Ibu rumah tangga yang pintar, hasil dari belajar di kampusnya akan men
ghasilkan anak2 yang sangat pintar.


ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com


2009/9/6 ery wijaya <[email protected]>

>
>
> Saya mengidamkan calon istri yang bercita2 jadi Ibu rumah tangga...hehehe
>
> *hayoo ngacung klo ada yg mau
>
> Salam,
>
>
> Ery Wijaya
> http://erywijaya.wordpress.com/
> http://energyplanning.wordpress.com
> <http://energyplanning.wordpress..com%20>
>
> <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id>
>  <http://kamase.org>
>
> ------------------------------
> *From:* Budiyanto <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Sunday, 6 September, 2009 22:33:50
> *Subject:* Re: [kendal-online] Sarjana jadi Ibu Rumah Tangga
>
>
>
> idem lah
> suangaaaaaaaaaaaaat ttttt setujuuuuuu. ..
>
> perlu dicermati juga bahwa cara berpikir sebagian orang dengan "dalih
> kesetaraan jender" biasanya dilandasi dengan gaya pemikiran sekuler.
> hayo... sapa ibu-ibu yang tidak sependapat?
>
> Budiyanto
>
> Pada 6 September 2009 19:59, muhamad kundarto <mask...@yahoo. 
> com<[email protected]>
> > menulis:
>
>>
>>
>> Harapan orang tua menguliahkan anaknya, tentu agar si anak lulus menjadi
>> sarjana dan mampu menciptakan/ mendapat pekerjaan. Begitu juga dengan
>> harapan para mahasiswi, kebanyakan mereka ingin bekerja atau berkarier
>> setelah lulus jadi sarjana. Amat sangat sedikit sekali para sarjana
>> perempuan itu yang bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Andaikan itu
>> terjadi, "keadaanlah yang membuat saya menjadi ibu rumah tangga (tidak
>> bekerja lagi)" jawab mereka. Sehingga wajar apabila mereka menjadi tidak PD
>> (percaya diri) atau bahkan iri bila bertemu dengan teman-teman kuliah dulu
>> yang saat ini sudah sukses dalam pekerjaannya. Bahkan rasa galau ini bisa
>> memicu pada salah satu polemik dalam keluarga.
>>
>> Lain lagi dengan cerita simbah tempoe doeloe, bahwa tugas utama perempuan
>> adalah 3 M, yaitu Macak (dandan), Masak dan Manak (beranak). Ketiga tugas
>> mulia ini banyak ditentang oleh aktifis emansipasi, yang menuntuk
>> kesejajaran tugas dan tanggungjawab pria dan wanita. Bahkan ada juga yang
>> menganggap ini bentuk keterkungkungan. Jadilah kemudian mencatut semangat
>> Kartini agar sah mengatakan bahwa wanita punya hak sejajar dengan laki-laki.
>> Namun kemudian 'kesejajaran' ini agak direvisi, mungkin melihat ada beberapa
>> perempuan yang bekerja sebagai tukang becak, ojek, sopir bus, petugas pom
>> BBM, tentara, polisi, dll. Revisinya adalah pekerjaan tersebut sedemikian
>> rupa sehingga tidak menganggu organ reproduksi. Dalam bahasa gaul, pokoknya
>> minta kesejajaran hanya pada posisi yang enak-enak saja.....hehe
>>
>> Menurutku, tingkat kesejajaran untuk perempuan adalah sedemikian rupa
>> sehingga tidak menganggu sifat kewanitaannya (kelembutan, keindahan, rasa
>> malu, dan kecantikan). Jangan sampai profesi baru malah akan menafikan
>> (menghilangkan) sifat kewanitaannya itu. Perlu juga mempertimbangkan faktor
>> daya tarik. Sebagian besar lelaki tertarik pada perempuan karena alasan
>> fisik. Bahkan sifat malu mempunyai porsi yang besar pula.
>>
>> Kembali ke profesi Ibu Rumah Tangga....
>> Banyak orang menganggap profesi ini kurang bonafit. Pekerjaan ini dianggap
>> sepele. Namun bagi yang sudah pernah merasakan sendiri plus membandingkan
>> dengan pekerjaan kantor, ternyata pekerjaan rumah jauh lebih banyak menyita
>> waktu dan tenaga. Coba kita cermati pekerjaan rumah, dari bangun tidur,
>> ibadah, menyiapkan sarapan pagi, membersihkan rumah, mencuci baju, mengurus
>> anak, dll. Andaikan ada program realty tukar nasib untuk tugas rumah dan
>> tugas kantor, dimana perempuan mengerjakan tugas kantor dan lelaki
>> mengerjakan pekerjaan rumah. Hasilnya sudah jelas, sebagian besar lelaki
>> tidak siap dengan pekerjaan rumah ini, khususnya urusan mencuci, masak dan
>> ngurus anak.
>> Artinya, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang luar
>> biasa besar. Hanya kita saja yang kadang kurang bisa menghargai pengabdian
>> ini.
>>
>> Belum lagi, keberhasilan kualitas generasi penerus sangat ditentukan oleh
>> jasa baik seorang ibu rumah tangga. Betapa banyak wanita berbangga dengan
>> prestasi kariernya, namun di dalam rumah membuat raport merah karena
>> kualitas anak-anaknya kurang membanggakan.
>> Banyak pula wanita karier yang mengklaim bahwa kondisi rumah (baca:
>> pendidikan anak) baik-baik saja.. Namun secara jujur dalam hatinya
>> mengatakan dia akan berpikir keras untuk melakukan substitusi (pengalihan
>> tugas) kepada pembantu, kepada playgroup, kepada guru private, kepada guru
>> sekolahnya, dan kepada mall sebagai tempat bermain si anak. Tekanan
>> pekerjaan kantor membuat si Ibu sangat sulit melaksanakan tugas rumahnya.
>> Dari substitusi itu, baru bisa diukur berapa rupiah yang harus dialokasikan.
>>
>> Kepada para suami, sudahkah anda mengetahui dan mencermati beratnya beban
>> pekerjaan sebagai ibu rumah tangga?
>> Seperti halnya kepada semua orang yang kadang belum mengetahui dan
>> mencermati besarnya kenikmatan yang diberikanNYA.
>>
>> Kesadaran inilah yang akan membawa kita pada bentuk penghargaan yang
>> tinggi pada profesi masing-masing. Profesi di belakang akan sama berharganya
>> dengan profesi di depan. Profesi ngurus rumah tangga akan sama berharganya
>> dengan profesi mencari nafkah di luar rumah.
>> Bahkan dengan status kesarjanaan yang ada dipundak ibu rumah tangga, ini
>> berarti modal besar dalam mendidik anak-anaknya.
>> Apalagi banyak materi pelajaran anak-anak sekarang jauh melebihi materi
>> pendidikan orang tuanya di masa lalu. Harusnya Ibu berbangga dengan hal
>> ini...
>>
>> Ki Asmoro Jiwo
>>
>>
>
>  
>

Kirim email ke