Entah disadari atau tidak, perpindahan budaya atau kebiasaan yang 'tidah empan 
papan' (baca: tidak pada tempatnya) akan memberikan fenomena yang mengundang 
senyum dan geleng kepala dari mereka yang tahu duduk perkaranya.
Berikut ini beberapa fenomena menarik itu....
 
Pertama, kaum bule di negara 4 musim sana sering memakai pakaian minim (menurut 
kita: sexy) pada saat musim panas, dengan satu alasan : gerah. Mereka juga suka 
berjemur dengan bikini di panas matahari pagi, dengan tujuan agar kulitnya bisa 
agak kecoklatan dikit. Mungkin warna kecoklatan bagi mereka akan terasa lebih 
sexy pula. 
Nah, ternyata budaya bule berpakaian minim itu tanpa sadar banyak diadopsi oleh 
kaum hawa di negara ketimuran ini. Entah mereka tahu atau tidak bahwa kita 
negara tropis yang mataharinya mudah menghitamkan kulit yang sudah coklat. 
Lucunya, sekarang ini banyak kaum hawa naik motor dengan model kaos tank top 
(tanpa lengan) dan atau celana pendek. Kaum adam sich dijamin mak nyuss 
lihatnya. Tapi sadarkah bahwa si cewek itu akan cepat sekali berubah warna 
kulit lengan dan pahanya menjadi semakin hitam.
Terhadap fenomena ini, sering kuceritakan anekdot bahwa "ternyata perempuan itu 
lebih tanah masuk angin daripada lelaki, tuh buktinya lelaki selalu pake jaket 
pas naik motor, si perempuan malah seperti tanah panas (di siang hari) dan 
dingin (di malam hari) dengan memakai baju minim...". Anekdot ini bukan untuk 
diprotes......
 
Kedua, negara dingin biasanya punya budaya minum minuman penghangat (baca: 
beralkohol). Juga para nelayan yang terapung pada perahu di tengah lautan 
beberapa hari, sering menenggak minum beralkohol. Tujuannya agar badan lebih 
tahan terhadap hawa dingin yang menusuk tulang. Celakanya, kita yang di negara 
tropis ini latah ikutan minum. Padahal kita sudah sumuk/gerah tiap hari. 
Jadilah yang panas akan semakin panas.
 
Ketiga, saat kita melihat film barat menampilkan pakaian bandit atau jagoan 
berbentuk jaket menjuntai sampai lutut. "Wah kerenn....." pikir kita yang 
nonton. Akhirnya kita ikutan berjaket seperti itu. Begitu juga jaket kulit. 
Mungkin cukup tepat jika dipake berkendara motor karena memang badan kita perlu 
perlindungan dari angin kencang. Lha ini kadang jaket tebal dan mudah membuat 
sumuk, kok dipake hanya buat mejeng doank......
 

Keempat, sistem demokrasi mengenal aturan one man one vote (baca: satu orang, 
satu suara). Ini dipake di negara barat yang memang di sana kesetaraan hanya 
dipandang dari jumlah kepala saja. Beda dengan budaya ketimuran, dimana apabila 
pak Kyai mengatakan A maka ratusan santrinya akan ikut mengatakan A, dimana 
apabila Sultan mengatakan "jangan" maka jutaan rakyatnya akan patuh tidak 
melanggar, dimana saat kepala suku mengatakan "OK" maka warga suku itu akan 
tunduk dan patuh. Akan salah dan kurang tepat apabila bobot contrengan sang 
kyai sama dengan santrinya, atau bobot sultan sama dengan rakyatnya, atau bobot 
kepala suku sama dengan warganya.
So, jangan terlalu muluk-muluk memimpikan kriteria pemimpin itu seperti apa, 
karena semua akan tergantung siapa pencontrengnya. Kalo mayoritas pencontreng 
memilih hanya karena kegantengan/kecantikan, ya para pakar ngupasnya jangan 
kejauhan sampai visi misi dan program kerja 100 hari segala hehhee.
 
Kelima, pakaian resmi orang bule biasanya ber-jas dan berdasi. Kita pun latah 
menirunya. Akhirnya malah megap-megap kepanasan karena dipake bukan pada tempat 
yang ber-AC. Kenapa pakaian resmi tidak memakai batik saja, yang semriwing 
alias isis alias suejuk. Mungkin simbah buyut kita sudah tahu bahwa lingkungan 
kita mudah membuat sumuk bin gerah, makanya diciptakan pakaian yang 
ventilasinya mak nyuss.
 
Keenam, model rumah modern biasanya kebarat-baratan. Satu yang sering latah 
dilakukan adalah rumah tanpa pyan (emperan), sehingga jika hujan akan mudah 
ketampu (air hujan masuk lewat ventilasi). Ingatlah bentuh rumah warisan 
leluhur yang biasanya berbentuk limas dan joglo, dimana atap bagian sisi selalu 
disisakan sekitar 1 meter sebagai pelindung hujan dan terik matahari.
Lha mbok yao, mencermati bangunan rumah peninggalan walondo di Indonesia yang 
selalu bertembok tebal dan ukuran dinding-pintu-jendela super besar. Ternyata 
disain itu berorientasi pada sirkulasi udara agar sejuk. Dengan kata lain 
bangunan itu hasil adaptasi pada lingkungan tropis ini.
 
Ketujuh, beberapa waktu lalu kita heboh seperti anti pada poligami dan 
pernikahan dengan pasangan di bawah umur (baca: masih remaja). Berita gosip di 
TV membombardir yang berkesan itu dilarang dan tidak pantas. Seakan kita 
terlupakan pada sejarah masa lalu, dimana para raja atau pejabat negara sudah 
terbiasa dengan beristri banyak. Yang perlu diprotes mungkin model poliandri, 
dimana 1 istri dengan suami banyak. Kita juga lupa bahwa mbah buyut kita 
doeloe, atau masih ada juga budaya di pelosok desa, sudah biasa menikahkan anak 
perempuannya pada usia di bawah 17 tahun. Lha kok doeloe gak ada yang protes 
yaaa? Yang perlu diprotes harusnya yang sex bebas atau hobby jajan. Memang 
wolak waliking jaman, ya, jamane wis kuwalik (baca: semakin maju jaman malah 
aturan semakin tidak jelas).
 
Hukum sosial memang sangat dinamis dan sulit dimengerti oleh ahli hukum 
sendiri, karena memang seiring waktu "yang boleh" bisa menjadi "tidak boleh" 
atau malah kembali lagi menjadi "boleh".....
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke