idem lah
suangaaaaaaaaaaaaatttttt setujuuuuuu...
perlu dicermati juga bahwa cara berpikir sebagian orang dengan "dalih
kesetaraan jender" biasanya dilandasi dengan gaya pemikiran sekuler.
hayo... sapa ibu-ibu yang tidak sependapat?

Budiyanto

Pada 6 September 2009 19:59, muhamad kundarto <[email protected]> menulis:

>
>
> Harapan orang tua menguliahkan anaknya, tentu agar si anak lulus menjadi
> sarjana dan mampu menciptakan/mendapat pekerjaan. Begitu juga dengan harapan
> para mahasiswi, kebanyakan mereka ingin bekerja atau berkarier setelah lulus
> jadi sarjana. Amat sangat sedikit sekali para sarjana perempuan itu yang
> bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Andaikan itu terjadi,
> "keadaanlah yang membuat saya menjadi ibu rumah tangga (tidak bekerja lagi)"
> jawab mereka. Sehingga wajar apabila mereka menjadi tidak PD (percaya diri)
> atau bahkan iri bila bertemu dengan teman-teman kuliah dulu yang saat ini
> sudah sukses dalam pekerjaannya. Bahkan rasa galau ini bisa memicu pada
> salah satu polemik dalam keluarga.
>
> Lain lagi dengan cerita simbah tempoe doeloe, bahwa tugas utama perempuan
> adalah 3 M, yaitu Macak (dandan), Masak dan Manak (beranak). Ketiga tugas
> mulia ini banyak ditentang oleh aktifis emansipasi, yang menuntuk
> kesejajaran tugas dan tanggungjawab pria dan wanita. Bahkan ada juga yang
> menganggap ini bentuk keterkungkungan. Jadilah kemudian mencatut semangat
> Kartini agar sah mengatakan bahwa wanita punya hak sejajar dengan laki-laki.
> Namun kemudian 'kesejajaran' ini agak direvisi, mungkin melihat ada beberapa
> perempuan yang bekerja sebagai tukang becak, ojek, sopir bus, petugas pom
> BBM, tentara, polisi, dll. Revisinya adalah pekerjaan tersebut sedemikian
> rupa sehingga tidak menganggu organ reproduksi. Dalam bahasa gaul, pokoknya
> minta kesejajaran hanya pada posisi yang enak-enak saja.....hehe
>
> Menurutku, tingkat kesejajaran untuk perempuan adalah sedemikian rupa
> sehingga tidak menganggu sifat kewanitaannya (kelembutan, keindahan, rasa
> malu, dan kecantikan). Jangan sampai profesi baru malah akan menafikan
> (menghilangkan) sifat kewanitaannya itu. Perlu juga mempertimbangkan faktor
> daya tarik. Sebagian besar lelaki tertarik pada perempuan karena alasan
> fisik. Bahkan sifat malu mempunyai porsi yang besar pula.
>
> Kembali ke profesi Ibu Rumah Tangga....
> Banyak orang menganggap profesi ini kurang bonafit. Pekerjaan ini dianggap
> sepele. Namun bagi yang sudah pernah merasakan sendiri plus membandingkan
> dengan pekerjaan kantor, ternyata pekerjaan rumah jauh lebih banyak menyita
> waktu dan tenaga. Coba kita cermati pekerjaan rumah, dari bangun tidur,
> ibadah, menyiapkan sarapan pagi, membersihkan rumah, mencuci baju, mengurus
> anak, dll. Andaikan ada program realty tukar nasib untuk tugas rumah dan
> tugas kantor, dimana perempuan mengerjakan tugas kantor dan lelaki
> mengerjakan pekerjaan rumah. Hasilnya sudah jelas, sebagian besar lelaki
> tidak siap dengan pekerjaan rumah ini, khususnya urusan mencuci, masak dan
> ngurus anak.
> Artinya, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang luar
> biasa besar. Hanya kita saja yang kadang kurang bisa menghargai pengabdian
> ini.
>
> Belum lagi, keberhasilan kualitas generasi penerus sangat ditentukan oleh
> jasa baik seorang ibu rumah tangga. Betapa banyak wanita berbangga dengan
> prestasi kariernya, namun di dalam rumah membuat raport merah karena
> kualitas anak-anaknya kurang membanggakan.
> Banyak pula wanita karier yang mengklaim bahwa kondisi rumah (baca:
> pendidikan anak) baik-baik saja. Namun secara jujur dalam hatinya mengatakan
> dia akan berpikir keras untuk melakukan substitusi (pengalihan tugas) kepada
> pembantu, kepada playgroup, kepada guru private, kepada guru sekolahnya, dan
> kepada mall sebagai tempat bermain si anak. Tekanan pekerjaan kantor membuat
> si Ibu sangat sulit melaksanakan tugas rumahnya. Dari substitusi itu, baru
> bisa diukur berapa rupiah yang harus dialokasikan.
>
> Kepada para suami, sudahkah anda mengetahui dan mencermati beratnya beban
> pekerjaan sebagai ibu rumah tangga?
> Seperti halnya kepada semua orang yang kadang belum mengetahui dan
> mencermati besarnya kenikmatan yang diberikanNYA.
>
> Kesadaran inilah yang akan membawa kita pada bentuk penghargaan yang tinggi
> pada profesi masing-masing. Profesi di belakang akan sama berharganya dengan
> profesi di depan. Profesi ngurus rumah tangga akan sama berharganya dengan
> profesi mencari nafkah di luar rumah.
> Bahkan dengan status kesarjanaan yang ada dipundak ibu rumah tangga, ini
> berarti modal besar dalam mendidik anak-anaknya.
> Apalagi banyak materi pelajaran anak-anak sekarang jauh melebihi materi
> pendidikan orang tuanya di masa lalu. Harusnya Ibu berbangga dengan hal
> ini...
>
> Ki Asmoro Jiwo
>
>  
>

Kirim email ke