Catt : jawaban ini saya cc-kan ke beberapa email buat bahan masukan dan diskusi ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Yth Mas Bambang, Terima kasih telah membaca artikel saya tentang "LAHAN KERING DAN KEKERINGAN" Materi yang ditanyakan ini lebih terkait pada muka air tanah, atau bahasa umum mengatakan "tingkat kedalaman air sumur". Yang aku bahas dapat tulisan sebelumnya lebih banyak mengupas hubungan air dengan kehidupan tanaman, jadi hanya sekitar di daerah perakaran. Terhadap permasalahan ini, kita harus melongok tentang teori siklus air, yaitu perjalanan air dari laut, menguap jadi awan, lalu hujan, turun di perbukitan, dan meresap menjadi air tanah. Namun kita fokus pada banyaknya air yang dipakai terutama oleh manusia untuk berbagai keperluan. Sedemikian rupa sehingga air yang disedot ini volumenya jauh lebih banyak dibandingkan suplai air secara alami dari hujan dan resapan air dari sungai terdekat. Jika kondisi ini dibiarkan terus, maka dampaknya sudah mulai dirasakan yaitu muka air tanah semakin lama semakin dalam. Kondisi ini jelas tidak menunguntungkan untuk permukiman di masa mendatang. Nah, cara penanggulangannya jelas tidak bisa dilakukan secara individu karena masalah ini merupakan kolektif atau berjamaah. Untuk itu perlu menjalankan solusi ini bersama masyarakat luas di daerah tersebut. Adapun solusi yang dapat dilakukan adalah sbb. : 1. Identifikasi wilayah, mana yang termasuk resapan dan mana kawasan eksploitasi (pemanfaatan/penyedotan air). Daerah resapan harus di plot sebanyak-banyaknya agar mampu menyerap air maksimal. Biasanya daerah resapan berada pada ketinggian di atasnya dari permukiman tersebut. Contoh riilnya, daerah resapan dibuat hutan (hutan rakyat, hutan kota, kebun). Apabila daerah resapan kurang maksimal menyerap air, maka buatlah jebakan-jebakan air seperti rorak (blumbang - bhs jawa), terasering, bendungan mini, dll yang intinya 'memaksa' air lebih banyak masuk ke tanah daripada menjasi aliran permukaan (masuk ke badan sungai). 2. Untuk kawasan permukiman yang cukup padat, dapat menjalankan beberapa tindakan sebagai berikut : - buatlah resapan air di samping rumah. buat sedemikian rupa agar air yang jatuh di genting rumah dapat tersalurkan ke talang air menuju ke satu atau beberapa lubang resapan. sumur resapan sama dengan sumur biasa, cuma beda fungsi. bila perlu dekatkan posisi sumur resapan dengan sumur pompa, misalnya sekitar 3-5 meter. namun jauhkan dari genangan air limbah atau septitank. - buatlah resapan air di titik-titik lokasi (mungkin sudut jalan kampung dst) yang teridentifikasi sering timbul genangan (banjir lokal) saat terjadi hujan. Apabila genangan kecil dapat menggunakan biopori (lubang diameter 20 cm, sedalam 120 cm, berisi seresah organik)dalam jumlah yang cukup banyak. Apabila genangan besar, buatlah sumur resapan di tempat tersebut. - perbanyak hutan kota atau penghijauan dengan memanfaatkan ruang-ruang yang belum jadi bangunan. Tentu ini perlu rapat kesepakatan dari masyarakat. semakin hijau dan rindang akan semakin baik. Fungsi tumbuhan untuk meningkatkan resapan, 'memegang air' dan mengurangi penguapan (evaporaasi). 3. Sebisa mungkin koordinasi dengan pemerintah setempat agar laju pendirian bangunan dapat dikendalikan, mungkin dengan BPN, Bappeda, dan dinas terkait lainnya. 4. Mencanangkan gerakan Hemat Air pada seluruh lapisan masyarakat. Budaya sangat konsumtif air seperti kolam renang pribadi, mandi berendam, dll dapat dicermati dan dicarikan solusi bijak. semoga solusi ini berguna.... tips saya : "Jangan baru ingat membeli alat pemadam kebakaran ketika kita sudah dikepung api kebakaran" terima kasih catt: mungkin dari ahli hidrologi, geologi dan geohidrologi dapat mengoreksi atau menambahkan jawaban saya ini
Muhamad Kundarto Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta Laboratorium Sistem Informasi Lahan FP UPN "Veteran" Yogyakarta HP: 08180 272 6112 http://mkundarto.wordpress.com/ --- On Wed, 7/29/09, Bambang Murtiasa <[email protected]> wrote: From: Bambang Murtiasa <[email protected]> Subject: Kemarau panjang To: "muhamad kundarto" <[email protected]> Date: Wednesday, July 29, 2009, 6:22 AM Pak Kundarto sugeng enjing Maaf ya sebelumnya mungkin aku sedikit mengganggu . Begini ya , aku mohon pencerahannya tentang kandungan air di dalam tanah mengingat sekarang sudah mencapai puncak musim kemarau , perlu diketahui kalau di tempat tinggalku di Bekasi sini pada umumnya pakai air tanah , dengan bahasa kerennya pakai sumur bor ata Jet Pump , 10 tahun yang lalu aku pakai pompa Sanyo dengan kekuatan sedot 15 meter , tapi sekarang sudah ngga bisa lagi , terpaksa harus ganti pompa dan mendalamkan sumurnya alias ngebor lagi dengan kedalaman 35 meter. Kondisi tanah sebelum jadi perumahan adalah sawah atau bahasa Kendalnya Bulak . Yang aku mau tanyakan ke Pak Kundarto bagaimana ya kondisi permukaan air tanah di daerahku ,terutama 10 tahun kedepan apakah kian tahun kian menyusut atau turun permukaan air tanahnya ? Lalu apakah efektif kalau kita buat semacam resapan dibawah talang air , atau sekarang yang lagi ngetrend bikin Biopori , tapi dimana lha wong tidak ada lagi tanah sisa , Kalau tanaman peneduh masih ada walaupun ngga begitu banyak di sekitarku. Mungkin begitu ya Pak Kundarto Ilustrasinya . Matur nuwun sanget........ Salam Bambang M

