Suatu yg pasti dan tidak pasti adalah Milik Allah Yang baik dan buruk pun Milik Allah Hasil karya manusia adalah karena Allah Mengapa jam kejadian itu pun bertepatan dengan surat Al Qur'an itu hanya karena Allah Yang terpenting "sms Allah" itu bisa dibaca ngak sama manusia??? Bila IQRA berjalan semua 'sms Allah' di gelar di muka bumi ini. Dan pesan Utama hanya agar manusia INGAT akan Allah. Laa ilaaha ilaallah.
mohon maaf, terima kasih didi ________________________________ From: FARID MUJIB <[email protected]> To: [email protected]; forum cah kendal <[email protected]> Sent: Fri, October 9, 2009 6:36:17 AM Subject: [kendal-online] Jam Gempa Klenik Nomor Surat Serta Ayat Al-Qura'an Jam Gempa Klenik Nomor Surat Serta Ayat Al-Qura'an Oleh: Ust. Ahmad Sarwat, LC Ternyata penomoran surat dan ayat di Al-Quran bukan ditetapkan langsung dari langit. Penomoran itu dilakukan oleh manusia, sebagaimana perbedaan penulisan teks Al-Quran di sekian banyak mushaf yang pasti berbeda jumlah halamannya. Lafadz Al-Quran itu memang dari Allah, tetapi penomoran surat dan ayat hanya buatan manusia, meski tetap berdasarkan petunjuk dari Rasulullah SAW. Tetapi penomoran itu tidak baku, sangat mungkin berbeda dan bervariasi. Sebuah SMS masuk ke P1i SonyEricsson saya. Sebuah pertanyaan yang entah dari siapa, saya tidak tahu karena namanya tidak tercatat di phonebook. Tapi isi SMS itu menarik untuk direnungkan. Orang di seberang sana bertanya, bolehkah mempercayai SMS dan kabar yang beredar bahwa ternyata ada kesesuaian antara waktu terjadinya gempa di Padang dan Jambi dengan nomor ayat di Al-Quran. Gempa Padang terjadi pada jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Pengirim SMS tersebut mengatakan bahwa angka-angka itu kalau dicocokkan dengan nomor surat dan ayat Al-Quran ternyata memiliki makna tersendiri.: 17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” 17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).” 8.52 (QS. Al Anfaal: 52): “(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.” Saat itu saya tidak langsung menjawab, sebab memang dalam posisi yang tidak siap untuk menjawab, apalagi hanya pakai SMS. Tapi kemarin ketika meyampaikan ceramah di Majelis Taklim Telkomsel Gatot Subroto, ada pertanyaan serupa yang membuat saya tidak bisa mengelak untuk menjawab. Jawaban saya adalah bahwa intinya hal itu tidak benar. Sangat tidak benar bahkan. Kenapa? Pertama : -Qruan Tidak Mengenal Jam Sistem penghitungan waktu yang dikenal Al-Quran hanya penghitungan hari, bulan dan tahun. Adapun sistem penghitungan waktu dengan jam yang kita gunakan saat ini hanya berlaku di zaman kita ini saja. Pada saat Al-Quran diturunkan 14 abad yang lalu, manusia belum mengenal pembagian waktu yang sehari 24 jam. Di satu sisi, Al-Quran adalah kitab yang abadi, sementara penggunaan sistem waktu dan jam akan selalu berubah. Bagaimana mungkin Al-Quran menyimpan pesan yang hanya dikhususkan untuk satu zaman saja? Di masa mendatang boleh jadi kita akan meninggalkan sistem penghitugan jam yang sekarang ini dengan sitem yang lain. Kalau sehari sekarang ini kita hitung menjadi 24 jam, boleh jadi kapan-kapan kita buat menjadi 100 jam dengan ukuran sama yaitu sehari semalam. Atau boleh jadi kita akan menggunakan sistem jam bintang (baca:stardate) seperti yang diperkenalkan dalam serial film StarTrek. Kalau pakai stardate, gempa di Padang yang jam 17:16 itu adalah -313252.8234398783. Masih minus karena stardate baru akan dimulai pada 1 Januari tahun 2323. Kedua : Jam Kita Adalah Jam Politis Selain Al-Quran tidak mengenal penghitugan waktu dengan jam, pada dasarnya sistem jam yang kita gunakan ini bersifat politis. Gempa di Padang itu hanya dianggap terjadi pada jam 17:16, setidaknya menurut hitungan waktu Indonesia Bagian Barat. Kebetulan Padang itu terdapat di wilayah NKRI. Tapi seandainya -ini hanya seandainya- kota Padang itu bukan bagian dari Negara Indonesia, tentu gempa tidak terjadi pada jam 17:16, tetapi bisa saja malah jam 18:16 atau jam 16:16. Semua tergantung kebijakan pemerintahannya. Kok gitu? Ya memang begitu. Mari kita buat pengandaian. Seandainya kota Padang itu bukan bagian dari Indonesia tapi bagian dari Negara Singapura, maka kejadian gempa itu pasti bukan jam 17:16, tetapi jam 18:16 menruut waktu Singapura saat itu. Sebab Singapura itu meski letaknya lebih di Barat dari Jakarta, tapi secara kebijakan menganut jam yang lebih dulu dari Indonesia. Kalau Jakarta atau WIB itu GMT+7, ternyata SIngapura malah GMT+8. Padahal posisi Singapura lebih ke Barat dibandingkan Jakarta. Seharusnya Jakarta lebih dulu dari Singapura. Tapi sekali lagi karena ini hanya urusan politis 2 negara yang beda pemerintahan, maka akhirnya Singapura yang lebih dekat ke kota Padang malah punya jam yang lebih dulu dari jam Jakarta. Jadi angka 17:16 yang katanya merupakan surat ke-17 ayat ke-16, kalau dikait-kaitkan dengan jam kejadian gempa Padang, tentu 100% dusta, hanyalah ilusi, hayal, dan tidak tepat. Kenapa? Karena penetapan hitungan jam itu bersifat nisbi. Ketiga, sistem penomoran ayat Quran pun pada hakikatnya tidak bersifat tauqifi, melainkan bersifat ijtihadi. Lafadz Al-Quran memang dari Allah SWT yang sampai kepada kita sepanjang 14 abad dengan proses periwayatan yang mutawatir. Tetapi urusan penomoran ayat-ayatnya ternyata tidak merupakan ketetapan dari Allah SWT. Karena itulah kita menemukan para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah total ayat Al-Quran. Ternyata jumlahnya yang konon 6.666 ayat itu malah tidak ada rujukannya. Cobalah iseng-iseng ambil kalkulator lalu jumlahkan semua ayat yang ada di 114 surat, hasilnya pasti bukan 6.666. Lho kok? Nah, biar mudahnya silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang jumlah total ayat Al-quran, silahkan klik di link ini. Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai Al-Quran. Kasusnya sama dengan perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai versi percetakan. Ada mushfah yang tipis dan sedikit mengandung halaman, tapi juga ada mushfah yang tebal dan mengandung banyak halaman. Yang membedakanya adalah ukuran font, jenis dan tata letak (lay out) halaman mushaf. Tidak ada ketetapan dari Nabi SAW bahwa Al-Quran itu harus dicetak dengan jumlah halaman tertentu. Lalu apa kaitannya dengan tema yang kita sedang bahas? Kaitannya adalah bahwa nomor ayat itu juga bersifat nisbi. Kalau angka jam digital menyebutkan 17:16, lalu dianggap itu merupakan kode isyarat nomor surat dan ayat di Al-Quran, maka nomor itu mau menggunakan versi yang mana? Kalau pakai mushaf yang umumnya kita pakai memang barangkali ada kebetulannya untuk cocok, tetapi kita harus ingat bahwa ada berjuta jenis dan versi mushaf di dunia ini, dimana nomor surat dan ayat 17:16 belum tentu terkait dengan musibah gempa. Keempat, Al-Quran Bukan Buku BMG Al-Quran sejak awal diturunkan tidak pernah disebutkan mengandung informasi dunia teknologi. Apalagi hanya dikaitkan dengan nomor-nomor surat atau nomor-nomor ayat di dalamnya. Nomor-nomor itu 100% buatan manusia, sama sekali tidak datang dari Allah SWT. Jadi kalau dipercayai sebagai bagian dari wahyu, sungguh sebuah kekeliruan yang fatal. Memang benar bahwa Al-Quran adalah kitab petunjuk, tetapi tentu saja bukan petunjuk yang terkait dengan hal-hal teknis. Kita tidak akan menemukan tatacara membangun gedung, membikin mobil, menangkap ikan, menanam padi di sawah, atau mengetahui kapan terjadi bencana alam. Jelas sekali Al-Quran tidak diturunkan untuk kebutuhan seperti itu.

