Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 4
--------------------------------------------------------
Matahari
sudah naik sepenggalah. Tiba-tiba ada suara orang ketuk-ketuk pagar
halaman rumah. Bunyinya cukup keras mengagetkan. Ketika saya lihat
keluar ada seorang kakek berdiri di depan pagar sambil meletakkan
pikulannya (bukan pukulannya). Rupanya kakek itu adalah seorang penjual
keranjang yang bermaksud menawarkan dagangannya sambil minta ijin untuk
beristirahat sebentar.
Di depan rumah saya memang ada tempat
duduk dengan konstruksi tembok berkeramik putih. Cocok untuk duduk
santai di kala tidak panas dan tidak hujan (kalau hujan duduk-duduknya
harus sambil bawa payung...). Tempat duduk itu juga tidak dilengkapi
dengan atap atau kanopi, karena khawatir dikira halte bis. Tanpa atap
saja sudah disenangi orang untuk tempat isirahat, seperti kakek yang
pagi itu kecapekan berkeliling kampung menjajakan dagangannya sejak
pagi.
"Kebetulan...", kata saya dalam hati. Ini peluang yang
tidak datang saban hari atau bahkan sebulan sekali pun belum tentu.
Bukan! Bukan peluang untuk membeli keranjang, melainkan peluang untuk
melakukan improvisasi.
Saya lalu kembali masuk rumah dan
bilang sama ibunya anak-anak : "Itu ada yang nawarin keranjang untuk
tempat pakaian kotor...". Istri saya menjawab : "Ah, masih punya
kok....". Pemberitahuan kepada istri saya itu memang sekedar basa-basi
karena sebenarnya saya sudah tahu kalau di rumah masih punya keranjang
pakaian yang kondisinya masih bagus.
Sebenarnya saya hanya ingin
melakukan test. Rupanya apa yang ada di pikiran saya berbeda dengan apa
yang ada di pikiran istri saya. Istri saya berpikir
praktis-logis-realitis, tanpa perlu mempertimbangkan hal-hal di luar
itu. Di rumah sudah ada keranjang, jadi untuk apa beli lagi?. Begitu
kira-kira bunyi pikirannya. Sementara yang ada di pikiran saya berbeda.
Ada seorang kakek ndeso yang berjalan keliling kampung seharian sambil
memikul menawar-nawarkan keranjang. Kalaupun tidak membeli
keranjangnya, apa yang bisa saya lakukan? Begitu kira-kira jalan
pikiran saya berimprovisasi.
Wajarnya seorang perempuan
ex-oficio menteri keuangan negeri rumah tangga, inginnya serba
pragmatis. Ini memang bukan soal baik-buruk atau salah-benar. Ini soal
permakluman saja. Siapapun harus memaklumi kalau punya menteri keuangan
perempuan, maka kadar sentuhan improvisasinya akan berbeda dengan
sentuan-sentuhan sektor riil lainnya. Karena saya suka dengan sentuhan
yang lainnya itu, maka sentuhan improvisasinya tidak terlalu saya
hiraukan.
Ketika kakek tua itu duduk beristirahat, lalu saya
tanya : "Sudah sarapan pak?". Sebutan kakek sebenarnya membahasakan
anak saya, karena usia sebenarnya tentu saja seusia orang tua saya.
Kakek itu menjawab : "Sampun (sudah)...".
Saya menyadari kalau
apa yang saya tanyakan adalah pertanyaan basa-basi. Seandainya benar
bahwa kakek itu belum sarapan, saya duga pasti juga akan bilang
"sampun", khas pembawaan orang desa yang rendah hati (adakalanya campur
sungkan dan malu). Karena itu segera saya kembali masuk rumah lalu
mengambil air mineral dingin untuk saya suguhkan kepada kakek itu.
Kebetulan sekali pagi itu istri saya baru saja membuat perkedel jagung
masih hangat. Ini jenis makanan yang jarang dijual orang dan kalau
kepingin terpaksa harus bikin sendiri (wuih... enak tenan dimakan
dengan cabe rawit....). Maka sekalian saja saya ambil beberapa biji
lalu saya taruh di atas piring kecil dan saya bawa keluar disuguhkan
kepada kakek itu sebagai sarapan.
Sambil menyajikan suguhan,
kemudian saya ikut duduk leyeh-leyeh bareng kakek penjual keranjang
yang sedang beristirahat, sambil mengobrol ngalor-ngidul. Wajah tua nan
letih tergurat jelas di wajah kakek itu, namun senyum dan rona cerahnya
seolah mencerminkan keikhlasan dan kedamaian hatinya. Saya memang hanya
menduga. Tapi dari obrolan kami selanjutnya menyiratkan bahwa dugaan
saya benar.
Kakek yang biasa dipanggil pak Asmudi dan berasal
dari sebuah dusun di kawasan Imogiri, selatan Yogyakarta, masih naik
lagi ke arah perbukitan menuju kecamatan Dlingo itu bercerita banyak
tentang dirinya. Ketika saya tanya berapa umurnya, dia menjawab :
"Seket gangsal (lima puluh lima)". Jelas saya tidak percaya, karena
berarti lebih pantas saya sebut kakak, bukan kakek. Lalu katanya lagi
mengoreksi : "Tapi ya mungkin sekitar 60 tahun". Dan saya masih tidak
percaya. Akhirnya kami sepakat bahwa umur yang pantas bagi kakek itu
adalah 65 tahun. Lha wong sama-sama tidak tahu umurnya, ya demokratis
saja, lalu dibuat kesepakatan. Umur pensiun pejabat saja bisa
diulur-ulur apalagi kok cuma umur tukang keranjang, yang berapapun
umurnya tidak akan berpengaruh apapun bagi nasibnya. Berbeda dengan
masa jabatan seorang pejabat.
Pak Asmudi lalu melepas sandal
jepit warna birunya yang untungnya masih tampak berbentuk sandal, lalu
mengangkat satu kakinya disilangkan di atas tempat duduknya. Sambil
menatap kakinya yang nampak berwarna sawo busuk, mengkilap, berkulit
keras, pecah-pecah dan njeber (melebar), pak Asmudi bercerita dengan
bangga dan penuh syukur (karena beberapa kali mengucapkan kalimat
"alhamdulillah" dalam omongannya), bahwa empat dari lima anaknya sudah
mentas (hidup berumah tangga yang berarti tidak lagi menjadi
tanggungannya). Kini, dia dibantu anak bungsunya dan istrnya bekerja
menganyam bambu untuk dijadikan keranjang. Kawasan seputaran Imogiri
memang merupakan salah satu sentra industri rumahan anyaman bambu.
Selain berupa keranjang pakaian yang oleh orang kampungnya disebut
gorong, para tetangganya juga membuat tambir atau tampah, kalo atau
saringan dari bambu.
Untuk membuat anyaman keranjang bambu
sebenarnya melalui tahapan pekerjaan yang tidak sederhana. Bambunya
lebih dahulu direndam dalam air sebelum disayat tipis-tipis. Belum lagi
ketika mewarnai juga direndam dalam air berwarna (orang desa biasa
menyebut di-naptol). Proses rendam-merendam ini bisa berlangsung
beberapa hari. Sedangkan untuk menganyamnya sehari bisa selesai.
Makanya pak Asmudi setiap empat-lima hari sekali turun ke kota sambil
membawa keranjang bertumpuk-tumpuk.
Seperti kebiasaannya
setiba di terminal, lalu mulailah berjalan kaki menyusuri
kampung-kampung menawarkan keranjangnya. Entah berapa kilometer jarak
tempuh perjalanannya sejak pagi hingga sore. Beruntung kalau sehari itu
langsung habis, berarti bisa pulang dengan ongkos lebih murah karena
tidak harus membayar ongkos angkut keranjangnya yang tentu saja memakan
tempat di kendaraan sehingga harus membayar lebih mahal. Kalau hari itu
tidak habis? Pak Asmadi berkata lugu : "Rejeki sampun wonten ingkang
ngatur.... (rejeki sudah ada yang mengatur)", katanya ringan sambil
terkekeh kecil.
Satu set keranjangnya biasanya terdiri dari
tiga ukuran. Boleh dibeli satu set, boleh juga satu atau dua ukuran
saja. Meski keluarga saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan keranjang
pakaian, pagi itu saya beli juga sebuah yang berukuran paling kecil
yang katanya untuk saya dihargai Rp 10.000,- yang akhirnya saya bayar
lebih. Karena sesungguhnya saya bukan sedang membeli keranjang (toh
sampai sekarang keranjang itu nganggur), melainkan saya sedang membeli
peluang untuk memberi kesempatan kepada pak Asmudi memperoleh
penghasilan yang halal.
Peluang itulah yang saya beli. Dan
sesungguhnya bukan saja peluang itu, melainkan peluang ikutannya
seperti memberi sekedar minum dan sarapan. Bahkan memberinya pakaian
pantas pakai ketika sebelum pak Asmudi pamit melanjutkan perjalanannya
sempat bertanya apa punya telesan (atau basahan, yang maksudnya pakaian
bekas yang bisa dipakai di rumah). Apa yang saya lakukan pagi itu
sesungguhnya hanya sebuah langkah kecil yang secara kasat mata relatif
tidak berarti banyak. Namun saya menganggap bahwa improvisasi hidup
semacam itu terkadang perlu dilakukan, agar irama kehidupan ini tidak
membosankan.
Tuhan memang ruarr biasa..... telah memberi saya
kesempatan berimprovisasi di pagi itu, sambil duduk leyeh-leyeh
mengobrol santai ngalor-ngidul dengan kakek penjual keranjang.
Kesempatan yang tidak datang setiap saat dan yang ketika datang malah
jarang dilihat apalagi ditangkap orang. Betapa sering kita berniat
melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang, dan kalau
kemudian kesempatan itu datang sepertinya banyak hal menghalangi untuk
merealisasikannya.
Yogyakarta, 16 Oktober 2009
Yusuf Iskandar
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 1