samsul ulum

The Forest Trust

wildlife&HCVF specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tft-forests.org

--- Pada Rab, 3/2/10, botol ulum <[email protected]> menulis:

Dari: botol ulum <[email protected]>
Judul: wewehan
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], "Sumantri Yaksi" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected], "mas hudi" 
<[email protected]>, [email protected]
Cc: [email protected], "inayah sulaiman" <[email protected]>, 
"samsul ulum" <[email protected]>, "Toto Sapto Widodo" 
<[email protected]>, [email protected], "kelompok pemerhati goa" 
<[email protected]>
Tanggal: Rabu, 3 Februari, 2010, 5:57 AM

Wewehan: Sebuah Tradisi Budaya Penuh Makna


BUDAYA
Wewehan: Sebuah Tradisi Budaya Penuh Makna
Oleh : Samsul Ulum | 03-Feb-2010, 19:21:51 WIB

KabarIndonesia - Lala terbangun dari tidur siangnya pukul 16.00 WIB
langsung berteriak minta mandi pada ibunya. Lala gadis mungil berusia
3 tahun, bergegas mandi sore karena  hari ini merupakan hari Jumat.
Jumat sore merupakan hari wewehan bagi anak-anak dibawah usia 5 tahun.
Sore itu Lala tidak mau terlambat mengikuti kegiatan wewehan di
kampungnya.

Lala tinggal di kampung Kenduruan Desa Krajankulon Kaliwungu Kendal,
sebuah perkampungan tua yang terdapat di kota Kaliwungu. Sebagian
besar bangunan rumah di kampung ini merupakan  bangunan rumah khas
Kaliwungu berpintu tiga yang terbuat dari kayu jati berbentuk limasan.
Seiring perkembangan zaman beberapa rumah telah berubah bentuk menjadi
bentuk perumahan modern berdinding tembok, namun sebagian besar warga
kampung ini masih mempertahankan bentuk asli rumah adat Kaliwungu
tersebut.

Wewehan berasal dari kata weweh yang dalam bahasa jawa berarti
memberi; wewehan dapat diartikan dengan saling memberi. Wewehan
merupakan sebuah tradisi yang berkembang pada masyarakat Kaliwungu
untuk memperingati Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Namun pada
beberapa kampung di Kaliwungu kegiatan wewehan dilaksanakan setiap
hari Jumat sebulan sebelum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pada tradisi wewehan setiap warga membuat makanan baik itu jajan pasar
maupun makan modern yang akan dibagikan pada warga yang
lainnya.Pembuatan makanan pun tergantung dengan kondisi kemampuan
warga. Biasanya banyak jenis makanan khas Kaliwungu yang hanya ada
pada kegiatan wewehan, seperti sumpil. Sumpil merupakan sejenis kupat
kecil berbentuk segitiga yang pada saat makannya ditemani sambal
kelapa.

Proses perayaan wewehan adalah setiap warga saling bertukar makanan
yang telah mereka buat. Warga yang memiliki anak kecil, maka si anak
lah yang bertugas sebagai pengantar makanan tersebut. Sedangkan untuk
para orang tua yang di rumahnya tidak memiliki anak kecil biasanya
menunggu di rumahnya untuk menunggu hantaran dari para tetangganya
untuk ditukar dengan makanan yang telah dipersiapkan. Sekilas kegiatan
ini mirip dengan kegiatan transaksi barter, namun ada perbedaan
mendasar. Dalam barter orang akan melakukan transaksi apabila merasa
cocok dengan barang yang akan dia barter, namun dalam wewehan
penukaran makanan tidak didasarkan atas selera penukarnya tapi
keiklasan dalam memberi.

Wewehan yang dilaksanakan sebulan sebelum peringatan Maulid Nabi Besar
Muhammad SAW  hanya diikuti oleh anak-anak balita. Seperti halnya
Lala, si gadis kecil ini tidak mau ketinggalan kegiatan wewehan pada
setiap hari jumat sore di kampungnya. Setelah selesai mandi dia dengan
diantar ibu bergegas mengambil makanannya yang akan dibagikan dan
ditukar dengan teman-teman sebayanya. Di kampung Kenduruan kegiatan
wewehan Jumat sore selalu dilaksanakan dibawah musola kampung. Ketika
wewehan telah selesai setiap anak kecil di kampung ini terlihat ceria.
Mereka pulang dengan bawaan beranekaragam makanan yang mereka peroleh
pada saat wewehan.

Wewehan merupakan sebuah tradisi yang masih berkembang di masyarakat
Kaliwungu sampai saat ini. Dalam kegiatan wewehan terkandung makna
yang begitu dalam tentang pentingnya berbagi pada sesama. Pengetahuan
untuk berbagi pada sejak usia kecil akan membekas pada setiap anak
yang mengikuti acara tersebut. Sehingga, kelak pada saat dia dewasa
akan menjadi orang yang dermawan dan mau menolong sesama.
Selain prosesi wewehan, pada perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW
warga Kaliwungu biasanya  akan menghias rumahnya dengan berbagai macam
lampu hias. Salah satu yang khas dari lampu hias tersebut adalah
“teng-tengan”. Teng-tengan adalah sejenis lampion yang berbentuk
beraneka ragam, ada bintang, kapal laut, kapal terbang, petromax, dan
lain sebagainya.  Pada zaman dahulu teng-tengan dinyalakan dengan
lampu minyak, namun pada era listrik lampu minyak lambat laut diganti
dengan bohlam listrik.

Selain kedua tradisi diatas, pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di
kota Kaliwungu juga diadakan kegiatan Pawai Ta’aruf yang menampilkan
berbagai macam kesenian tradisional dan modern. Selain itu setiap dua
tahun sekali Remaja Masjid Besar Al Mutaqim Kaliwungu mwngadakan
kegiatan Festival Masjid Al Mutaqim yang dilaksanakan di pelataran
parkir masjid. Banyak agenda kesenian dan budaya yang ditampilkan pada
acara festival masjid tersebut. Kegiatan festival sendiri biasanya
dilaksanakan selama satu minggu yang mampu menyedot pengunjung dari
luar kota Kaliwungu. (SU)

sumber : 
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Wewehan%3A+Sebuah+Tradisi+Budaya+Penuh+Makna&dn=20100203150427



      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke