Setengah Malam Bersama Teman Lama -----------------------------------------------------
Tiba-tiba ditilpun oleh seorang teman kuliah dan seorang teman kost yang sudah lebih 20 tahun tidak bertemu. Segera meninggalkan rumah lalu meluncur menuju sebuah kafe angkringan di pusat kota Jogja. Maka setengah malam pun habis untuk mengilas balik perjalanan selama itu (belum dua pertiga malam, agar masih cukup waktu di rumah untuk memanfaatkan sisanya yang sepertiga malam). Di angkringan T'nong, tepat d perempatan seberang Galeria (dulu dikenal dg kawasan bioskop Rahayu), sambil menikmati pemandang kepadatan lalu-lintas malam di tengah kota Jogja, di bangjo Galeria Mall (dasar ndeso, warung angkringan ini sudah ada sejak lebih setahun yll. tapi saya baru tahu tadi malam padahal lokasinya ada di jantung kota). Suasananya santai, meski di tengah kepadatan kota tapi tidak berisik. Kelak akan saya pertimbangkan untuk menjadi tempat pertemuan di lain waktu. Menu kopi T'nong saya suka, kopi campur susu, jahe dan rempah-rempah. Masih juga cengengesan dan cekakaan seperti dulu. Padahal usia sudah menjelang "oversek" (lebih seket atau lebih limapuluh tahun, maksudnya). Insya Allah, silaturrahim terus berlanjut dengan nuansa yang berbeda tentu saja. Sebab ada sahabat yang sudah berpulang, ada yang kurang beruntung dalam kehidupannya, ada yang menderita sakit berkepanjangan, ada yang karirnya melejit tapi dihantui kekhawatiran, ada yang stok rupiahnya menumpuk tapi bingung habis ini mau diapakan, dan setumpuk tanda kehidupan melintas silih berganti. Yang pasti, kalau dulu hidup di bawah subsidi ortu, sekarang "ekor perempuannya"-nya sudah menginjak dewasa dan sebentar lagi perlu biaya untuk menikahkannya. Kalau dulu kepingin makan enak saja air liur sampai menetes kemana-mana, giliran sekarang punya sumber dana malah dilarang dokter tidak boleh makan ini makan itu. Pertemuan dengan sahabat lama seringkali membangkitkan inspirasi tentang kehidupan, sebab wajah kita sekian belas atau puluh tahun yang lalu tentu berbeda dengan wajah kita sekarang. Itu karena pemandangan yang sempat dilihat dan melintas di depan wajah kita itu jumlah dan jenisnya lebih banyak dan beragam, yang baik maupun yang buruk, yang merugikan maupun yang menguntungkan. Inspirasi tentang kehidupan yang dapat dipetik setelah sekitar setengah abad terjalani, baiknya memang dibangun dan ditumbuhkan dengan referensi keyakinan yang hakiki. Sebagai pemegang KTP, paspor dan surat nikah Islam, saya memilih untuk merujuk pada sindiran Tuhan yang tertulis pada buku suci berbahasa londo Arab yang berbunyi : "Opo sampeyan rak dong? (Apa kalian tidak mengerti?)....", afalaa ta'qiluun.... Yogyakarta, 14 Desember 2009 Yusuf Iskandar http://yiskandar.wordpress.com

