Pahala Betebaran Di Pasar
--------------------------

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, 
belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan 
berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. 
Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan 
yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja 
saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai 
cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu 
ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama....).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata 
masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal 
sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang 
ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di 
Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan 
kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya 
bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

*** 

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan 
untuk mampir ke "Shopping". "Shopping" adalah sebutan salah kaprah bagi warga 
Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah 
karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan 
hidup ataupun sekedar jalan-jalan. "Shopping" adalah sebuah tempat semacam 
pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke "Shopping" sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. 
Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa 
kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa 
coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh..., permintaan yang rada susah. Telanjur 
saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua 
pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung 
dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya 
kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan..., ya salah 
sendiri kok dibaca...). Akhirnya saya temukan juga coklat merk "Dove" buatan 
Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan 
dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama. 

Ee... ndilalah, di pasar "Shopping" itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah 
seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir 
kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar "Shopping". 
Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan 
Tembagapura. 

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua 
jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika 
sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan 
masuk ke pasar tradisional "Swadaya" di tengah kota Timika. Suasana pasar masih 
tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa 
yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera 
terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee... ndilalah lagi, di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara 
panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya 
yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar 
Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus. 

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi 
ini bukti bekerjanya "law of attraction", atau wujud dari rahasianya "the 
Secrets", atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang 
sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan 
saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? 
Kejadiannya, mungkin "Iya". Tapi hakekatnya tentu saja "Tidak". Karena di dunia 
ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi 
yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk 
dalam skenario Tuhan juga.   

*** 

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih 
pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya 
saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin...). Wong namanya pasar, adalah 
tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau 
jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang 
melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu'amalah, bersosialisasi, yang baik maupun 
yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang 
bisa dikunjungi seperti pasar "Shopping" yang moderen atau pasar tradisional 
yang becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, 
perniagaan nyata maupun maya. 

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan 
saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di 
pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling 
strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau 
dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau 
keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat. 

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow... "enak 
sekali" tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena 
relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar?, 
peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah 
tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, 
kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka 
baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih 
berganti. 

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan 
(kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak 
biasa...), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau 
mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau 
koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung 
pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan 
telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita 
ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah 
berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke