Saya setuju, makanya jangan sampai pendidikan bahasa daerah di SD dihapuskan 
kalau bisa malah ditingkatkan kwalitasnya dan kwantitasnya, begitu juga 
daerah-daerah lainnya sehingga menjadi suatu kekayaan budaya bangsa Indonesia 
yang bisa dibanggakan.




________________________________
From: muhamad kundarto <[email protected]>
To: [email protected]; milist pty <[email protected]>; 
milist alumni <[email protected]>; kendal online 
<[email protected]>; rori channel <[email protected]>; 
avie kusnadi <[email protected]>; endah bappeda <[email protected]>; 
Didin Sastrapradja <[email protected]>; Arie Budiman <[email protected]>; 
budihartono uni <[email protected]>; sri hudyastuti <[email protected]>; 
sri staf KLH <[email protected]>; Arief Yuwono <[email protected]>
Sent: Tuesday, June 2, 2009 10:02:20 AM
Subject: [kendal-online] Mari belajar bhs Jawa





Laboratorium Bahasa, harusnya meng-cover juga bahasa daerah kita yang hampir 
almarhum.
Kenapa? banyak orang tua yang mencetak lidah anak-anaknya sejak balita dengan 
komunikasi bahasa indonesia, bahkan bahasa asing. Rasanya bangga dipanggil 
papa-mama, daripada pak`e-mak`e atau bapak-ibu... .
Tanpa kita sadari pula, kosa kata bahasa jawa, khususnya kromo dan kromo 
inggil, sudah hampir punah dalam per-lidah-an anak didik kita. Yang tersisa 
tinggal bahasa ngoko, sehingga jangan kaget ketika seorang anak memanggil orang 
tuanya dengan "kowe".

Tentu orang tua mengajari anaknya dengan bahasa nasional dan bahasa negara 
lain, ada motivasinya. Mungkin biar gak gemes lihat generasi tua, sudah belajar 
bahasa inggris 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, 1 tahun di Universitas, bahkan 
sudah plus kursus berkali-kali, tapi kok ya hasilnya tetap lemot....... 
(minimal terbukti pada aku-nya hehehe)
Sebagai pemikir, banyak yang mencari "kenapa bisa begitu". maybe.... kurang 
latihan, kurang berani, dll. apapun, hasilnya tetap belum memuaskan... ..
Bahkan yang sudah mengenyam sekolah di luar negeri pun, kadang setelah sekian 
tahun tidak dipake, kembali ke "kemampuan dasar"......

Kenapa masih perlu bahasa jawa?
Kita tidak sadar bahwa bahasa jawa adalah koleksi kekayaan bangsa yang bernilai 
sangat tinggi. Betapa dalam bahasa jawa ini mengenal banyak strata, dari ngoko, 
kromo, kromo inggil, sampai bahasa kawi (kayaknya mirip yang dipake dalam 
pedalangan/pewayang an).
Mungkin kita baru terasa 'belepotan' ketika harus bertamu di desa-desa yang 
masih memakai bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi resmi. Atau... saat kita 
harus mendalang (baca: menyuluh) dua jam di hadapan mereka. Atau... kita harus 
menyambut dengan bahasa jawa di sebuah pertemuan... .

Apakah kalau memakai bahasa jawa dalam pertemuan ilmiah, dianggap tidak ilmiah?

Kata seorang Antropolog, tingginya peradaban suatu kaum dapat dilihat dari kosa 
kata yang makin bervariasi untuk menunjuk pada aktifitas yang hampir sama. 
Misalnya kata "jatuh", dalam bahasa jawa sebutannya bervariasi seperti : tibo, 
kejlungup, dawah, kekabruk, kepleset,... .
Kata "kamu/kau" anonim dengan : kowe, sampeyan, panjenengan, siro... dlsb-nya

Lha kita ini sudah termasuk mempunyai peradaban yang tinggi, kok malah memilih 
menuju ke peradaban yang rendah?

Mungkin himbauan ini terkesan 'jadul' banget, tapi paling tidak ini bisa jadi 
pengingat, jangan sampai kita merasa tidak punya bahasa jawa dan tidak mau 
memeliharanya, tapi manakala hilang dari peredaran, dengan mudah kita akan 
saling menyalahkan. Atau heboh lagi kalau budaya jawa ini satu-persatu di klaim 
oleh negara lain sebagai miliknya.

Urip iku isine mung sawang sinawang,
Ojo isane mung nyawang,
Kudune katon pantes yen disawang,
Saking lahir lumantos batin,
Saking pasuryan ngantos lelampahanipun. ....

Ki Asmoro Jiwo
 




      

Kirim email ke