"pa?" sapamu disuatu sore
"ehm!" jawabku
"tadi kudengar dilorong rumah sakit, sewaktu membezuk tetangga yang melahirkan"
"terus..."
"suami-suami itu akan kehilangan rasa kasih sayang kepada istrinya, manakala 
istrinya tidak mempunyai rahim lagi!"
"apa maksudmu, ma?"
"istri yang diangkat rahimnya"
"terus..."
"memang begitu, pa?"
"lho kog tanya aku?"
"papa, kehilangan enggak, setelah aku nggak punya rahim!"
"ma... rahim itu punya siapa?, itu cuma titipan dari yang Maha Rahim,
kalau yang punya mau mengambilnya, kita yang dititipi ya harus ikhlas.. 
mengembalikan dengan ucapan Innalilahi wa innailaihi raji'uun"
"jadi... papa nggak kehilangan rasa kasih sayangnya sama mama?"
"ma..." sambil kupeluk mesra, "aku cuman kehilangan HP, tadi ditaxi!"

ihik......


--- Pada Jum, 8/1/10, Sih Riyanto <[email protected]> menulis:

Dari: Sih Riyanto <[email protected]>
Judul: A2 Sebuah Cerpen
Kepada: "sma-n-1-a-82" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 8 Januari, 2010, 12:46 PM

Ass Wr Wb

Yang Ada waktu luang bisa menyimak cerpen di bawah ini, sambil
merenung seberapa besarkah cinta kita pada istri/suami kita.



Katakan Sebelum Terlambat

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun
menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah
Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan
pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi,
kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal dua kali sehari, pagi menjelang kerja, dan saat
dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran
dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan
tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan
di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami,
bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan
sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main
dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat
pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun
pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat
itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan
sering jajan di kantornya dibanding makan di rumah, dia kena typhoid,
dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.
Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia
memperkenalkan diri, bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia
berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan
kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang,
laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan
jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah
dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya
teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan
kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di
advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan
untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup
drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis
padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia
membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi
disaat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung
memegang ponselnya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang
membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih
dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya
dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha
masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

"Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau
makan juga? Uhh... dasar anak nakal, sini piringnya," lalu dia terus
mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja
sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah
melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti
siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya,
tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku
melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada
sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan
kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka
mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha
begitu manis. Dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat
anak-anak, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku
jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Kali lain, dia datang bersama
suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu.

Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu. Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak di hatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah
menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,
rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia
berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, "Mama, mau
lihat surat papa buat tante Meisha?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan
pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku
sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti
ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah
padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti
perasaannya. Ketika konflik-konflik terjadi saat kami pacaran dulu,
aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa
dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku.
Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti
ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon-pohon beringin
yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.
Seperti pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta
disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku
rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik
orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen
pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa,
asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan
segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan
seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya
aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku
hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my
heart.

Yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun
baru berusia tujuh tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat
mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku.
Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir
setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku
letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku
mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang belanja,
lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku.
Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta
dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam
kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu
lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata
dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga
seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya?
Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan
tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam
dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya
nasibku.

Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan
setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya.
Dengan pura-pura tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan
mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga,
karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian...

Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah
pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

"Mario, suamiku....

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali
bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu
terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku
ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu
posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu
asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin,
ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si
puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu
dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja
untukku.....

Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah
pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang
teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukaimu.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, "Kenapa, Rima?
Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
menjadi istriku."

Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah
bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu.
Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan."

Istrimu,

Rima

Di surat yang lain,

".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat
memandang Meisha...... "

Di surat yang ke sekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah
padamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak
jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang
engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak
lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu
pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah
kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku
tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai
tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau
dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.....

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan
tetap berusaha dan menantinya.. ......"

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata
indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.

Di surat terakhir, pagi ini...

"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang
ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan
memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling
enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati,
sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujan deras
sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan
hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi
di hatimu?"

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

"Siang itu Mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat
keceriaan di wajah Mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari
mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering
marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir
motornya di seberang jalan. Ketika Mama menyeberang jalan, tiba-tiba
mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... Aku tidak
sanggup melihatnya terlontar, Tante..... Aku melihatnya masih
memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk
Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk
merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya ingin Rima
membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi
marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia
pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir
dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku
memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda-tanda aku mulai
mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.
Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan
jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
di samping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya
telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,
ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.




Salam

Sih Riyanto



      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke