Berikut adalah catatan perjalanan mendampingi Bu Titi (Dr. Setijati D. 
Sastrapradja, 72 th. Mantan Kepala Lembaga Biologi Nasional dan Staf Khusus KLH 
RI) melakukan kunjungan ke beberapa kolega di Yogya, Magelang dan Dieng; 7-9 
Agustus 2009. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi baru bagi mereka yang 
peduli pada pendidikan anak, pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, & 
keindahan alam.
------------------------------------
 
Perjalanan ini lebih banyak bersama orang-orang yang telah 'melewati' kepuasan 
materi dan menuju pada kepuasan insan kamil. Mereka bukan lagi mencari 
keuntungan materi, tetapi lebih tersentuh pada permasalahan-permasalahan di 
atas (pendidikan anak dst.)
 
Bu Titi didampingi salah seorang staf dari Pusat Penelitian Biologi Bogor, pak 
Yoyon (Yono).
 
Kunjungan pertama ke Rumah Pak Bagyo (Rahman Subagyo, BA - pensiunan BRI - 
pengusaha - Direktur PT PKSS wilayah Yogya dan Jateng bagian selatan).
Selepas pensiun, pak Bagyo terjun ke dunia usaha dengan menggerakkan 3 bisnis, 
yaitu dekorasi manten dengan bunga asli, rental tanaman, dan pemasok sayuran ke 
beberapa supermarket.
Pekerjaan rumah beliau adalah bercocok tanam pada kebun 1 ha di sekitar 
rumahnya, dengan obsesi menjadikannya kebun buah dan media pendidikan pertanian 
untuk anak sekolah dan petani. Tanaman unggulan yang dikembangkan adalah Durian 
montong, Markisa, Pisang Raja, dll.
Konsep spiritual yang sering terucap adalah "saya sudah 30 th lebih mencari 
materi untuk diri sendiri, sekarang saatnya memberikan pada sesama", dalam arti 
berbuat untuk amal kebaikan bagi pelajar, mahasiswa, petani dan siapa saya yang 
memerlukan.
Saat ini beliau dengan masyarakat Dusun Pentingsari Desa Umbulharjo Kec 
Cangkringan Sleman sudah mewujudkan Desa Wisata. Salah satu program inovasi 
yang akan dilaksanakan adalah memberikan label (papan nama - informasi) pada 
berbagai jenis tanaman koleksi setempat beserta fungsinya dan membuat outlet 
tanaman untuk para pengunjung. "Tanaman bukan untuk dipajang, tapi untuk 
dibagikan atau dijual", jelasnya.
 
Kunjungan kedua pada Bu Hery (istri Bambang Hery Subrastawa, BA) di Desa Sambak 
Kec Kajoran Kab Magelang. Bu Hery adalah penggerak kegiatan ibu-ibu di desanya. 
Saat ini tercatat sekitar 40 ibu-ibu aktif mengikuti kegiatan pelestarian 
lingkungan dan pendidikan anak. Kegiatan awal berupa pembibitan tanaman tahunan 
dan penyuluhan. Saat ini mendorong ibu-ibu untuk mengikuti pelatihan menjahit. 
Tujuannya agar mampu memanfaatkan sampah plastik dibuat menjadi barang daur 
ulang yang bermanfaat, seperti tas, map, dll.
Bu Hery setahun ini menjadi anggota dewan fraksi PAN di kab magelang untuk 
mengisi pergantian antar waktu.
Pak Hery sendiri merupakan motor utama pemberdayaan masyarakat dan pelestarian 
lingkungan, yang gaungnya sudah sampai ke taraf internasional. Konsep 
sederhananya adalah bagaimana masyarakat mampu menjaga dan melestarikan hutan 
secara partisipatif, dengan cara membuat kampung ternak di tepi hutan. Rumput 
pakan ternak diambil dari hutan, sebagai 'upah' masyarakat yang telah menjaga 
hutannya.
Ternyata konsep ini memukau bidang kehutanan, pertanian, peternakan dan 
perikanan, dari lingkup kabupaten sampai nasional. Bahkan utusan khusus menteri 
kehutanan amerika datang ke Sambak untuk studi banding (waktunya bersamaan 
dengan kedatangan Presiden Bush ke istana bogor). Banyak juga LSM dan Perguruan 
Tinggi yang terlibat pada derap pemberdayaan ini.
Tamu yang berkunjung bukan hanya dari Jawa, tetapi juga dari lampung, 
kalimantan, aceh dan Nusatenggara.
 
Kunjungan ketiga pada pak Camat Kejajar Wonosobo (Pak Samekto). Bagaimana 
beliau menggerakan komponen pemerintah dan LSM dalam penyelamatan kawasan 
pegunungan Dieng. Kami diajak berkunjung ke beberapa obyek menarik sbb. :
a. Telaga Menjer
Berapa di ketinggian 1500 m dpl, dimana sumber airnya berasal dari terowongan 2 
Km dari Sungai Serayu. dibuat tahun 60an. Air telaga sangat jernih dan 
digunakan untuk budidaya ikan dalam karamba. Suasana sekitar sangat asri dan 
eksotik.
b. Lahan budidaya kentang
Dimana kondisi cadangan air semakin menipis, dan banyak menyedot air dari 
telaga-telaga di kawasan Dieng. Masyarakat didorong untuk beralih ke ternak 
kambing Dobos (perkawinan domba lokal dengan domba aussie, harga 2-3 jt per 
ekor, dagingnya banyak tapi kulitnya gak laku karena tipis).
c. Telaga Warna dan Telaga Pengilon. 
Telaga warna masih sangat eksotik, namun telaga pengilon mengalami pendangkalan 
dan ditumbuhi rumput liar. Jika tidak segera dikonservasi, maka beberapa tahun 
telaga pengilon akan musnah. disekitarnya juga terdapat situs untuk upacara 
adat.
d. Kawah Sikidang
Sikidang artinya seperti Kijang yang melompat-lompat. Kawah di sini memang suka 
berpindah tempat. Obyek di sini sudah menyajikan pasar tradisional yang menjual 
kentang berbagai jenis (kuning, merah, hitam) dan souvenir.
e. Desa tertinggi (2500 m dpl) di kec Kejajar
Permukimannya sangat padat dan sanitasi kurang optimal. Kami mampir di telaga 
dan melihat 4 ekor belibis. Suhu udara sangat dingin (sekitar 11 derajad 
celcius) dan udara berkabut.
f. Museum Purbakala
Kayaknya baru saja dibangun. Berisi benda-benda purbakala seperti patung dan 
potongan candi. Di tata sedemikian rupa dengan sentuhan ilmu pengetahuan bidang 
geologi, budaya/adat, seni dan kondisi sosial masyarakat setempat. Juga 
terdapat ruang pemutaran film.
 
Ada cerita menarik dari salah seorang tokoh di Kejajar ini, yaitu pak Slamet. 
Beliau mendapat julukan beberapa nama tambahan karena memang sesuai, yaitu 
Slamet Sugih-Carica-Koi. Usut punya usut, ternyata beliau termasuk orang 
kepercayaan RI ke 2. Konon, saat menjelang pemilu, selama 40 hari pak Harto 
menginap di rumahnya.
"malah anak saya yang pertama pernah ngompol-i beliau", kenangnya
Kami tadinya menduga beliau adalah 'orang biasa', tapi anggapan itu langsung 
sirna ketika diajak mampir ke salah satu rumahnya di tepi jalan bak kayak 
istana. Betapa tidak, ukuran rumah mungkin 300m2 dan halaman hampir setengah 
lapangan bola, terhampar kolam-kolam ikan dengan air mengalir deras. ternyata 
halaman itu dulu badan sungai ukuran sedang, yang alirannya dialihkan dan 
didesain menjadi air terjun mini. Lantai ruang tamu diberi kaca setebal 4cm, 
dengan hiasan di bawahnya ikan-ikan Koi.
Rumah ini tidak dihuni ! hanya ada 2 penjaga. Ternyata rumah beliau jumlahnya 
lebih dari lima, bahkan sudah merambah ke luar pulau.
Beliau juga mendampingi 16 kelompok tani.
Wah wah......
Bu Titi sampai ngomel : 
"Lha wong sudah ada pak Slamet kok masih bertanya dan nyari dana..."
 
Kami sempat mampir ke rumah pak Camat di dekat terminal wonosobo.
Hwarakadah, ternyata beliau dulu atlet pencak silat dan sering mendapat medali 
emas!
 
Saat kunjungan di wonosobo dan dieng, berbarengan dengan siaran TV saat 
pengepungan 24 jam di Temanggung.
 
Demikianlah,
foto-foto eksotik saya pajang di album facebook [email protected]
agar yang mendapat email ini tidak keberatan muatan hehhee
 
selain itu, pertemuan dengan berbagai orang yang berbeda pekerjaan dan tempat, 
membuat banyak pelajaran memahami karakter orang dan bagaimana melayaninya 
dengan harmonis..
 
sekian
 
M Kundarto
08180 272 6112


      

Kirim email ke