Sate Khas Senayan Yang Tidak Terasa Khasnya
--------------------------------------------------------------- 

Seorang relasi mengajak makan siang di bilangan mal Citywalk, Jl. Mas Manysur, 
Jakarta. Terpilihlah resto Sate Khas Senayan Express, satu dari sekian banyak 
cabangnya yang ada di Jakarta. Koleksi menunya cukup komplit dan katanya semua 
menu masakannya serba enak. Lha wong namanya ditraktir, ya saya manut saja. 
Meski begitu, naluri untuk melakukan icip-icip atas apa yang saya makan tetap 
berjalan.

Merasa terprovokasi oleh judul restonya, yaitu 'sate khas', saya menjadi 
antusias ingin mencobanya. Wajar kalau kemudian saya berharap akan menemui sate 
dengan rasa khas atau paling tidak ada sesuatu yang khas di sana. Siang itu 
resto ini cukup penuh dipadati pemakan (orang yang makan). Memperhatikan 
padatnya pengunjung, saya menjadi semakin bersemangat ingin segera mencobanya. 
Kami pun rela menunggu beberapa menit sampai ada tempat yang kosong ditinggal 
pemakan sebelumnya. 

Meski banyak menu ditawarkan, saya fokus pada menu utama sesuai judulnya, yaitu 
memesan sate kambing. Saya baca harganya 37 (angka ini harus dibaca dalam 
ribuan), sedang kalau sate saja 27, artinya ada selisih harga 10 untuk seporsi 
nasi atau lontong. Sedang minumnya sengaja saya pilih yang namanya rada aneh, 
yaitu wedang angsle seharga 18. Minuman ini mirip-mirip wedang ronde, disajikan 
hangat berbahan minuman jahe dengan tambahan ramuan macam-macam ada 
kolang-kaling, kacang hijau, cendhol, dll.

Tidak perlu menunggu lama, sate pun tersaji di meja. Kata relasi saya yang 
biasa makan di situ, kebiasaannya kalau menyajikan pesanan sate atau tongseng 
seringkali nasi atau lontongnya terambat disajikan, tidak sekaligus disertakan 
bersama sate atau lontongnya. Dengan kata lain, jangan diam saja meski pesanan 
satenya sudah disajikan, melainkan perlu mengingatkan pelayannya agar nasi atau 
lontongnya segera disusulkan. Pengalaman relasi saya, pernah nasinya kelamaan 
disajikan, hingga satenya habis dithithili (dimakan sedikit-sedkit) satu-satu 
karena nasinya lama tidak datang-datang. Ketika sang nasi akhirnya muncul, 
tentu saja disuruh mengembalikan (takut dikira sedang mutih..., laku prihatin 
hanya makan nasi putih thok…).  

Seporsi sate kambing terdiri dari enam tusuk dan setiap tusuknya terdiri dari 
empat iris kecil daging kambing. Bumbu satenya berupa kecap ditambah dengan 
sedikit sambal dan irisan bawang merah. Kemudian satu demi satu potongan daging 
satenya saya coba mengunyah pelan-pelan, sambil berharap akan menemukan dan 
merasakan kekhasannya. Sayangnya pada siang itu (entah pada siang-siang 
lainnya...), proses pembakarannya agak kurang matang. Ada beberapa potong 
daging yang agak alot dikunyah hingga terpaksa saya lepeh (dibuang dari mulut) 
karena gigi saya tidak mampu mengunyahnya. 

Usai makan, sambil ngobrol, sambil menghabiskan dan menikmati wedang angsle, 
sambil saya mikir-mikir (jarang ada orang yang bisa melakukan, kekenyangan 
habis makan kok mikir...). Kalau rasa satenya ternyata standar alias 
biasa-biasa saja, lalu apanya yang khas? Selain minuman penutup wedang angsle 
yang rasanya memang rada khas, akhirnya saya temukan juga kekhasan resto ini. 
Bahwa pengunjung rela membayar mahal karena membeli suasananya, maksudnya 
suasana khas makan di mal yang ramai, gemebyar dan penuh pandangan warna-warni, 
termasuk kaum hawa yang berseliweran mengenakan pakaian berbahan kurang.

Maka kalau tujuannya hendak makan sekedar mencari pengganjal perut yang lagi 
kosong, makan sate di kaki lima akan lebih puas dan efisien dari segi biaya. 
Tetapi kalau tujuannya hendak menemukan suasana entertainment dan gengsi, 
tempat ini dapat menjadi alternatif. Anda yang punya kantong, Anda yang punya 
isinya, dan Anda pula yang punya hak menyontreng pilihan menunya.   

Yogyakarta, 5 Juli 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com      


      

Kirim email ke