dua email sebelum ini secara tersurat maupun tersirat menyerukan semangat 
khilafah islam, yang secara sempit diartikan pendirian negara islam dan secara 
global perlu kepemimpinan islam yang membawahi seluruh ummat islam di dunia.
pemikiran ideal ini memang mudah dipahami, namun dalam realisasinya akan banyak 
berbenturan dengan banyak pihak, termasuk ummat agama lain yang tentu akan 
terusik kenyamanannya.
 
kepemimpinan setelah Nabi SAW, yang aman dari perpecahan hanya pada zaman 
Kholifah Abu Bakar, setelah itu berubah pada persaingan dengan pembunuhan dan 
perpindahan antar bani (umayah dan abasiyah). Lalu bermunculan 
kerajaan-kerajaan Islam.
secara faktual, perkembangan pemerintahan yang bernafaskan islam semakin 
bertambah banyak, bukan semakin mengerucut pada satu garis komando. Sehingga 
pembahasan yang terkait hal ini memerlukan kelapangan dada dan konsep rahmatan 
lil alamin.
 
Jika kita kembali ke organisasi keislaman di negeri ini, bisa dihitung berapa 
banyak sempalan atau bentukan kelompoknya, seperti muhammadiyah, NU, ahmadiyah, 
dll. Jumlah yang sangat banyak ini ternyata juga punya 'warna' sendiri dan 
sering sulit disatukan dalam satu meja untuk tujuan dan jalan perjuangan yang 
sama.
 
Jika melongok ke negara-negara islam di dunia, mungkin kita sepakat mengatakan 
bahwa nafas islam ada di negara Arab Saudi, Iran, Yaman, Malaysia, dll. Namun 
toh mereka jelas ada warna sendiri dan tidak mungkin mau disatukan dalam satu 
kepemimpinan. Misalnya dengan melebur negara-negara itu menjadi satu 
kepemimpinan. Tentu kita tidak berpikir hanya dengan alasan agama saja, kita 
juga harus mempertimbangkan kondisi sosial budaya, geografis, dll.. 
 
Terkadang kita malah masuk pada perdebatan yang tiada ujung. Misalnya, 
menganggap bahwa negara kita bukan negara islam walau pemimpinnya mayoritas 
beragama islam. Mungkin Arab Saudi dianggap negara islam, padahal berbentuk 
kerajaan yang pemimpinnya menurut garis darah. Atau negara Islam yang menganut 
demokrasi, padahal demokrasi hanya menghargai 1 kepala dengan 1 suara, siapapun 
pemilik kepala itu. Padahal dalam adat ketimuran, 1 suara kyai bisa diamini 
oleh ribuan santrinya.
 
Nab SAW juga sudah memberikan wejangan bahwa ummat islam akan tercabang lebih 
dari 50 buah. Ini merupakan indikasi bahwa memang keheterogenan akan menimpa 
Ummat Islam. Lalu, apakah kita tidak boleh memimpikan daulah keislaman? 
siapapun boleh bermimpi apa saja. Namun manakala mimpi itu harus 
direalisasikan, alangkah bijaknya jika kita menengok ke kanan-kiri dan 
depan-belakang, sehingga tahu posisi kita dimana, mau kemana dan sejauh mana 
langkah itu bisa terlaksana. Jangan karena impian yang setinggi langit malah 
membuat kita lupa pada kewajiban kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, 
dll. Atau, malah tanpa sadar kita mencetak bibit permusuhan dan kerusakan di 
muka bumi ini.
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke