Sugeng enjing Pak Kundarto
Terima kasih banyak atas pencerahannya , sangat baik sekali analisanya .
Sebagai gambaran lagi pernah aku membaca artikel bahwa kalau ngga salah
didalam tanah ini ada semacam aliran sungai yang sedemikian rupa sehingga
dapat membentuk kantung - kantung air , lha kalau gitu kalau kita buat
resapan disekitar rumah kita , mungkin yang akan menikmatinya adalah saudara
kita yang terletak dibawah kita , sedangkan kita menikmati dari resapan yang
dibuat oleh saudara kita yang berada diatas kita ,dan yang paling atas
sendiri sudah dibuatkan resapan dalam bentuk gunung dan perbukitan oleh
Tuhan . Inilah mungkin keadilan Tuhan bahwa air saja sudah dibagi-bagi rata
, tinggal kita dan saudara-saudara kita memanajemennya.
Tapi alangkah indahnya kalau hal ini semua orang pada tahu , jadi kita bisa
saling tolong menolong......bagi - bagi rejeki yang telah dikaruniakan Tuhan
kepada kita semua.......Amin
Matur nuwun ....semoga ini jadi bahan diskusi agar lebih menarik

salam
Bambang M

  ----- Original Message -----
  From: muhamad kundarto
  To: Bambang Murtiasa
  Cc: sri sumarsih ; milist dosen UPN ; kendal online ; milist alumni ; ilmu
tanah ; alumni faperta ; Didin Sastrapradja ; sri hudyastuti ; agus langgeng
81 ; wartawan KR ; pemasaran harianjogja
  Sent: Wednesday, July 29, 2009 7:19 AM
  Subject: [kendal-online] Re: Kemarau panjang


    Catt : jawaban ini saya cc-kan ke beberapa email buat bahan masukan dan
diskusi
        --------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
        Yth Mas Bambang,

        Terima kasih telah membaca artikel saya tentang "LAHAN KERING DAN
KEKERINGAN"

        Materi yang ditanyakan ini lebih terkait pada muka air tanah, atau
bahasa umum mengatakan "tingkat kedalaman air sumur". Yang aku bahas dapat
tulisan sebelumnya lebih banyak mengupas hubungan air dengan kehidupan
tanaman, jadi hanya sekitar di daerah perakaran.

        Terhadap permasalahan ini, kita harus melongok tentang teori siklus
air, yaitu perjalanan air dari laut, menguap jadi awan, lalu hujan, turun di
perbukitan, dan meresap menjadi air tanah. Namun kita fokus pada banyaknya
air yang dipakai terutama oleh manusia untuk berbagai keperluan. Sedemikian
rupa sehingga air yang disedot ini volumenya jauh lebih banyak dibandingkan
suplai air secara alami dari hujan dan resapan air dari sungai terdekat.
Jika kondisi ini dibiarkan terus, maka dampaknya sudah mulai dirasakan yaitu
muka air tanah semakin lama semakin dalam. Kondisi ini jelas tidak
menunguntungkan untuk permukiman di masa mendatang.

        Nah, cara penanggulangannya jelas tidak bisa dilakukan secara
individu karena masalah ini merupakan kolektif atau berjamaah. Untuk itu
perlu menjalankan solusi ini bersama masyarakat luas di daerah tersebut.
Adapun solusi yang dapat dilakukan adalah sbb. :

        1. Identifikasi wilayah, mana yang termasuk resapan dan mana kawasan
eksploitasi (pemanfaatan/penyedotan air). Daerah resapan harus di plot
sebanyak-banyaknya agar mampu menyerap air maksimal. Biasanya daerah resapan
berada pada ketinggian di atasnya dari permukiman tersebut. Contoh riilnya,
daerah resapan dibuat hutan (hutan rakyat, hutan kota, kebun). Apabila
daerah resapan kurang maksimal menyerap air, maka buatlah jebakan-jebakan
air seperti rorak (blumbang - bhs jawa), terasering, bendungan mini, dll
yang intinya 'memaksa' air lebih banyak masuk ke tanah daripada menjasi
aliran permukaan (masuk ke badan sungai).

        2. Untuk kawasan permukiman yang cukup padat, dapat menjalankan
beberapa tindakan sebagai berikut :
        - buatlah resapan air di samping rumah. buat sedemikian rupa agar
air yang jatuh di genting rumah dapat tersalurkan ke talang air menuju ke
satu atau beberapa lubang resapan. sumur resapan sama dengan sumur biasa,
cuma beda fungsi. bila perlu dekatkan posisi sumur resapan dengan sumur
pompa, misalnya sekitar 3-5 meter. namun jauhkan dari genangan air limbah
atau septitank.
        - buatlah resapan air di titik-titik lokasi (mungkin sudut jalan
kampung dst) yang teridentifikasi sering timbul genangan (banjir lokal) saat
terjadi hujan. Apabila genangan kecil dapat menggunakan biopori (lubang
diameter 20 cm, sedalam 120 cm, berisi seresah organik)dalam jumlah yang
cukup banyak. Apabila genangan besar, buatlah sumur resapan di tempat
tersebut.
        - perbanyak hutan kota atau penghijauan dengan memanfaatkan
ruang-ruang yang belum jadi bangunan. Tentu ini perlu rapat kesepakatan dari
masyarakat. semakin hijau dan rindang akan semakin baik. Fungsi tumbuhan
untuk meningkatkan resapan, 'memegang air' dan mengurangi penguapan
(evaporaasi).

        3. Sebisa mungkin koordinasi dengan pemerintah setempat agar laju
pendirian bangunan dapat dikendalikan, mungkin dengan BPN, Bappeda, dan
dinas terkait lainnya.

        4. Mencanangkan gerakan Hemat Air pada seluruh lapisan masyarakat.
Budaya sangat konsumtif air seperti kolam renang pribadi, mandi berendam,
dll dapat dicermati dan dicarikan solusi bijak.

        semoga solusi ini berguna....
        tips saya : "Jangan baru ingat membeli alat pemadam kebakaran ketika
kita sudah dikepung api kebakaran"

        terima kasih

        catt: mungkin dari ahli hidrologi, geologi dan geohidrologi dapat
mengoreksi atau menambahkan jawaban saya ini


        Muhamad Kundarto
        Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
        Laboratorium Sistem Informasi Lahan FP UPN "Veteran" Yogyakarta

        HP: 08180 272 6112
        http://mkundarto.wordpress.com/




        --- On Wed, 7/29/09, Bambang Murtiasa <[email protected]>
wrote:


          From: Bambang Murtiasa <[email protected]>
          Subject: Kemarau panjang
          To: "muhamad kundarto" <[email protected]>
          Date: Wednesday, July 29, 2009, 6:22 AM


          Pak Kundarto sugeng enjing
          Maaf ya sebelumnya mungkin aku sedikit mengganggu .
          Begini ya , aku mohon pencerahannya tentang kandungan air di dalam
tanah mengingat sekarang sudah mencapai puncak musim kemarau , perlu
diketahui kalau di tempat tinggalku di Bekasi sini pada umumnya pakai air
tanah , dengan bahasa kerennya pakai sumur bor ata Jet Pump , 10 tahun yang
lalu aku pakai pompa Sanyo dengan kekuatan sedot 15 meter , tapi sekarang
sudah ngga bisa lagi , terpaksa harus ganti pompa dan mendalamkan sumurnya
alias ngebor lagi dengan kedalaman 35 meter. Kondisi tanah sebelum jadi
perumahan adalah sawah atau bahasa Kendalnya Bulak . Yang aku mau tanyakan
ke Pak Kundarto bagaimana ya kondisi permukaan air tanah di daerahku
,terutama 10 tahun kedepan apakah kian tahun kian menyusut atau turun
permukaan air tanahnya ?
          Lalu apakah efektif kalau kita buat semacam resapan dibawah talang
air , atau sekarang yang lagi ngetrend bikin Biopori , tapi dimana lha wong
tidak ada lagi tanah sisa , Kalau tanaman peneduh masih ada walaupun ngga
begitu banyak di sekitarku.
          Mungkin begitu ya Pak Kundarto Ilustrasinya . Matur nuwun
sanget........

          Salam
          Bambang M





  

Kirim email ke