“Pagi, Mario…..”
---------------------
“Banyak
orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya”, kata
Spike Lee, sutradara film “Miracles at St. Anna”.
Kata-kata
mas Spike ini memang tidak seberapa menjengkelkan. Terngiang-ngiang di kepala
hingga
terbawa tidur, lalu bermimpi ketemu mas Spike.
“Njuk, gimana mas agar tidak mati?”.
“Ya,
cintailah pekerjaanmu”, katanya.
“Tapi
bagaimana caranya agar dapat mencintai pekerjaan?”.
“Sama
persis seperti bagaimana sampeyan mencintai istri, suami, anak, sahabat,
selingkuhan…… Yaitu melihat segala sesuatunya dari sisi positif, apapun yang
ada di depan panca indera, mata, telinga, hidung, tenggorokan, hati, plus
indera keenam, kalau punya. Pokoknya jangan sekali-kali menimbang-nimbang sisi
buruknya. Semuanya harus dibuat baik, indah, menyenangkan dan menantang, agar
sampeyan kreatif dan selalu berkeinginan untuk maju dan berprestasi…”, jawabnya
lagi.
“Weleh…, susah je… Bagaimana kalau tetap enggak
bisa juga?”
Jawab
mas Spike : Ya ganti pekerjaan aja!
Cari pekerjaan lain yang bisa dicintai. Tapi haqqun-yakil, biasanya keadaan
seperti sebelumnya akan terulang
kembali. Semakin sering ganti pekerjaan akan semakin bertambah fly-watch
sampeyan meraih peluang untuk
berpengalaman ‘menjadi orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak
dicintainya’…...
Lalu,
sambung mas Spike lagi : Kalau sampeyan belum percaya, tanya saja sama Mario… :
“Pagi, Mario….”. Maka pesannya adalah : Jangan menambah jumlah orang-orang yang
sudah ‘mati’, lalu perhatikan apa yang akan terjadi….
Yang
akan terjadi ya jumlah orang ‘hidup’ semakin banyak…. Tapi ‘hidup’ yang
bermanfaat yang akan mewarnai kehidupan itu sendiri, seperti Mario tidak
sengaja menumpahkan cat dan mewarnai tembok rumahnya.
Tapi
tunggu dulu, “Emangnya kalau ‘mati’ nappa….?”.
Ya
enggak apa-apa, wong cuma berangkat
pagi, pulang malam, tiap bulan terima gaji, ngona-ngono
…, begita-begitu setiap hari, dan
kalau akhirnya tidak memperoleh promosi lalu memelas merasa didholimi…. (Lha ya
siapa yang sempat-sempatnya
mendholimi orang ‘mati’, enggak ada
untungnya babar blass…., yang ada
malah didoakan agar dosa-dosanya diampuni…..).
Saya
pun terbangun : “Matur nuwun, mas
Spike…”.
Yogyakarta,
3 Agustus 2009
Yusuf
Iskandar