembangkit listrik tenaga batubara tengah
dipromosikan sebagai ‘biochar’, dan itu akan membantu mengabadikan
pembakaran bahan bakar fosil dan juga emisi nitrus oksida (N20), gas rumah kaca
yang berbahaya.

 

+ Proses pembuatan arang dan energi (pirolisis) dapat menghasilkan polusi tanah
dan udara yang berbahaya. 

 

Mengubah tanah menjadi komoditas menguntungkan industri tapi sangat
merugikan masyarakat miskin

 

Ada yang sudah mendaftarkan paten untuk penggunaan arang dalam tanah dan untuk
proses pirolisis dengan produksi arang. Jika disetujui, dapat dipastikan bahwa
keuntungan dari teknologi itu nantinya akan dinikmati oleh perusahaan, bukan
masyarakat. Mengingat bahwa yang berhasil mengembangkan strategi atas campuran
arang dengan biomas yang beragam dalam tanah adalah masyarakat adat, soal
pematenan ‘biochar’ ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam
mengenai pembajakan pengetahuan tradisional atas sumber daya hayati (biopiracy).
Dimasukkannya tanah dalam pasar karbon, seperti halnya dimasukkannya hutan
dalam perdagangan karbon akan  meningkatkan kendali perusahaan atas sumber
daya penting dan tersingkirnya petani kecil, masyarakat pedesaan dan masyarakat
adat. 

 

Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) telah melanggengkan, bukannya mengurangi
pembakaran bahan bakar fosil dengan mengijinkan industri untuk membeli
“hak untuk mencemari” dan makin menunda perubahan sosial dan
ekonomi yang penting untuk mengatasi perubahan iklim. Dampak pembakaran bahan
bakar fosil terhadap iklim tak dapat dipulihkan, dan apa yang disebut sebagai
‘tanah penyerap karbon’ sangatlah tidak pasti dan hanya bersifat
sementara. 

 

Kami sangat menentang dimasukkannya tanah dalam perdagangan karbon dan
mekanisme 

perimbangan (offset), termasuk dalam Mekanisme Pembangunan Bersih. 

 

Pertanian agro-ekologi skala kecil dan perlindungan terhadap ekosistem alamiah
merupakan jalan yang efektif untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Alternatif yang sudah terbukti inilah yang harus didukung, bukannya teknologi
yang berbahaya serta tak berdasar yang dipromosikan dengan kepentingan
komersial. Masyarakat adat dan petani telah mengembangkan berbagai cara untuk
merawat tanah dan keanekaragaman hayati, dan hidup berkelanjutan. Metode yang
disesuaikan dengan kebiasaan dan budaya setempat ini tergantung akan iklim,
tanah, palawija dan kenekaragaman hayati dalam suatu wilayah. Usaha untuk
mengkomersialkan tanah dan melakukan pendekatan “satu untuk semua”
terhadap tanah dan pertanian dapat berakibat buruk pada penggunaan pengetahuan
dan keanekaragaman ini, dan merongrong serta menghancurkannya justru pada saat
sangat dibutuhkan. 

 

 

Tanda Tangan: - lihat http://www.regenwal d.org/internatio nal/englisch/ 
news.php? id=1226

Kalau anda ingin menandatangani deklarasi ini mohon menghubungi 
biochar_concerns@ yahoo.co. uk

 



 

CATATAN LATAR BELAKANG

 

Biochar adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan arang (biasanya
arang berserbuk halus) yang ditambahkan pada tanah. Biochar dihasilkan melalui
proses yang disebut pirolisis biomasa.  Ini dilakukan dengan memaparkan
biomasa pada temperatur tinggi tanpa adanya oksigen. Proses ini menghasilkan
dua jenis bahan bakar (syngas atau gas sintetik dan bio-oil atau minyak nabati)
dan juga arang sebagai produk sampingan.

 

Pendukung biochar mengklaim bahwa biomasa yang mereka gunakan tidak mengandung
karbon – klaim yang mengabaikan fakta bahwa biomasa ini sebagian besar
berasal dari pertanian indusri dan perkebunan, yang banyak berhubungan dengan
emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi akibat hilangnya karbon tanah organik,
perusakan tumbuh-tumbuhan alami, energi dan penggunaan pupuk sintetis. Mereka
selanjutnya mengklaim bahwa karbon yang tersimpan dalam arang (biasanya 20-50%
dari karbon yang semula berada dalam biomasa) akan tetap berada di sana 
selamanya,
apabila arang itu ditambahkan ke tanah,  dan ini akan menghasilkan proses
‘negatif karbon’, sehingga dapat mengurangi konsentrasi karbon
dioksida dalam atmosfer. Mereka juga mengklaim bahwa penambahan arang akan
membuat tanah menjadi subur selamanya. Semua klaim itu menimbulkan tanda tanya
besar dan tak ada satupun yang terbukti secara ilmiah.  

 

1) Apakah arang dapat menjadi ‘penyerap karbon’?

 

Pendukung ‘biochar’  mengatakan bahwa arang industri dapat
dibandingkan dengan Terra Preta, tanah teramat subur dan kaya karbon yang
ditemukan di Amazon Tengah, yang diciptakan oleh masyarakat adat selama ratusan
bahkan ribuan tahun silam melalui penggunaan arang yang dipadukan dengan
biomasa yang sangat beragam. Keberhasilan Terra Preta ini belum dapat ditiru. 
Biochar
modern sangat bervariasi dan hasilnya sangat beragam tergantung jenis tanah,
jenis materi yang digunakan untuk membuat arang, dan faktor-faktor lain. Dalam
beberapa kasus, penambahan arang telah dilakukan untuk meningkatkan hilangnya
karbon tanah dengan merangsang penguraian zat organik non-arang oleh mikroba.
Sebagian mikroba juga dapat mengurai arang. Meskipun ada arang yang tetap
tinggal dalam tanah dalam waktu lama, tapi tak selamanya seperti itu. Tak ada
(bahkan secuilpun) pengkajian jangka panjang atas biochar modern.  Dampak
pengolahan lahan tanah yang luas untuk membentuk biochar juga belum diketahui.
Biochar di permukaan atau di dekat permukaan tanah dapat meningkatkan
‘jelaga hitam’ di atmosfer, yang merupakan penyumbang terbesar bagi
pemanasan global. Untuk menghindarinya, arang ini perlu ditanam jauh di dalam
tanah. Tapi pengolahan ini akan mengganggu dan mengubah struktur tanah dan
menyebabkan lepasnya sejumlah besar CO2 ke atmosfer.  Klaim bahwa biochar
dalam tanah merupakan “penyerap karbon yang permanen” salah
besar.  

 

2) Apa dampak yang kemungkinan besar akan terjadi jika jumlah stok umpan 
(feedstock)
untuk biochar terus meningkat sebagai strategi geo-engineering iklim? 

 

Pendukung biochar menyarankan dikembangkannya perkebunan besar (sedikitnya 500
juta hektar) palawija dan tanaman yang cepat tumbuh  untuk konversi arang.
Seperti yang tampak dari dampak yang membawa malapetaka dari penggunaan
perkebunan industri untuk bubur kertas dan kertas serta agrofuel, konversi
tanah dalam skala ini merupakan ancaman besar bagi keanekaragaman hayati dan
ekosistem, membuat masyarakat tergusur, mengganggu produksi pangan dan
menurunkan kualitas tanah dan sumber daya air tawar. Usulan penggunaan
“residu pertanian dan kehutanan” didasarkan atas asesmen yang tidak
realistis mengenai ketersediaan bahan-bahan tersebut, yang jika disingkirkan
menghilangkan gizi dan zat organik dari tanah, mendorong terjadinya erosi dan
mengurangi habitat kritis untuk keanekaragaman hayati. . 

 

3) Apakah dampak penambahan arang atas tanah? 

 

Pendukung ‘biochar’ mengklaim bahwa ini akan menyuburkan tanah,
mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia dan meningkatkan penyerapan air. Tetapi
pengkajian yang tak banyak jumlahnya menunjukkan hasil yang beragam, termasuk,
dalam beberapa kasus justru kebalikannya, yaitu, turunnya produktivitas.
Lagi-lagi, tak ada pengkajian jangka panjang. Nyatanya, banyak dari riset dan
pengembangan ‘biochar’ berfokus pada arang yang dikombinasikan
dengan pupuk sintetis, dan arang yang “ditingkatkan” dengan gas
buang hasil yang “digaruk” dari pabrik pembangkit tenaga listrik
berbahan bakar batu bara (amonium bikarbonat). 

 

Dampak penggunaan biochar secara besar-besaran dan gangguan mekanis saat
biochar diolah dalam tanah terhadap keanekaragaman mikrobial tanah tak
diketahui, tetapi menjadi sangat mengkhawatirkan karena skala yang sedemikian
besar. 

 

4) Apakah dampak lain yang perlu dipikirkan? 

 

Pirolisis dapat menimbulkan pencemaran udara dan emisi partikel diketahui
memiliki dampak serius terhadap kesehatan manusia. Sedangkan dalam pembakaran
konvensional, racun yang terkandung dalam stok umpan (feedstock) lepas
ke udara atau tertahan dalam debu atau arang. Sebagian perusahaan biochar sudah
menggunakan berbagai macam “limbah” yang dapat mencakup kayu yang
sudah diolah, residu palawija yang sudah disemprot dengan bahan kimia untuk
pertanian, plastik, ban bekas atau batu bara yang tercampur dengan biomasa
lain. Dampak penambahan sejumlah besar arang yang potensial mengandung racun ke
dalam tanah haruslah diperhitungkan, demkian juga halnya dengan emisi udara
dari pirolisis.

 

Rangkuman:

 

Dalam menghadapi ketidakpastian ilmiah yang besar, dukungan kebijakan
terhadap komersialisasi dan peningkatan teknologi ini sangatlah berbahaya dan
tak dapat dibenarkan. Ada risiko untuk membuat perubahan iklim menjadi lebih
parah ketimbang menguranginya, kalau terjadi emisi dari perubahan penggunaan
lahan, dari gangguan terhadap tanah, atau dari lepasnya karbon tanah atau
karbon “biochar” yang tak terduga. 

 

Untuk informasi lebih lanjut serta referensi, harap lihat “Biochar for
Climate Change Mitigation: Fact of Fiction?”, Almuth Ernsting and Rachel
Smolker, www.biofuelwatch. org.uk/docs/ biocharbriefing. pdf


 

[Diterjemahkan oleh Down to Earth: http://dte.gn. apc.org] 







 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke