Mbah Surip
---------------
“God must love crazy people…”, kata Chacin kepada Rambo ketika tahu kenekatan
Rambo akan masuk ke Afghanistan seorang diri sementara orang-orang ‘gila’
sebelumnya belum pernah ada yang selamat bisa keluar (cuplikan dialog dalam
film “Rambo 3”).
Hari ini saya dikejutkan dengan meninggalnya Mbah Surip, seniman ‘gila’ yang
bagi saya menjadi inspirasi bagi pembuktian bahwa sukses itu tidak berbanding
lurus dengan umur, penampilan, pemikiran atau urusan materi. Sepanjang hidup
saya pernah menggemari seniman musik, teater, tari, lukis, kriya dan film.
Namun belum pernah ada yang begitu membekas di alam pemikiran saya seperti
ketika kenal Mbah Surip.
Mbah Surip telah berhasil mewakili crazy people yang di-must love-i oleh God…..
Sukses Mbah Surip diraih ketika anggapan persyaratan umur, penampilan,
pemikiran atau pernik-pernik urusan materi tidak lagi terpenuhi. Banyak
sedekah, selalu berdoa dan visi sederhananya untuk menyenangkan orang lain
digendong kemana-mana sebagaimana Mbah Surip menggendong siapa saja yang mau
digendongnya. “Tak gendong kemana-mana… Mantep to…, enak to…., ha…ha…ha…ha…”.
Orang boleh saja mengatakan Mbah Surip meninggal karena kelelahan, kebanyakan
ngudut rokok kretek dan kebanyakan ngopi, sementara makannya tidak teratur.
Tipikal orang-orang ‘gila’ atau gelandangan yang makan dan tidurnya memang
tidak perlu diatur. Tetapi ‘ketidak-teraturan’ hidup Mbah Surip itlah yang
merangsangnya menggapai sukses di hari tuanya.
Perlu kegilaan untuk menjadi seperti Mbah Surip. Dan herannya orang-orang
‘gila’ seperti Mbah Surip itulah yang justru dicintai Tuhan, dalam makna bahwa
Tuhan akan membuktikan hukum alamnya (sunatullah) bahwa setiap kerja keras yang
disertai doa tulus pasti, sekali lagi pasti, akan membuahkan hasil. Pasti,
dalam konotasi sebagai perwujudan terbaik menurut sudut pandang Tuhan.
Saya tidak tahu apakah Mbah Surip ini tergolong sebagai umat yang tekun
beribadah atau tidak. Namun setidak-tidaknya, keyakinannya akan arti sebuah
kerja keras, semangat untuk berbagi dan member, dan berdoa hanya dan hanya
kepada Tuhan, adalah cermin kesalehannya sebagai seorang hamba. Hamba yang
‘gila’. Hamba yang berpikir out of the box, bahkan box-nya telah
disobek-sobeknya. Hamba yang tidak pernah ‘mati’ karena Mbah Surip tidak pernah
diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya. Hamba yang akan melakukan apa
saja bahkan dengan medium yang bagi orang awam dianggap aneh. Hamba yang berani
membuat terobosan. Hamba yang berpikir paradoksal, yang tidak mungkin menjadi
mungkin. Hamba yang begitu menikmati arti kemedekaan…. (sebentar lagi perayaan
17-an).
Mbah Surip di usia senjanya seperti sebuah kelahiran baru (aneh, lahir langsung
tua…) tetapi membawa spirit tentang sukses dan tentang kemauan keras untuk
sukses. Tidak perdulu teori atau hukum apapun yang diyakini orang lain,
melainkan keyakinannya bahwa Tuhan akan menyertai orang-orang ‘gila’. Kebebasan
berekspresi, kata para seniman. Kemerdekaan hidup, kata orang-orang yang pernah
mengalami penjajahan.
“Selamat jalan, Mbah….. Hati-hati di jalan ya, di Bogor ada tabrakan kereta, di
Papua ada pesawat keblusuk, di Natuna ada kapal klelep….. Insya Allah, amal
saleh Sampeyan dicatat di buku besarnya Tuhan Yang Maha Jujur, Adil, Rahasia
dan Demokratis, tidak seperti catatannya orang-orang yang Sampeyan kenal selama
ini”.
Merdeka, Mbah…!
Yogyakarta, 4 Agustus 2009
Yusuf Iskandar
Mewakili ekspresi saya tentang Mbah Surip, berikut ini kutipan catatan status
saya di Facebook :
Tiada seniman yg begitu menginspirasi melainkan Mbak Surip, dan Mbah Surip
adalah utusan 'orang-2 gila' yg turut membuktikan mampu mengubah 'dunia'....
(04/08/09).
“Banyak orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya”,
kata Spike Lee, sutradara film “Miracles at St. Anna”. (03/08/09).
"Aku tidak hanya berpilkir 'out of the box'. Aku telah merobek-robeknya.....".
Penggalan dialog dalam flm "The Fast And The Furious III". (01/08/09)