"Siapa sich orang yang tidak ingin kaya?", begitu sebuah pertanyaan yang sering 
meluncur dari mulut marketing MLM (multilevelmarketing).
kemudian kita dibawa pada logika potensi diri dan kisah sukses, yang biasanya 
merujuk pada buku best seller. Wow..... mak nyuss terdengar di telinga, sampai 
kadang angan-angan dan mimpi kita melampung ke langit ketujuh.
Presentasi, yang biasanya face to face (empat mata) ini, biasanya ditutup 
dengan sebuah pertanyaan komitmen untuk masuk menjadi anggota dan hampir pasti 
diminta membayar uang sekian puluh ribu sampai jutaan. Tergantung. Tergantung 
jumlah mimpi yang dijanjikan. 
 
Jumlah uang yang dibayarkan tergantung konteksnya. Mungkin ada yang namanya 
beaya pendaftaran. Mungkin juga dengan membeli produk tertentu. Namun yang 
jelas harga pembelian jauh melambung dibandingkan harga sewajarnya dari barang 
tersebut. Andai harga barang seribu, mungkin harus bayar tiga ribu. Selisih dua 
ribu itu sebenarnya untuk dibagi secara proporsional pada beberapa level di 
atasnya.
 
Bagi calon anggota baru, biasanya yang terbayang adalah bonus super besar 
apabila dia sudah menduduki level tertentu dengan mengikuti pohon vektor. 
Misalnya level 2 apabila punya anak buah 3 orang level 1. Level 3 punya 3 orang 
level 2. Dan seterusnya.....
 
Kalau kita coba hitung sesuai logika di atas, maka level 5 hakekatnya sudah 
merekrut 111 orang. Andai iuran per orang adalah 100 ribu, maka uang yang 
terkumpul sebagai akibat level 5 ini adalah 11.100.000 rupiah. Akibat "pretasi" 
ini, level 5 akan mendapat bonus uang yang tentu nilainya di bawah 11,1 juta 
tersebut. Karena bonus juga akan terdistribusi pada level 4, 3, dan 2.
 
Setiap ada presentasi kolektif (baca: di hadapan banyak orang), biasanya akan 
diekploitasi segelintir orang yang sukses dengan bonus, penghasilan bulanan 
atau mobil mewahnya. Namun jelas tidak akan diomongnya berapa banyak 
orang-orang yang berada di level paling bawah. Katakanlah level 5 tadi, yang di 
bawahnya ada 111 orang, atau minimal ada 81 orang level 1 yang jelas-jelas 
menanggung kerugian, kecuali bonus "mimpi" (baca: kalau nanti level 5, akan 
dapat bonus sekian juta. kalau.....)
 
Haruskah keberuntungan segelintir orang harus mengorbankan kerugian banyak 
orang?
Katanya, sistem dagang yang benar itu harus menguntungkan kedua belah pihak.. 
Satu pihak dapat barang bagus, satu pihak dapat uang bagus (baca: untung)..
 
Fenomena lain,
Banyak orang juga lupa akan 'sejarah' atau 'jalan' yang mengantarkan dia ke 
jenjang kesuksesan. Ada yang melupakan orangtua yang mendidiknya saat tidak 
bisa apa-apa menjadi orang sekolahan yang cerdas dan mampu menatap dunia dengan 
optimis.
Ada juga banyak orang di berbagai waktu yang memotivasi dan membantu jalan 
kesuksesan. Tapi semua banyak di lupakan......
Fenomena ini yang rupanya 'ditangkap' oleh dunia MLM, dimana jerih payah 
membangun networking akan dihargai dengan bonus/uang.
 
Andai anda adalah pembuat produk (produsen), lalu saya bantu memasarkan 
(marketing) ke konsumen A, harusnya selama A masih membeli produk anda, aku 
selalu dapat bonus, karena jalan penjualan ke A lewat jasaku.
Yang biasanya terjadi, hanya 'salam tempel' sekali, setelah itu si marketing 
dilupakan oleh produsen.........
Yang parah juga banyak, si marketing gak dapat apa-apa.....
 
Itulah sedikit cerita dunia yang kadang tidak tegas antara mana yang hitam dan 
mana yang putih....
 
Ki Asmoro Jiwo
 


      

Kirim email ke