Obrolan Seorang Bapak Dan Anak Perempuannya
----------------------------------------------------------------

Anak perempuanku yang baru tahun pertama kuliah, malam itu minta dijemput ke 
kampusnya sepulang dari kegiatan outbond ke luar kota. Pada waktu yang 
bersamaan saya telanjur ada janji mau ketemuan dengan seorang teman, di sebuah 
café di Jogja. Lokasi café dan kampusnya sama-sama jauh dari rumah, tapi 
jalurnya searah. Agar saya tidak perlu bolak-balik menjemput anakku lalu pulang 
dan berangkat lagi padahal rutenya sama, maka tiba-tiba saja muncul ide untuk 
menggabungkan kedua agenda itu. Saya merencanakan untuk menjemput anakku dulu, 
kemudian pulangnya mampir ke café ketemu seorang teman.

Sebelum berangkat dari rumah saya berdoa di dalam hati. Benar-benar saya berdoa 
dengan hidmat. Bukan sekedar selintas di pikiran dengan kata 'mudah-mudahan', 
sebagaimana salah kaprah yang sering dilakukan orang bahwa dikiranya yang 
namanya berdoa itu cukup dengan melintaskan harapan di pikiran, lalu selebihnya 
: "Tuhan kan Maha Tahu" (ya memang sudah sejak dulu kalau Tuhan itu Maha Tahu). 
Doa saya bunyinya kira-kira begini : "Tuhan, kalau sekiranya niat mengajak anak 
perempuanku mampir ke café malam ini adalah baik, tolong dimudahkan. Tapi jika 
menurut Panjenengan tidak baik, beri saya keikhlasan untuk nyopir 
bolak-balik...".

Sampai di kampus, anak perempuanku pas baru tiba juga. Dia langsung masuk mobil 
lalu kemudian saya memutar balik kendaraan. Sebelum mulai jalan, anakku saya 
tanya dulu tentang kesediannya untuk saya ajak mampir café dan menemani 
bapaknya ketemu seorang teman. Jangan-jangan dia kecapekan dan tidak setuju. 
Tapi rupanya anakku setuju dan bersedia ikut ke café. Maka meluncurlah kami ke 
sebuah café. Ya, seorang bapak berusia menjelang setengah abad bersama anak 
gadisnya lalu turun dari mobil dan masuk café.

Sesampai di sana, mengambil tempat duduk, pesan makanan dan minuman sekedarnya, 
lalu saya pun ngobrol ngalor-ngidul dengan teman. Sementara anakku yang juga 
duduk semeja (barangkali) turut mendengarkan obrolan orang tuanya sambil 
memainkan HP-nya. Sesekali anakku saya ajak bicara. Sekitar satu setengah jam 
lebih sedikit lamanya kami nongkrng di cafe, hingga kemudian kami pun pulang.

Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dengan peristiwa ini. Lebih-lebih di kota 
besar, nongkrong di café malam-malam bagi seorang perempuan maupun orang tua 
sebaya saya bukanlah hal yang aneh. Tapi tidak bagi bapaknya anak perempuanku 
itu yang  termasuk manusia konservatif. Maka momen itu saya manfaatkan untuk 
mendiskusikan beberapa hal, sambil kami berkendaraan pulang. 

*** 

Seorang bapak dan seorang anak perempuan malam-malam nongkrong di café tanpa 
ada alasan yang jelas, sepanjang pemahaman saya tidak pernah ada referensi 
rujukannya. Artinya, kalau mau ditimbang-timbang antara manfaat dan 
mudharatnya, hampir pasti, sekali lagi hampir pasti lebih banyak mudharatnya. 
Begitulah menurut ilmu yang pernah saya pelajari sejak dari buaian dulu hingga 
sekarang sebelum masuk kubur. Jika kemudian di jaman sekarang pemandangan itu 
seperti lumrah dijumpai, maka itu pasti bukan salah ilmunya melainkan pelaku 
jamannya. Kalau jamannya sih baik-baik saja, sekedar pergantian waktu dari 
malam ke siang, hari ke bulan, tahun ke abad, dst. Tapi justru pelakunya ini 
yang susah diatur karena memiliki nafsu dan akal yang keduanya sering 
uncontrollable.

Sambil berkendaraan santai, sambil saya bercerita menunjukkan café-café yang 
kalau malam banyak dikunjungi anak-anak perempuan muda, entah pelajar, entah 
mahasiswa, entah pekerja, entah yang merangkap semuanya. Termasuk hotel yang 
menerapkan tarif spesial short time sehingga banyak dikeluar-masuki tamu. 
Termasuk tempat-tempat makan yang enak. Lho, kok bapaknya malah tahu? Lha 
itulah repotnya, untuk bisa memberitahu memang harus tahu duluan (dasar!).

Tapi inti sebenarnya dari obrolan bapak dan anak perempuan itu adalah memberi 
sebuah pemahaman (bukan nasehat, sebab anak sekarang suka apatis kalau 
mendengar istilah nasehat apalagi dari orang tuanya). Pemahaman bahwa bukanlah 
hal yang baik dan benar kalau ada anak perempuan malam-malam suka keluyuran dan 
nongkrong di café, kalau bukan karena ada urusan yang mendesak (tapi celakanya 
sekarang ini segala urusan itu kok ya kelihatannya mendesak semua, atau 
terkadang didesak-desakkan). 

Bukan tidak boleh (takut juga bapaknya kalau dibilang suka ngatur), sesekali 
okelah oleh karena ada alasan yang dapat diterima oleh pertimbangan akalnya 
sendiri (tidak dibutuhkan akal orang lain untuk mempertimbangkannya). Maka 
itulah pentingnya mendidik dan memberi makan yang sehat bagi akalnya sendiri, 
agar tidak bergantung kepada akal orang lain. Namun kalau nongkrong di café itu 
menjadi kebiasaan...., ya bukan salah juga. Hanya ya itu tadi, digaransi bahwa 
mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya.

"Lagian ya ngapain saya nongkrong di café", komentar anak perempuanku ini 
membuat hati saya mak plong... Saya percaya dengan kejujurannya (kalau tidak 
percaya ya jangan jadi bapaknya).   

Ngiras-ngirus (sekalian) saya bercerita kepada anakku bahwa terkadang bapaknya 
juga nongkrong sampai malam di café, untuk tujuan ketemu klien atau partner 
kerja, melakukan lobby, meeting dan terkadang juga berjudul hang out. Sebab 
profesi bapaknya memang menuntut untuk banyak ketemu orang. Tapi saya 
memastikan kepada anakku bahwa dari rumah tujuannya mesti benar dan lurus dulu, 
sebab di luaran sana banyak fasilitas untuk miring-miring, bahkan terkadang 
dapat diperoleh dengan gratis. 

Akhirnya anak perempuanku tertawa ngakak ketika saya bilang : "Tapi ibu tidak 
tahu kalau bapak pergi ke café. Bapak bukannya berbohong sama ibu, melainkan 
hanya tidak mengatakan yang sebenarnya...", dan anakku pun terus tertawa. Saya 
tidak tahu tertawa ngakaknya anakku ini karena menganggap cerita bapaknya ini 
lucu, atau malah melecehkan bapaknya, atau jangan-jangan senang karena punya 
bapak 'enggak seberapa gila'. Sebab ibunya anak perempuanku ini lebih 
konservatif lagi dibanding bapaknya, sehingga rentan terhadap kemungkinan salah 
paham. Biar tidak sulit menjelaskannya (kelamaan diskusi sebelum berangkat 
malah akhirnya tidak jadi pergi), mendingan tidak mengatakan yang sebenarnya 
tanpa harus berbohong.

Dunia ini memang butuh orang-orang yang konservatif. Dunia menjadi indah justru 
karena ada orang-orang yang konservatif cara berpikirnya, juga negara dan 
keluarga, agar perilaku kehidupan ini sak madyo (sedang-sedang saja), 
proporsional, sewajarnya dan tidak kebablasan seperti para penguasa otonomi 
daerah. 

Yogyakarta, 23 Nopember 2009
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke