Indonesia memang bukan negara islam kan. .
On 7/27/09, muhamad kundarto <[email protected]> wrote: > dua email sebelum ini secara tersurat maupun tersirat menyerukan semangat > khilafah islam, yang secara sempit diartikan pendirian negara islam dan > secara global perlu kepemimpinan islam yang membawahi seluruh ummat islam di > dunia. > pemikiran ideal ini memang mudah dipahami, namun dalam realisasinya akan > banyak berbenturan dengan banyak pihak, termasuk ummat agama lain yang tentu > akan terusik kenyamanannya. > > kepemimpinan setelah Nabi SAW, yang aman dari perpecahan hanya pada zaman > Kholifah Abu Bakar, setelah itu berubah pada persaingan dengan pembunuhan > dan perpindahan antar bani (umayah dan abasiyah). Lalu bermunculan > kerajaan-kerajaan Islam. > secara faktual, perkembangan pemerintahan yang bernafaskan islam semakin > bertambah banyak, bukan semakin mengerucut pada satu garis komando. Sehingga > pembahasan yang terkait hal ini memerlukan kelapangan dada dan konsep > rahmatan lil alamin. > > Jika kita kembali ke organisasi keislaman di negeri ini, bisa dihitung > berapa banyak sempalan atau bentukan kelompoknya, seperti muhammadiyah, NU, > ahmadiyah, dll. Jumlah yang sangat banyak ini ternyata juga punya 'warna' > sendiri dan sering sulit disatukan dalam satu meja untuk tujuan dan jalan > perjuangan yang sama. > > Jika melongok ke negara-negara islam di dunia, mungkin kita sepakat > mengatakan bahwa nafas islam ada di negara Arab Saudi, Iran, Yaman, > Malaysia, dll. Namun toh mereka jelas ada warna sendiri dan tidak mungkin > mau disatukan dalam satu kepemimpinan. Misalnya dengan melebur negara-negara > itu menjadi satu kepemimpinan. Tentu kita tidak berpikir hanya dengan alasan > agama saja, kita juga harus mempertimbangkan kondisi sosial budaya, > geografis, dll.. > > Terkadang kita malah masuk pada perdebatan yang tiada ujung. Misalnya, > menganggap bahwa negara kita bukan negara islam walau pemimpinnya mayoritas > beragama islam. Mungkin Arab Saudi dianggap negara islam, padahal berbentuk > kerajaan yang pemimpinnya menurut garis darah. Atau negara Islam yang > menganut demokrasi, padahal demokrasi hanya menghargai 1 kepala dengan 1 > suara, siapapun pemilik kepala itu. Padahal dalam adat ketimuran, 1 suara > kyai bisa diamini oleh ribuan santrinya. > > Nab SAW juga sudah memberikan wejangan bahwa ummat islam akan tercabang > lebih dari 50 buah. Ini merupakan indikasi bahwa memang keheterogenan akan > menimpa Ummat Islam. Lalu, apakah kita tidak boleh memimpikan daulah > keislaman? siapapun boleh bermimpi apa saja. Namun manakala mimpi itu harus > direalisasikan, alangkah bijaknya jika kita menengok ke kanan-kiri dan > depan-belakang, sehingga tahu posisi kita dimana, mau kemana dan sejauh mana > langkah itu bisa terlaksana. Jangan karena impian yang setinggi langit malah > membuat kita lupa pada kewajiban kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, > dll. Atau, malah tanpa sadar kita mencetak bibit permusuhan dan kerusakan di > muka bumi ini. > > Ki Asmoro Jiwo > > >

