"Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun Tidur
---------------------------------------------

(Judul tulisan ini tidak salah tulis). Seorang teman yang berniat buka warung 
mi di Jogja, sengaja datang dari Jakarta ke Jogja untuk melakukan survey 
kecil-kecilan. Sesuai namanya, kecil-kecilan, pasti bebas dari tetek-bengek 
teori, rumusan, pedoman atau formalitas lain yang semacam ini. Pokoknya datang 
ke Jogja, mampir ke beberapa warung bakmi yang dijumpai, memesan untuk 
mencicipi rasanya dan mencatat harganya, melakukan interview sederhana dan 
mempelajari lingkungannya. Begitu saja.

Setelah kembali ke Jakarta, tiba-tiba suatu pagi teman saya itu membangunkan 
saya melalui SMS yang dikirimkannya dan menceritakan tentang kesimpulan hasil 
survey-nya. Kesimpulannya mencengangkan saya : Dari tujuh warung mi yang 
ditelisik, 50% memakai "optional method" agar dagangannya laris. Saya 
mengernyitkan kening : "Metode opo maneh iki (metode apa lagi ini)...?" (Ini 
pasti hitungan kasar, sebab 50% dari tujuh berarti ada tiga setengah warung, 
tentu susah dibayangkan)

Hanya perlu beberapa detik untuk mengernyit, lalu saya pun tersenyum sendiri 
(lebih baik bangun tidur tersenyum sendiri ketimbang bangun tidur langsung 
uring-uringan). Biar saya pertegas, rupanya yang dimaksud "optional method" 
oleh teman saya itu adalah metode "tulis reg spasi sajen, kembang atau dukun", 
kata lain untuk aplikasi software perklenikan.

Harap dimaklumi, ini kesimpulan coro ndeso (ala kampung) yang tidak perlu 
dipertanyakan keabsahannya karena memang sampai kapanpun tidak akan pernah 
dapat dibuktikan, selain dipercaya saja bagi yang mempercayainya. Tentu teman 
saya itu punya alasan sendiri kenapa sampai berkesimpulan demikian, dan bukan 
sekedar katanya atau kelihatannya. Dan teman saya yang pada dasarnya tidak 
percaya dan tidak suka dengan aplikasi software perklenikan semacam ini, 
menghibur diri untuk tetap berpikir rasional. Lalu mengakhiri SMS-nya dengan 
kata-kata : "He..he..Salam Super!". Tanda bahwa dia menanggapinya sebagai bahan 
guyonan tapi semangat Mario Teguh.

Sambil kucek-kucek mata, saya balas SMS-nya layaknya seorang 'tukang kompor' 
(orang yang suka ngompor-ngomporin) sekelas Mario Teguh agak di bawahnya banyak 
: "Selalu ada 'langkah tersembunyi' yang dapat dipertanggungjawabkan yang dapat 
kita lakukan. Dan tugas pebisnis sejati adalah menemukan dan 
mengimplementasikan hal itu". Saya pun tidak mau kalah mengakhiri balasan SMS 
saya dengan mengucapkan : "Salam Sepur...! (lurus, always on the right track, 
relatif lebih aman, murah dan cepat sampai tujuan...)". Lalu teman saya itu 
menimpali : "Asal sepurnya tidak nyerempet irrational thing".

Moral ceritanya adalah : Jangan karena kita tidak suka mengunakan software 
perklenikan lalu menyurutkan semangat untuk memulai usaha membuka warung, sebab 
selalu ada ‘langkah tersembunyi’ yang dapat dilakukan. Temukan itu, dan 
implementasikan. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Kalau yang terjadi ternyata warungnya sepi dan kalah bersaing? Ya, berarti 
'langkah tersembunyi'-nya belum ditemukan... (tanyakan kepada ahlinya dan 
jangan bertanya kepada 'tukang kompor' yang belum punya pengalaman nyata dalam 
bisnis perwarungan). Hidup entrepreneur...!   

Yogyakarta, 16 Januari 2010
Yusuf Iskandar

http://madurejo.wordpress.com


      

Kirim email ke