Mungkin karena tidak punya atau kehilangan cermin, maka kebingungan 
kesana-kemari mencari muka. Kata mencari, lebih diartikan mata sebagai tolok 
ukur pencarian. Lha padalah mata kita dikontruksi untuk memandang wajah orang 
lain, bukan diri sendiri.
Untuk memandang diri sendiri, tidak hanya sekedar dengan mata, walaupun sudah 
dibantu dengan cermin super mahal, atau dibantu dengan kesan-pesan banyak orang 
tentang diri kita. Sampai-sampai kita mudah tersepona (terpesona) akan komentar 
orang yang super memabukkan karena sudah ada misi 'mencari muka'.
Jadi sesama pencari muka bertemu, jadilah area yang saling memabukkan dengan 
pujian dan sungguh menyesatkan.
 
Padahal, untuk memandang diri sendiri membutuhkan modal utama Mata Hati.
 
Orang-orang yang mencari muka, sering kehilangan mata hati, karena mereka 
terlalu sering menggunakan mata (eye :p).
 
Emangnya mencari muka buat apa?
Wow banyak motiv (motivasi)nya. Ada yang sekedar biar disayang atasan. Ada yang 
bermimpi mendapat jabatan. Ada yang terselubung berharap mendapat dukungan 
suara. dll. dll.

Salahkah bisa kita mencari muka?
sebenarnya tidak salah amat sih. lha wong dalam hidup itu manusia cenderung 
lebih suka menerima pujian daripada celaan. Seorang anak akan berusaha keras 
tampil dan berbuat yang dapat menyenangkan orang tua, sampai meluncur kalimat 
"anakku hebat ya".
Seorang istri juga akan berusaha tampil maximal luar dalam agar suaminya 
semakin hari semakin cinta. Demikian juga sang suami akan berusaha hal yang 
sama.
Bergitu juta pertemanan, kolega kerja dan networking akan selalu terdapat bumbu 
"berlomba-lomba dalam kebaikan" agar semuanya terjaga lebih lama, walaupun di 
dunia ini tiada yang abadi.
 
Namun yang membuat hati kita serasa kurang "sreg" adalah perilaku yang tidak 
natural, tidak alami, atau tidak apa adanya, atau cenderung beda sikap dengan 
hatinya. Sebuah penampilan yang tidak wajar, tapi terkesan sangat instan karena 
berharap "sim sala bim" untuk mendapatkan pujian yang super hebat dalam waktu 
singkat.
Maka dibangunlah semua cara, dari penampilan monolog (baca: super PD maju 
dewe), atau melalui kasak-kusuk, atau pake nabok minjam tangan (baca: provokasi 
orang lain agar menyerang lawan), memanipulasi media dengan iklan-iklan yang 
ciamik (ini katanya sah dalam dunia politik), dll.
 
Jadi, semua terpulang kepada kita, bagaimana menentukan strategi langkah jangka 
pendek, menengah dan jangka panjang.
Kebayang khan bisa dikaitkan dengan doa setiap hari, agar kita selamat di dunia 
maupun di akherat..., jangan sampai langkah instan malah mengubah kata 
"selamat" menjadi sebaliknya...
 
Ki Asmoro Jiwo
Menulis bukan karena merasa suci diri
Menulis untuk menebarkan suara hati
Paling tidak untuk pengingat diri sendiri
 


      

Kirim email ke