ASSLKUM..WWBRTH, oowwnakkkkk banget maos artikel mas YUSUF, kados membaca 
bukunya,atau artikelnya Pak SUKARDI RINAKIT, sedari dulu klo wonten artikel yg 
utamnya di muat di Hr.Kompas saya mendahulukan mbaca artikelnya 
PakSukardiRinakit.
Salam sukses ya mas YUSUF moga sehat sehat saja, oh ya salam juga buat para 
netter di KENDALONLINE, juga MasJamal,PakUPIN yg di NAD, juga keluarga besar di 
Sukodono Kendal < masrokhan,Masrokhin, dll di depan pasar Putat/Sukodono> 
thanks again and enjoy,..... luar biasa. Wassalam.

--- Pada Jum, 16/10/09, Yusuf Iskandar <[email protected]> menulis:


Dari: Yusuf Iskandar <[email protected]>
Judul: [kendal-online] Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu - Bag 4
Kepada: "Kendal Online" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 16 Oktober, 2009, 2:53 AM


  







Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 4
------------ --------- --------- --------- --------- -------- 

Matahari sudah naik sepenggalah. Tiba-tiba ada suara orang ketuk-ketuk pagar 
halaman rumah. Bunyinya cukup keras mengagetkan. Ketika saya lihat keluar ada 
seorang kakek berdiri di depan pagar sambil meletakkan pikulannya (bukan 
pukulannya). Rupanya kakek itu adalah seorang penjual keranjang yang bermaksud 
menawarkan dagangannya sambil minta ijin untuk beristirahat sebentar. 

Di depan rumah saya memang ada tempat duduk dengan konstruksi tembok berkeramik 
putih. Cocok untuk duduk santai di kala tidak panas dan tidak hujan (kalau 
hujan duduk-duduknya harus sambil bawa payung...). Tempat duduk itu juga tidak 
dilengkapi dengan atap atau kanopi, karena khawatir dikira halte bis. Tanpa 
atap saja sudah disenangi orang untuk tempat isirahat, seperti kakek yang pagi 
itu kecapekan berkeliling kampung menjajakan dagangannya sejak pagi.

"Kebetulan.. .", kata saya dalam hati. Ini peluang yang tidak datang saban hari 
atau bahkan sebulan sekali pun belum tentu. Bukan! Bukan peluang untuk membeli 
keranjang, melainkan peluang untuk melakukan improvisasi. 

Saya lalu kembali masuk rumah dan bilang sama ibunya anak-anak : "Itu ada yang 
nawarin keranjang untuk tempat pakaian kotor...". Istri saya menjawab : "Ah, 
masih punya kok....". Pemberitahuan kepada istri saya itu memang sekedar 
basa-basi karena sebenarnya saya sudah tahu kalau di rumah masih punya 
keranjang pakaian yang kondisinya masih bagus.

Sebenarnya saya hanya ingin melakukan test. Rupanya apa yang ada di pikiran 
saya berbeda dengan apa yang ada di pikiran istri saya. Istri saya berpikir 
praktis-logis- realitis, tanpa perlu mempertimbangkan hal-hal di luar itu. Di 
rumah sudah ada keranjang, jadi untuk apa beli lagi?. Begitu kira-kira bunyi 
pikirannya. Sementara yang ada di pikiran saya berbeda. Ada seorang kakek ndeso 
yang berjalan keliling kampung seharian sambil memikul menawar-nawarkan 
keranjang. Kalaupun tidak membeli keranjangnya, apa yang bisa saya lakukan? 
Begitu kira-kira jalan pikiran saya berimprovisasi.

Wajarnya seorang perempuan ex-oficio menteri keuangan negeri rumah tangga, 
inginnya serba pragmatis. Ini memang bukan soal baik-buruk atau salah-benar. 
Ini soal permakluman saja. Siapapun harus memaklumi kalau punya menteri 
keuangan perempuan, maka kadar sentuhan improvisasinya akan berbeda dengan 
sentuan-sentuhan sektor riil lainnya. Karena saya suka dengan sentuhan yang 
lainnya itu, maka sentuhan improvisasinya tidak terlalu saya hiraukan. 

Ketika kakek tua itu duduk beristirahat, lalu saya tanya : "Sudah sarapan 
pak?". Sebutan kakek sebenarnya membahasakan anak saya, karena usia sebenarnya 
tentu saja seusia orang tua saya. Kakek itu menjawab : "Sampun (sudah)...".

Saya menyadari kalau apa yang saya tanyakan adalah pertanyaan basa-basi. 
Seandainya benar bahwa kakek itu belum sarapan, saya duga pasti juga akan 
bilang "sampun", khas pembawaan orang desa yang rendah hati (adakalanya campur 
sungkan dan malu). Karena itu segera saya kembali masuk rumah lalu mengambil 
air mineral dingin untuk saya suguhkan kepada kakek itu. Kebetulan sekali pagi 
itu istri saya baru saja membuat perkedel jagung masih hangat. Ini jenis 
makanan yang jarang dijual orang dan kalau kepingin terpaksa harus bikin 
sendiri (wuih... enak tenan dimakan dengan cabe rawit....). Maka sekalian saja 
saya ambil beberapa biji lalu saya taruh di atas piring kecil dan saya bawa 
keluar disuguhkan kepada kakek itu sebagai sarapan.

Sambil menyajikan suguhan, kemudian saya ikut duduk leyeh-leyeh bareng kakek 
penjual keranjang yang sedang beristirahat, sambil mengobrol ngalor-ngidul. 
Wajah tua nan letih tergurat jelas di wajah kakek itu, namun senyum dan rona 
cerahnya seolah mencerminkan keikhlasan dan kedamaian hatinya. Saya memang 
hanya menduga. Tapi dari obrolan kami selanjutnya menyiratkan bahwa dugaan saya 
benar.

Kakek yang biasa dipanggil pak Asmudi dan berasal dari sebuah dusun di kawasan 
Imogiri, selatan Yogyakarta, masih naik lagi ke arah perbukitan menuju 
kecamatan Dlingo itu bercerita banyak tentang dirinya. Ketika saya tanya berapa 
umurnya, dia menjawab : "Seket gangsal (lima puluh lima)". Jelas saya tidak 
percaya, karena berarti lebih pantas saya sebut kakak, bukan kakek. Lalu 
katanya lagi mengoreksi : "Tapi ya mungkin sekitar 60 tahun". Dan saya masih 
tidak percaya. Akhirnya kami sepakat bahwa umur yang pantas bagi kakek itu 
adalah 65 tahun. Lha wong sama-sama tidak tahu umurnya, ya demokratis saja, 
lalu dibuat kesepakatan. Umur pensiun pejabat saja bisa diulur-ulur apalagi kok 
cuma umur tukang keranjang, yang berapapun umurnya tidak akan berpengaruh 
apapun bagi nasibnya. Berbeda dengan masa jabatan seorang pejabat. 

Pak Asmudi lalu melepas sandal jepit warna birunya yang untungnya masih tampak 
berbentuk sandal, lalu mengangkat satu kakinya disilangkan di atas tempat 
duduknya. Sambil menatap kakinya yang nampak berwarna sawo busuk, mengkilap, 
berkulit keras, pecah-pecah dan njeber (melebar), pak Asmudi bercerita dengan 
bangga dan penuh syukur (karena beberapa kali mengucapkan kalimat 
"alhamdulillah" dalam omongannya), bahwa empat dari lima anaknya sudah mentas 
(hidup berumah tangga yang berarti tidak lagi menjadi tanggungannya) . Kini, 
dia dibantu anak bungsunya dan istrnya bekerja menganyam bambu untuk dijadikan 
keranjang. Kawasan seputaran Imogiri memang merupakan salah satu sentra 
industri rumahan anyaman bambu. Selain berupa keranjang pakaian yang oleh orang 
kampungnya disebut gorong, para tetangganya juga membuat tambir atau tampah, 
kalo atau saringan dari bambu. 

Untuk membuat anyaman keranjang bambu sebenarnya melalui tahapan pekerjaan yang 
tidak sederhana. Bambunya lebih dahulu direndam dalam air sebelum disayat 
tipis-tipis. Belum lagi ketika mewarnai juga direndam dalam air berwarna (orang 
desa biasa menyebut di-naptol). Proses rendam-merendam ini bisa berlangsung 
beberapa hari. Sedangkan untuk menganyamnya sehari bisa selesai. Makanya pak 
Asmudi setiap empat-lima hari sekali turun ke kota sambil membawa keranjang 
bertumpuk-tumpuk. 

Seperti kebiasaannya setiba di terminal, lalu mulailah berjalan kaki menyusuri 
kampung-kampung menawarkan keranjangnya. Entah berapa kilometer jarak tempuh 
perjalanannya sejak pagi hingga sore. Beruntung kalau sehari itu langsung 
habis, berarti bisa pulang dengan ongkos lebih murah karena tidak harus 
membayar ongkos angkut keranjangnya yang tentu saja memakan tempat di kendaraan 
sehingga harus membayar lebih mahal. Kalau hari itu tidak habis? Pak Asmadi 
berkata lugu : "Rejeki sampun wonten ingkang ngatur.... (rejeki sudah ada yang 
mengatur)", katanya ringan sambil terkekeh kecil. 

Satu set keranjangnya biasanya terdiri dari tiga ukuran. Boleh dibeli satu set, 
boleh juga satu atau dua ukuran saja. Meski keluarga saya sebenarnya sedang 
tidak membutuhkan keranjang pakaian, pagi itu saya beli juga sebuah yang 
berukuran paling kecil yang katanya untuk saya dihargai Rp 10.000,- yang 
akhirnya saya bayar lebih. Karena sesungguhnya saya bukan sedang membeli 
keranjang (toh sampai sekarang keranjang itu nganggur), melainkan saya sedang 
membeli peluang untuk memberi kesempatan kepada pak Asmudi memperoleh 
penghasilan yang halal. 

Peluang itulah yang saya beli. Dan sesungguhnya bukan saja peluang itu, 
melainkan peluang ikutannya seperti memberi sekedar minum dan sarapan. Bahkan 
memberinya pakaian pantas pakai ketika sebelum pak Asmudi pamit melanjutkan 
perjalanannya sempat bertanya apa punya telesan (atau basahan, yang maksudnya 
pakaian bekas yang bisa dipakai di rumah). Apa yang saya lakukan pagi itu 
sesungguhnya hanya sebuah langkah kecil yang secara kasat mata relatif tidak 
berarti banyak. Namun saya menganggap bahwa improvisasi hidup semacam itu 
terkadang perlu dilakukan, agar irama kehidupan ini tidak membosankan. 

Tuhan memang ruarr biasa..... telah memberi saya kesempatan berimprovisasi di 
pagi itu, sambil duduk leyeh-leyeh mengobrol santai ngalor-ngidul dengan kakek 
penjual keranjang. Kesempatan yang tidak datang setiap saat dan yang ketika 
datang malah jarang dilihat apalagi ditangkap orang. Betapa sering kita berniat 
melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang, dan kalau kemudian 
kesempatan itu datang sepertinya banyak hal menghalangi untuk merealisasikannya.

Yogyakarta, 16 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3 
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2 
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 1 
















      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke