perasaan..

terkadang banyak perasaan yg salah memang.

tapi, bagaimanapun guyonan itu memang lucu.

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com


2010/1/8 aburayhan <[email protected]>

>
>
> "pa?" sapamu disuatu sore
> "ehm!" jawabku
> "tadi kudengar dilorong rumah sakit, sewaktu membezuk tetangga yang
> melahirkan"
> "terus..."
> "suami-suami itu akan kehilangan rasa kasih sayang kepada istrinya,
> manakala istrinya tidak mempunyai rahim lagi!"
> "apa maksudmu, ma?"
> "istri yang diangkat rahimnya"
> "terus..."
> "memang begitu, pa?"
> "lho kog tanya aku?"
> "papa, kehilangan enggak, setelah aku nggak punya rahim!"
> "ma... rahim itu punya siapa?, itu cuma titipan dari yang Maha Rahim,
> kalau yang punya mau mengambilnya, kita yang dititipi ya harus ikhlas..
> mengembalikan dengan ucapan Innalilahi wa innailaihi raji'uun"
> "jadi... papa nggak kehilangan rasa kasih sayangnya sama mama?"
> "ma..." sambil kupeluk mesra, "aku cuman kehilangan HP, tadi ditaxi!"
>
> ihik......
>
>
> --- Pada *Jum, 8/1/10, Sih Riyanto <[email protected]>* menulis:
>
>
> Dari: Sih Riyanto <[email protected]>
> Judul: A2 Sebuah Cerpen
> Kepada: "sma-n-1-a-82" <[email protected]>
> Tanggal: Jumat, 8 Januari, 2010, 12:46 PM
>
> Ass Wr Wb
>
> Yang Ada waktu luang bisa menyimak cerpen di bawah ini, sambil
> merenung seberapa besarkah cinta kita pada istri/suami kita.
>
>
>
> Katakan Sebelum Terlambat
>
> Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun
> menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah
> Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
>
> Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan
> pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi,
> kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
> makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
>
> Dia menciumku maksimal dua kali sehari, pagi menjelang kerja, dan saat
> dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran
> dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan
> tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang.
>
> Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
> bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan
> di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami,
> bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan
> sendok garpu.
>
> Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main
> dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat
> pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
>
> Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun
> pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat
> itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan
> sering jajan di kantornya dibanding makan di rumah, dia kena typhoid,
> dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.
> Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia
> memperkenalkan diri, bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah.
>
> Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
> melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
> bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia
> berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan
> kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang,
> laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan
> jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
>
> Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah
> dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya
> teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan
> kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di
> advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan
> untuk perusahaan tempatnya bekerja.
>
> Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup
> drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis
> padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia
> membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi
> disaat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung
> memegang ponselnya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang
> membingungkan.
>
> Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih
> dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya
> dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha
> masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
>
> "Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau
> makan juga? Uhh... dasar anak nakal, sini piringnya," lalu dia terus
> mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja
> sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah
> melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti
> siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya,
> tidak pernah sedetikpun!
>
> Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
> membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
> Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku
> melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
> memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada
> sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan
> kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka
> mencumbu komputernya dibanding aku.
>
> Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha
> begitu manis. Dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat
> anak-anak, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku
> jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Kali lain, dia datang bersama
> suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu.
>
> Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati
> bidadari itu. Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
> bergejolak di hatinya.
>
> Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah
> menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
>
> Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,
> rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia
> berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, "Mama, mau
> lihat surat papa buat tante Meisha?"
>
> Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
>
> Dear Meisha,
>
> Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
> hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan
> pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
> mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku.
>
> Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku
> sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti
> ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah
> padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti
> perasaannya. Ketika konflik-konflik terjadi saat kami pacaran dulu,
> aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa
> dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku.
> Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
>
> Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti
> ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon-pohon beringin
> yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.
> Seperti pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta
> disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku
> rasakan.
>
> Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik
> orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen
> pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa,
> asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan
> segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan
> seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya
> aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku
> hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my
> heart.
>
> Yours,
>
> Mario
>
> Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun
> baru berusia tujuh tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat
> mengerti dan menyayangiku.
>
> Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku.
> Dia mencintai perempuan lain.
>
> Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir
> setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku
> letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
>
> Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku
> mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang belanja,
> lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku.
> Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta
> dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam
> kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu
> lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata
> dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
>
> Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga
> seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya?
> Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan
> tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam
> dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya
> nasibku.
>
> Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan
> setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya.
> Dengan pura-pura tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan
> mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga,
> karena aku akan selalu mencintainya.
>
> **********
>
> Setahun kemudian...
>
> Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah
> pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
>
> "Mario, suamiku....
>
> Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali
> bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu
> terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku
> ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu
> posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu
> asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin,
> ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si
> puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu
> dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja
> untukku.....
>
> Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah
> pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang
> teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukaimu.
>
> Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, "Kenapa, Rima?
> Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
> menjadi istriku."
>
> Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
>
> Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah
> bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu.
> Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan."
>
> Istrimu,
>
> Rima
>
> Di surat yang lain,
>
> ".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
> sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
> pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
> cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat
> memandang Meisha...... "
>
> Di surat yang ke sekian,
>
> ".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
>
> Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah
> padamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak
> jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang
> engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak
> lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu
> pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah
> kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku
> tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai
> tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau
> dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.....
>
> Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan
> tetap berusaha dan menantinya.. ......"
>
> Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata
> indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.
>
> Di surat terakhir, pagi ini...
>
> "........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang
> ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan
> memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling
> enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati,
> sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujan deras
> sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
>
> Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
> di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
> tidak sakit.
>
> Tahukah engkau suamiku,
>
> Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan
> hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
> kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi
> di hatimu?"
>
> Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
>
> "Siang itu Mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat
> keceriaan di wajah Mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
> kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari
> mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering
> marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir
> motornya di seberang jalan. Ketika Mama menyeberang jalan, tiba-tiba
> mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... Aku tidak
> sanggup melihatnya terlontar, Tante..... Aku melihatnya masih
> memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk
> Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk
> merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
>
> Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
> mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya ingin Rima
> membacanya.
>
> Dear Meisha,
>
> Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi
> marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia
> pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir
> dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku
> memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda-tanda aku mulai
> mencintainya?
>
> Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
> Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
> mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.
> Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan
> jiwaku....
>
> Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
> di samping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya
> telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,
> ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
>
>
>
>
> Salam
>
> Sih Riyanto
>
>
> ------------------------------
>  Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/neptune/*http://id.messenger.yahoo.com/>
> Kini dengan update real-time, panggilan video, dan banyak lagi!
> 
>

Kirim email ke