Berimprovisasi Di Warung Soto Pak Marto Jogja
---------------------------------------------------------------

Dalam perjalanan mengantar istri ke tokonya, tiba-tiba beliau mengajak berhenti 
mampir ke Warung Soto Pak Marto di Jl. Janti Jogja. "Lapar", katanya singkat. 
"Sama", jawab saya juga singkat. Sebelumnya memang sudah beberapa kali kami 
mampir ke warung soto ini. Lokasinya di jalan utama masuk Jogja dari sisi 
tenggara, tepatnya di seberang agak ke barat dari balai Jogja Expo Center 
(JEC), memang cukup strategis. Mudah dicari dan dihampiri.

Siang itu suasana warung agak ramai karena ada rombongan bis besar yang juga 
berhenti makan siang. Meski bernama warung, tapi tampilannya sebenarnya cukup 
megah. Barangkali sebutan warung dimaksudkan untuk mengenang masa-masa almarhum 
Pak Marto merintis usahanya sebagai tukang soto lebih 25 tahun yll. di lokasi 
itu. Ketika itu penggal ke barat jalan Janti masih menjadi kawasan jin buang 
anak (hasil hubungan gelap barangkali...) alias ndeso, sepi dan masih berupa 
jalan desa.

Seputaran tahun 1983 Pak Marto memulai bisnis sotonya. Semakin hari sotonya 
semakin dikenal dan menjadi jujukan para penyoto (penggemar soto) dari kawasan 
sekitarnya. Namun sayang, Pak Marto tidak sempat lama menikmati sukses dari 
hasil kerja kerasnya. Tahun 1995 Pak Marto berpulang, lalu disusul Bu Marto 
sekitar dua tahun kemudian. Kini bisnis sotonya masih terus berkibar dan 
dilanjutkan oleh generasi kedua dan ketiganya. Seperti warung soto yang di Jl. 
Janti itu kini dikelola oleh salah seorang cucunya. Sementara Warung Soto Pak 
Marto pun semakin merambah membuka cabangnya di berbagai kota.

Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Kalau kategori rasa itu boleh diskala jadi 
tiga: pertama enak, kedua enak banget, dan ketiga hoenak tenan..., maka soto 
Pak Marto termasuk enak. Jenis sotonya adalah soto daging sapi, cuma dagingnya 
kurang full, masih setengah-setengah.... Saya dapat memakluminya kalau 
alasannya karena harga jualnya yang semangkuk Rp 7.000,-disesuaikan dengan 
harga beli daging sapi di pasar. 

Seperti umumnya warung makan di Jogja, maka selalu ada asesori kecap manis 
disediakan. Rupanya di warung ini tidak memilih kecap terkenal yang katanya 
dibuat dari kedelai hitam, melainkan kecap lokal cap Ayam yang kecapnya kental 
dan lebih terasa manis gulanya ketimbang kedelainya. Meski demikian, kalau lagi 
berada di sisi tenggara Jogja, warung soto Pak Marto ini bisa jadi pilihan 
untuk petualangan kuliner soto-menyoto. Nama besar Pak Marto seolah menjadi 
jaminan para penggemar soto.

*** 

Di warung itu kami mengambil tempat duduk yang dekat jalan masuk, karena 
kebetulan tempat itu yang kosong. Sambil menikmati hangatnya sruputan kuah soto 
yang bening menyegarkan, lalu datang seorang pengamen memainkan alat musiknya 
yang sangat sederhana. "Icik-icik" namanya. Sejenis alat musik seadanya terbuat 
dari kayu yang dilengkapi entah apa, sehingga kalau digoyang-goyang berbunyi 
"icik-icik".... Pengamen itu adalah seorang bapak tua yang jalannya sudah agak 
membungkuk berbaju warna hijau pupus lusuh. Jelas bukan memainkan lagu. Tanpa 
intro, tanpa reffrain dan bukan juga lupa syairnya, melainkan sekedar irama 
musik monoton yang baru bisa berhenti setelah disodori uang.

Satu menit, dua menit.... Musik itu masih berbunyi. Sementara tidak seorangpun 
pelayan warung yang perduli, saking sibuknya mondar-mandir melayani pengunjung 
warung yang lagi ramai. Padahal yang diharapkan oleh pengamen itu barangkali 
hanya sekedar uang cepek-nopek. Kalau sesekali ada yang memberi koin gopek, 
sudah sangat berterima kasih.

Tiga menit, empat menit.... Belum juga ada orang warung yang memperdulikannya. 
Mulailah pikiran kreatif saya yang sedang kelebihan energi positif menangkap 
peluang. Ya, peluang untuk sedikit berimprovisasi spontan mengambil alih 
kepedulian terhadap bapak tua pengamen "icik-icik" itu. Lalu saya hampiri 
pengamen tua itu sambil saya sodorkan selembar ribuan. Benar juga, musik 
langsung berhenti dan pengamen tua itu ngeloyor pergi sambil berterima kasih. 
Mission accomplished. Saya pun duduk kembali, melanjutkan nyruput soto, tanpa 
sepatah kata pun pembicaraan tentang pengamen tua melainkan melanjutkan ngobrol 
dengan istri yang tadi terputus sebentar.

Usai nyoto, becanda sebentar dengan cucunya Pak Marto, lalu beranjak 
meninggalkan tempat parkir. Entah datang energi positif dari mana, tahu-tahu 
terpikir untuk melakukan improvisasi tahap kedua. Membuka kaca mobil sebelah 
kanan (kalau sebelah kiri terlalu jauh....), lalu menyodorkan uang parkir dalam 
satuan agak besar. Ketika tukang parkir separuh baya itu hendak mengambil 
kembaliannya, segera saya berbisik : "Tulung turahane diwenehke anake 
njenengan....(tolong sisanya diberikan kepada anak Bapak)".
  
Segera tancap gas, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang tukang parkir itu 
melainkan ngobrol lain dengan istri. And another mission accomplished. Begitu 
saja. Lalu perjalanan pun dilanjutkan menuju toko di Madurejo, kecamatan 
Prambanan, Jogja.

Just a simple improvisation in my life. Saya sedang membicarakan nominal uang 
yang relatif tidak seberapa dibanding harga soto yang barusan saya santap dan 
rokok yang saya hisap. Tapi dipastikan manfaatnya sangat besar bagi orang-orang 
yang sedang membutuhkan. Saya sendiri heran, kenapa sangat jarang saya 
melakukan hal-hal kecil seperti ini. Tepatnya, jarang terpikir untuk lebih 
sering melakukannya. Padahal jumlah uang yang saya libatkan dalam improvisasi 
kecil semacam itu sama sekali tidak akan mengganggu roda ekonomi dan kehidupan 
saya maupun keluarga saya. Tapi berat rasanya untuk sering-sering melakukannya. 
Butuh dorongan kuat untuk merangsang bangkitnya energi positif yang nilai 
manfaatnya luar biasa, tanpa saya sadari wujudnya.   
 
Yogyakarta, 22 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke