eko likes this ! 2009/10/9 muhamad rasidi <[email protected]>
> > > Suatu yg pasti dan tidak pasti adalah Milik Allah > Yang baik dan buruk pun Milik Allah > Hasil karya manusia adalah karena Allah > Mengapa jam kejadian itu pun bertepatan dengan surat Al Qur'an itu hanya > karena Allah > Yang terpenting "sms Allah" itu bisa dibaca ngak sama manusia??? > Bila IQRA berjalan semua 'sms Allah' di gelar di muka bumi ini. > Dan pesan Utama hanya agar manusia INGAT akan Allah. > Laa ilaaha ilaallah. > > mohon maaf, terima kasih > didi > > ------------------------------ > *From:* FARID MUJIB <[email protected]> > *To:* [email protected]; forum cah kendal < > [email protected]> > *Sent:* Fri, October 9, 2009 6:36:17 AM > *Subject:* [kendal-online] Jam Gempa Klenik Nomor Surat Serta Ayat > Al-Qura'an > > > > Jam Gempa Klenik Nomor Surat Serta Ayat Al-Qura'an > Oleh: Ust. Ahmad Sarwat, LC > > Ternyata penomoran surat dan ayat di Al-Quran bukan ditetapkan langsung > dari langit. Penomoran itu dilakukan oleh manusia, sebagaimana perbedaan > penulisan teks Al-Quran di sekian banyak mushaf yang pasti berbeda jumlah > halamannya. Lafadz Al-Quran itu memang dari Allah, tetapi penomoran surat > dan ayat hanya buatan manusia, meski tetap berdasarkan petunjuk dari > Rasulullah SAW. Tetapi penomoran itu tidak baku, sangat mungkin berbeda dan > bervariasi. > > Sebuah SMS masuk ke P1i SonyEricsson saya. Sebuah pertanyaan yang entah > dari siapa, saya tidak tahu karena namanya tidak tercatat di phonebook. Tapi > isi SMS itu menarik untuk direnungkan. Orang di seberang sana bertanya, > bolehkah mempercayai SMS dan kabar yang beredar bahwa ternyata ada > kesesuaian antara waktu terjadinya gempa di Padang dan Jambi dengan nomor > ayat di Al-Quran. > > Gempa Padang terjadi pada jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di > Jambi jam 8.52. Pengirim SMS tersebut mengatakan bahwa angka-angka itu kalau > dicocokkan dengan nomor surat dan ayat Al-Quran ternyata memiliki makna > tersendiri.: > > *17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16):* > > *“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan > kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) > tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya > berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan > negeri itu sehancur-hancurnya.” > * > *17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58):* > *“Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami > membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab > yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh > Mahfuz).” > * > *8.52 (QS. Al Anfaal: 52):* > *“(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a > serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah > menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha > Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.” > * > > > Saat itu saya tidak langsung menjawab, sebab memang dalam posisi yang tidak > siap untuk menjawab, apalagi hanya pakai SMS. Tapi kemarin ketika > meyampaikan ceramah di Majelis Taklim Telkomsel Gatot Subroto, ada > pertanyaan serupa yang membuat saya tidak bisa mengelak untuk menjawab. > > Jawaban saya adalah bahwa intinya hal itu tidak benar. Sangat tidak benar > bahkan. Kenapa? > > *Pertama : -Qruan Tidak Mengenal Jam* > > Sistem penghitungan waktu yang dikenal Al-Quran hanya penghitungan hari, > bulan dan tahun. Adapun sistem penghitungan waktu dengan jam yang kita > gunakan saat ini hanya berlaku di zaman kita ini saja. > > Pada saat Al-Quran diturunkan 14 abad yang lalu, manusia belum mengenal > pembagian waktu yang sehari 24 jam. Di satu sisi, Al-Quran adalah kitab yang > abadi, sementara penggunaan sistem waktu dan jam akan selalu berubah. > Bagaimana mungkin Al-Quran menyimpan pesan yang hanya dikhususkan untuk satu > zaman saja? > > Di masa mendatang boleh jadi kita akan meninggalkan sistem penghitugan jam > yang sekarang ini dengan sitem yang lain. Kalau sehari sekarang ini kita > hitung menjadi 24 jam, boleh jadi kapan-kapan kita buat menjadi 100 jam > dengan ukuran sama yaitu sehari semalam. > > Atau boleh jadi kita akan menggunakan sistem jam bintang (baca:stardate) > seperti yang diperkenalkan dalam serial film StarTrek. Kalau pakai stardate, > gempa di Padang yang jam 17:16 itu adalah -313252.8234398783. Masih minus > karena stardate baru akan dimulai pada 1 Januari tahun 2323. > > *Kedua : Jam Kita Adalah Jam Politis* > > Selain Al-Quran tidak mengenal penghitugan waktu dengan jam, pada dasarnya > sistem jam yang kita gunakan ini bersifat politis. Gempa di Padang itu hanya > dianggap terjadi pada jam 17:16, setidaknya menurut hitungan waktu Indonesia > Bagian Barat. > > Kebetulan Padang itu terdapat di wilayah NKRI. Tapi seandainya -ini hanya > seandainya- kota Padang itu bukan bagian dari Negara Indonesia, tentu gempa > tidak terjadi pada jam 17:16, tetapi bisa saja malah jam 18:16 atau jam > 16:16. Semua tergantung kebijakan pemerintahannya. > > Kok gitu? > > Ya memang begitu. Mari kita buat pengandaian. Seandainya kota Padang itu > bukan bagian dari Indonesia tapi bagian dari Negara Singapura, maka kejadian > gempa itu pasti bukan jam 17:16, tetapi jam 18:16 menruut waktu Singapura > saat itu. Sebab Singapura itu meski letaknya lebih di Barat dari Jakarta, > tapi secara kebijakan menganut jam yang lebih dulu dari Indonesia. Kalau > Jakarta atau WIB itu GMT+7, ternyata SIngapura malah GMT+8. > > Padahal posisi Singapura lebih ke Barat dibandingkan Jakarta. Seharusnya > Jakarta lebih dulu dari Singapura. Tapi sekali lagi karena ini hanya urusan > politis 2 negara yang beda pemerintahan, maka akhirnya Singapura yang lebih > dekat ke kota Padang malah punya jam yang lebih dulu dari jam Jakarta. > > Jadi angka 17:16 yang katanya merupakan surat ke-17 ayat ke-16, kalau > dikait-kaitkan dengan jam kejadian gempa Padang, tentu 100% dusta, hanyalah > ilusi, hayal, dan tidak tepat. Kenapa? Karena penetapan hitungan jam itu > bersifat nisbi. > > *Ketiga*, sistem penomoran ayat Quran pun pada hakikatnya tidak bersifat > tauqifi, melainkan bersifat ijtihadi. > > Lafadz Al-Quran memang dari Allah SWT yang sampai kepada kita sepanjang 14 > abad dengan proses periwayatan yang mutawatir. Tetapi urusan penomoran > ayat-ayatnya ternyata tidak merupakan ketetapan dari Allah SWT. > > Karena itulah kita menemukan para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan > jumlah total ayat Al-Quran. Ternyata jumlahnya yang konon 6.666 ayat itu > malah tidak ada rujukannya. Cobalah iseng-iseng ambil kalkulator lalu > jumlahkan semua ayat yang ada di 114 surat, hasilnya pasti bukan 6.666. > > Lho kok? > > Nah, biar mudahnya silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang perbedaan > pendapat di kalangan ulama tentang jumlah total ayat Al-quran, silahkan klik > di link > ini<http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1194076695&cari=ayat&tanya=subject> > . > > Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai > Al-Quran. Kasusnya sama dengan perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai > versi percetakan. Ada mushfah yang tipis dan sedikit mengandung halaman, > tapi juga ada mushfah yang tebal dan mengandung banyak halaman. > > Yang membedakanya adalah ukuran font, jenis dan tata letak (lay out) > halaman mushaf. Tidak ada ketetapan dari Nabi SAW bahwa Al-Quran itu harus > dicetak dengan jumlah halaman tertentu. > > Lalu apa kaitannya dengan tema yang kita sedang bahas? > > Kaitannya adalah bahwa nomor ayat itu juga bersifat nisbi. Kalau angka jam > digital menyebutkan 17:16, lalu dianggap itu merupakan kode isyarat nomor > surat dan ayat di Al-Quran, maka nomor itu mau menggunakan versi yang mana? > > Kalau pakai mushaf yang umumnya kita pakai memang barangkali ada > kebetulannya untuk cocok, tetapi kita harus ingat bahwa ada berjuta jenis > dan versi mushaf di dunia ini, dimana nomor surat dan ayat 17:16 belum tentu > terkait dengan musibah gempa. > > *Keempat*, Al-Quran Bukan Buku BMG > > Al-Quran sejak awal diturunkan tidak pernah disebutkan mengandung informasi > dunia teknologi. Apalagi hanya dikaitkan dengan nomor-nomor surat atau > nomor-nomor ayat di dalamnya. Nomor-nomor itu 100% buatan manusia, sama > sekali tidak datang dari Allah SWT. Jadi kalau dipercayai sebagai bagian > dari wahyu, sungguh sebuah kekeliruan yang fatal. > > Memang benar bahwa Al-Quran adalah kitab petunjuk, tetapi tentu saja bukan > petunjuk yang terkait dengan hal-hal teknis. Kita tidak akan menemukan > tatacara membangun gedung, membikin mobil, menangkap ikan, menanam padi di > sawah, atau mengetahui kapan terjadi bencana alam. Jelas sekali Al-Quran > tidak diturunkan untuk kebutuhan seperti itu. > > > > > > > >

