Smoga lekas menjadi kenyataan. Ayo dukung Kendal menjadi KEKI Kendal..........
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/Title: Suara Karya Online
| Rabu, 15 Juli 2009 | ![]() |
| | ![]() |
| ![]() | ![]() | | | | | | ![]() | | | | KEK Kendal Serap 30.000 Tenaga Kerja
Selasa, 6 Maret 2007
SEMARANG (Suara Karya): Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang tengah
dirancang di Pelabuhan Kendal, Jawa Tengah, dan diperkirakan menyerap
30.000 tenaga kerja (naker), mulai dilirik investor baik dari dalam
maupun luar negeri. Sejumlah investor sudah terang-terangan ingin
menanamkan modalnya di kawasan ekonomi yang terletak di Kecamatan
Kaliwungu itu.
Kabag Humas Setda Kendal, Abdul Salam SE, mengatakan, beberapa investor
sudah menyampaikan keinginannya untuk menanamkan modal di KEK Pelabuhan
Kendal.
"Pembangunan KEK mendapat respons cukup bagus dari investor. Ada
beberapa yang sudah menyampaikan keinginan untuk menanamkan modal,"
kata Salam. Salah satu yang tertarik dengan KEK Kendal adalah PT Tossa
Shakti.
Perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan sepeda motor dan
pembuatan kaca itu bahkan telah merencanakan pembangunan jalan raya
sendiri di kawasan seluas 700 hektare itu. Dukungan juga datang dari
para pengusaha Jabodetabek yang berencana untuk investasi pengelolaan
air bersih di areal KEK. Investor dari Australia yang bergerak dalam
bidang elektronik, menurut Salam juga sudah menyampaikan keinginan
berinvestasi. (Wahyudi)
Petani Bawang Merah Minta Tata Niaga Impor Diterapkan
JAKARTA
(Suara Karya): Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Bawang Merah
Indonesia (ABMI) meminta pemerintah menerapkan tata niaga impor bawang
merah untuk menekan serbuan komoditas hortikultura tersebut dari luar.
Ketua ABMI, Asmawi Isa ketika dihubungi ANTARA di Kabupaten Brebes,
Jawa Tengah, Senin menyatakan, serbuan bawang merah impor asal Thailand
dan Filipina saat musim panen raya mengakibatkan harga bawang merah
lokal turun drastis. "Kalau menyetop impor melanggar WTO karena itu
perlu diatur tata niaga impornya," katanya.
Menurut dia, impor bawang merah yang diperkirakan sebanyak 53 ribu ton
masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, kemudian
didistribusikan ke daerah termasuk Brebes yang merupakan salah satu
sentra produksi bawang merah.
Dikatakannya, harga bawang merah lokal untuk kelas super biasanya
berkisar antara Rp 3.500-Rp 4.000 per kg namun akibat masuknya bawang
impor turun menjadi Rp 2000 per kg bahkan pernah sebesar Rp 1.600 per
kg. (Antara)
|
| |
|
|
|