Mbah Surip adalah salah satu murid KH Junaedi Al Baghdadi, Cikarang.
Itulah yang selalu di GENDONG mbah Surip, I Love you FULL
Semoga menjadi pelajaran kita semua.
Allah meridhoi mbah Surip dan kita semua.

wass





________________________________
From: Yusuf Iskandar <[email protected]>
To: Kendal Online <[email protected]>
Sent: Tuesday, August 4, 2009 2:24:09 PM
Subject: [kendal-online] Mbah Surip

  

Mbah Surip
------------ ---

“God must love crazy people…”, kata Chacin kepada Rambo ketika tahu kenekatan 
Rambo akan masuk ke Afghanistan seorang diri sementara orang-orang ‘gila’ 
sebelumnya belum pernah ada yang selamat bisa keluar (cuplikan dialog dalam 
film “Rambo 3”).

Hari ini saya dikejutkan dengan meninggalnya Mbah Surip, seniman ‘gila’ yang 
bagi saya menjadi inspirasi bagi pembuktian bahwa sukses itu tidak berbanding 
lurus dengan umur, penampilan, pemikiran atau urusan materi. Sepanjang hidup 
saya pernah menggemari seniman musik, teater, tari, lukis, kriya dan film. 
Namun belum pernah ada yang begitu membekas di alam pemikiran saya seperti 
ketika kenal Mbah Surip.

Mbah Surip telah berhasil mewakili crazy people yang di-must love-i oleh God….. 
Sukses Mbah Surip diraih ketika anggapan persyaratan umur, penampilan, 
pemikiran atau pernik-pernik urusan materi tidak lagi terpenuhi. Banyak 
sedekah, selalu berdoa dan visi sederhananya untuk menyenangkan orang lain 
digendong kemana-mana sebagaimana Mbah Surip menggendong siapa saja yang mau 
digendongnya. “Tak gendong kemana-mana… Mantep to…, enak to…., ha…ha…ha…ha…”.

Orang boleh saja mengatakan Mbah Surip meninggal karena kelelahan, kebanyakan 
ngudut rokok kretek dan kebanyakan ngopi, sementara makannya tidak teratur. 
Tipikal orang-orang ‘gila’ atau gelandangan yang makan dan tidurnya memang 
tidak perlu diatur. Tetapi ‘ketidak-teraturan’ hidup Mbah Surip itlah yang 
merangsangnya menggapai sukses di hari tuanya.

Perlu kegilaan untuk menjadi seperti Mbah Surip. Dan herannya orang-orang 
‘gila’ seperti Mbah Surip itulah yang justru dicintai Tuhan, dalam makna bahwa 
Tuhan akan membuktikan hukum alamnya (sunatullah) bahwa setiap kerja keras yang 
disertai doa tulus pasti, sekali lagi pasti, akan membuahkan hasil. Pasti, 
dalam konotasi sebagai perwujudan terbaik menurut sudut pandang Tuhan. 

Saya tidak tahu apakah Mbah Surip ini tergolong sebagai umat yang tekun 
beribadah atau tidak. Namun setidak-tidaknya, keyakinannya akan arti sebuah 
kerja keras, semangat untuk berbagi dan member, dan berdoa hanya dan hanya 
kepada Tuhan, adalah cermin kesalehannya sebagai seorang hamba. Hamba yang 
‘gila’. Hamba yang berpikir out of the box, bahkan box-nya telah 
disobek-sobeknya. Hamba yang tidak pernah ‘mati’ karena Mbah Surip tidak pernah 
diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya. Hamba yang akan melakukan apa 
saja bahkan dengan medium yang bagi orang awam dianggap aneh. Hamba yang berani 
membuat terobosan. Hamba yang berpikir paradoksal, yang tidak mungkin menjadi 
mungkin. Hamba yang begitu menikmati arti kemedekaan…. (sebentar lagi perayaan 
17-an).

Mbah Surip di usia senjanya seperti sebuah kelahiran baru (aneh, lahir langsung 
tua…) tetapi membawa spirit tentang sukses dan tentang kemauan keras untuk 
sukses. Tidak perdulu teori atau hukum apapun yang diyakini orang lain, 
melainkan keyakinannya bahwa Tuhan akan menyertai orang-orang ‘gila’. Kebebasan 
berekspresi, kata para seniman. Kemerdekaan hidup, kata orang-orang yang pernah 
mengalami penjajahan.

“Selamat jalan, Mbah….. Hati-hati di jalan ya, di Bogor ada tabrakan kereta, di 
Papua ada pesawat keblusuk, di Natuna ada kapal klelep….. Insya Allah, amal 
saleh Sampeyan dicatat di buku besarnya Tuhan Yang Maha Jujur, Adil, Rahasia 
dan Demokratis, tidak seperti catatannya orang-orang yang Sampeyan kenal selama 
ini”.

Merdeka, Mbah…!

Yogyakarta, 4 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Mewakili ekspresi saya tentang Mbah Surip, berikut ini kutipan catatan status 
saya di Facebook :

Tiada seniman yg begitu menginspirasi melainkan Mbak Surip, dan Mbah Surip 
adalah utusan 'orang-2 gila' yg turut membuktikan mampu mengubah 'dunia'.... 
(04/08/09).

“Banyak orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya”, 
kata Spike Lee, sutradara film “Miracles at St. Anna”. (03/08/09).

"Aku tidak hanya berpilkir 'out of the box'. Aku telah merobek-robeknya. ....". 
Penggalan dialog dalam flm "The Fast And The Furious III". (01/08/09)


   


      

Kirim email ke