ETIKA DALAM PUBLIKASI ILMIAH
oleh : Muhamad Kundarto
PENDAHULUAN
Banyak orang memerlukan publikasi ilmiah sebagai kelanjutan atas penelitian
yang telah dilakukan. Publikasi ilmiah juga dilakukan dengan tujuan mendapatkan
poin nilai yang berguna bagi peningkatan jenjang karier pekerjaannya. Mengingat
arti penting publikasi ilmiah ini, cenderung mendorong banyak orang berlomba
melakukan dengan banyak cara, bahkan ada yang menggunakan cara kurang santun.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam etika publikasi ilmiah yang dikelompokkan
menjadi dua bagian, yaitu factor eksternal (di luar naskah publikasi) dan
factor internal (di dalam naskah publikasi). Faktor eksternal terdiri dari :
(1) Hak Publikasi, (2) Tujuan Publikasi, dan (3) Tekanan Lembaga. Faktor
internal terdiri dari : (1) Topik dan Judul, (2) Latar Belakang dan Dasar
Teori, (3) Maksud dan Tujuan, (4) Metode Ilmiah, (5) Hasil Penelitian, (6)
Pembahasan, (7) Kesimpulan, dan (8) Daftar Pustaka. Berikut ini penjelasan dari
masing-masing bagian tersebut.
A. FAKTOR EKTERNAL
1. HAK PUBLIKASI
Setiap publikasi mencantumkan siapa penulisnya. Penulis dapat tunggal atau
kelompok orang. Penulis kelompok ditulis berurutan berdasarkan kontribusinya,
dari yang paling utama sampai pelengkap. Penulis utama ditulis pertama kali,
diikuti oleh penulis pelengkap.
Penelitian ilmiah yang melahirkan publikasi ilmiah, dilakukan oleh seseorang
dengan beaya sendiri, umumnya tidak menimbulkan masalah karena tidak ada alasan
bagi pihak lain untuk menentang kepemilikan dan hak publikasi tersebut. Namun
bagi penelitian yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, penelitian yang
dibeayai oleh pihak lain (biasanya lembaga), dan status kepemilikan peneliti
sendiri terhadap obyek penelitiannya; sering menjadi masalah ketika akan
dipublikasikan. Siapa yang berhak mempublikasikan, bolehkah hanya satu orang,
bolehkah tanpa ijin lembaga tersebut, dan lain-lain.
Penelitian kelompok sering dilakukan oleh para peneliti di lembaga penelitian,
para dosen, dan antara mahasiswa dengan dosennya. Para peneliti di lembaga
penelitian sering mencantumkan nama penulis lebih dari satu orang dalam
publikasi ilmiah. Pencantuman ini dapat bermakna memang mereka semua meneliti,
namun ada juga yang politis. Dalam rangka berbagi poin nilai dari sebuah
publikasi ilmiah, dimana penulis tunggal nilainya 100%, penulis kelompok
nilainya 60% untuk penulis pertama dan 40% dibagi rata untuk penulis kedua dan
seterusnya. Biasanya poin 40% ini yang dijadikan untuk berbagai, dengan alasan
untuk member poin kepada teman atau bahkan ada nama yang dicantumkan karena
orang tersebut adalah pimpinan di lembaganya.
Peneliti mahasiswa juga sering mencantumkan nama-nama dosen pembimbingnya di
urutan kedua dan ketiga pada publikasi ilmiahnya, walaupun dosen pembimbing
tersebut tidak pernah terlibat dalam penulisan. Dosen pembimbing hanya terlibat
pada pembimbingan penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Bahkan ironisnya ada
dosen pembimbing yang mempublikasikan hasil penelitian mahasiswa bimbingannya.
Secara etika, hal ini masih dapat dimaklumi apabila dosen yang bersangkutan
meminta ijin hak publikasi kepada mahasiswanya, walaupun faktanya sangat jarang
mahasiswa yang berani mengatakan “tidak” pada permintaan dosen pembimbingnya
ini. Bahkan ada dosen pembimbing yang lebih agresif dengan meminta file laporan
dan hasil analisis laboratorium untuk dijadikan bahan publikasi ilmiah. Lebih
parah lagi, publikasi yang dilakukan kalimat-per-kalimat sama persis dengan isi
laporan penelitian mahasiswanya.
2. TUJUAN PUBLIKASI
Tujuan publikasi berbeda dengan tujuan di dalam materi publikasi. Tujuan
publikasi lebih bernuansa politis. Ada orang yang memang senang mempublikasikan
hasil penelitian ilmiahnya. Ada orang yang menulis karya publikasi ilmiah untuk
mengumpulkan poin nilai bagi kenaikan pangkat fungsionalnya sebagai peneliti
atau sebagai dosen. Namun ada juga publikasi ilmiah ini yang merupakan bagian
dari rencana politik ekonomi antar Negara. Berikut ini dicantumkan dua contoh
kasus :
- Negara-negara di kawasan Asia Tenggara adalah penghasil padi dan
masyarakatnya menjadikan beras (nasi) menjadi makanan pokok. Negara barat
sebagai penghasil utama gandum perlu memasukkan budaya makan dengan menggunakan
bahan baku gandum, seperti roti dan mie instan. Sehingga muncul
penelitian-penelitian yang cenderung mendiskreditkan lahan pertanian penghasil
padi (baca: sawah), seperti : irigasi sawah sangat boros air (baca: berlawanan
dengan konsep pengawetan air) dan sawah penghasil utama gas metan yang
menipiskan ozon. Kemudian Negara-negara di kawasan Asia Tenggara memberikan
‘perlawanan’ dengan melakukan penelitian dan publikasi ilmiah tentang
multifungsi sawah, bahwa sawah aman bagi lingkungan dan sawah mempunyai fungsi
lain seperti preservasi (penyimpan) air, keindahan, obyek pendidikan, dll.
- Isu pemanasan global yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan,
cenderung didorong oleh Negara-negara barat (baca: penghasil utama pencemaran
industry) menuju isu bahwa penyebab utama pemanasan global adalah
kegiatan-kegiatan di kawasan tropika (baca: lokasi Negara-negara berkembang)
seperti pembakaran hutan, aktifitas peternakan dan aktifitas pertanian.
Sehingga publikasi ilmiah didorong untuk men-justifikasi (membenarkan) bahwa
pencemaran akibat kebakaran hutan, peternakan dan perikanan itu jauh lebih
besar dibandingkan pencemaran oleh kegiatan industri. Selanjutnya publikasi
ilmiah di kawasan tropika ada yang tanpa sadar ‘membenarkan’ isu global
tersebut dan ada pula yang menentang dengan melakukan penelitian dan publikasi
ilmiah dengan hasil yang sebaliknya.
Bagi penulis publikasi ilmiah di tingkat local, isu global ini sangat sulit
terdeteksi. Bahkan diantara peneliti sendiri banyak yang larut pada politik
global. Banyak diantara penulis yang berpendirian bahwa publikasi ilmiah sangat
tidak terkait dengan urusan politik antara Negara. Agaknya anggapan ini perlu
dikoreksi dengan dua contoh fakta di atas.
3. TEKANAN LEMBAGA
Terkadang lembaga juga mempunyai misi tertentu dalam publikasi ilmiahnya. Suatu
waktu, ada isu penelitian dan publikasi ilmiah yang memberikan informasi bahwa
tanaman Pinus sangat rakus air sehingga mengancam pelestarian air di kawasan
hulu (upland). Pernyataan ini tentu didukung oleh data-data ilmiah. Namun di
satu sisi yang lain, bagi lembaga yang sudah puluhan tahun membudidayakan
tanaman Pinus tentu merasa gerah, karena otomatis seperti tertuduh sebagai
lembaga yang melegalkan ancaman pelestarian lingkungan. Selanjutnya lembaga
tersebut menerjunkan banyak peneliti untuk menguji kebenaran tuduhan tersebut.
Secara tersirat dapat dimengerti bahwa tujuan utama lembaga tersebut adalah
untuk menentang secara ilmiah, sehingga mendapat kesimpulan penelitian bahwa
tanaman Pinus aman bagi lingkungan.
Fenomena lain menunjukkan bahwa budidaya kentang sangat merusak lahan pertanian
karena meningkatkan proses terjadinya erosi dan longsor, sehingga lapisan atas
akan cepat habis (tipis). Namun menjadi ironi ketika suatu lokasi ada program
penanaman kentang untuk para petani. Setelah diusut, ternyata program itu
adalah paket dari pusat, sehingga kabupaten harus melaksanakan agar dananya
turun. Muara dari fenomena ini adalah publikasi ilmiah bahwa tanaman kentang
tetap aman dibudidayakan asal mematuhi asas konservasi tanah dan air. Dua fakta
yang bertolak belakang ini sengaja disatukan agar berkesan program tersebut
aman.
Fenomena ini memerlukan lembaga kontrol atau publikasi ilmiah tandingan agar
penyimbangan publikasi ilmiah akibat tekanan lembaga dapat dikembalikan pada
jalur ilmiah yang sebenarnya.
B. FAKTOR INTERNAL
1. TOPIK DAN JUDUL
Banyak orang ingin meneliti dan melakukan publikasi ilmiah. Namun sedikit yang
puny aide-ide baru yang kreatif dan menarik. Banyak diantara mereka yang malas
kurang beretika dengan cara meniru topic dan judul penelitian orang. Apabila
lokasi penelitian berbeda karakteristiknya, maka langkah meniru tersebut masih
dapat dimaklumi. Namun apabila topic, judul, lokasi dan isi
penelitian-publikasi ilmiahnya relative sama maka langkah ini kurang sesuai
dengan etika ilmiah.
Banyak mahasiswa datang ke perpustakaan karena belum ada ide meneliti dan
membuat publikasi ilmiah. Namun apabila yang dia lakukan adalah menjiplak
penelitian dan publikasi ilmiah kakak kelasnya, maka itu adalah langkah yang
kurang beretika. Melihat fenomena ini, beberapa kampus mengharuskan
mahasiswanya menjelaskan secara ilmiah dalam proposal, bahwa penelitiannya ini
sudah dibandingkan dengan penelitian lain yang sejenis tetapi tetap ada
perbedaan secara ilmiah, sehingga tidak dianggap sebagai plagiat.
2. LATAR BELAKANG, DASAR TEORI DAN TUJUAN
Ternyata banyak orang kesulitan merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat,
walaupun dia adalah seorang peneliti yang handal. Kesulitan membuat laporan ini
menyebabkan penulis akan berpikir jalur pintas dengan cara memindahkan
(copy-paste) publikasi ilmiah orang lain sama persis ke laporan penelitiannya.
Bahkan dengan nekad, dia memindahkan bagian teori yang berasal dari sumber
pustaka yang lain. Misalnya di laporan publikasi ilmiah tersebut tercantum
kutipan teori dari Agus (2001), maka penulis langsung mencantumkan hal sama ke
tulisannya. Padahal dia sama sekali belum pernah melihat tulisan Agus (2001)
tersebut. Jika tanpa melihat ke sumber aslinya dilakukan oleh banyak penulis
secara turun temurun, maka cuplikan teori yang keliru akan berdampak dahsyat
pada kekeliruan massal.
Etika publikasi ilmiah memaklumi kemungkin terjadinya pengambilan sebagian
materi dari publikasi ilmiah lain. Namun dalam pencantuman sumber perlu
menyebutkan secara berurutan sejarah penulisannya. Jadi jika yang dibaca
laporan Budi (2007) yang di dalamnya mencantumkan pendapat Agus (2001), maka
dalam penulisan sumber menjadi Agus (2001) cit Budi (2007). Tetapi pengutipan
semua kalimat tanpa menjadikannya sebagai kalimat baru, perlu dihindari karena
etikanya kurang baik dan cenderung sebagai plagiat.
Demikian juga dengan pencantuman tujuan penelitian atau publikasi ilmiah,
sebaiknya berdasarkan pada kreasi sendiri walaupun kreasi itu diolah
berdasarkan tujuan penelitian dari beberapa karya ilmiah. Apalagi jika
peneliti/penulis mampu membuat tujuan baru yang bersifat lebih inovatif.
3. METODE ILMIAH
Penelitian dan publikasi ilmiah mempunyai inti di dalam metode ilmiah. Banyak
orang ingin meneliti, tetapi tidak tahu dan ragu bagaimana metodenya. Sehingga
banyak orang yang mencoba mengadopsi metode ilmiah dari orang lain. Etikanya,
metode ilmiah yang diadopsi tidak sama persis, tetapi dapat terjadi kemiripan.
Kenapa tidak sama? Karena penelitian yang dilakukan perlu didukung oleh sarana
dan prasarana guna mendukung metode ilmiah yang akan dilakukan. Misalnya
ketersediaan alat dan bahan di lapangan dan laboratorium, ketersediaan data
sekunder, perbedaan wawasan, dll.
Apabila mencantumkan metode ilmiah, sebaiknya mencantumkan pula sumber yang
diacu, sehingga langkah-langkah penelitian dapat dipertanggung-jawabkan secara
ilmiah. Metode ilmiah perlu memberikan informasi tentang alur piker, lokasi,
waktu, dan kebutuhan alat dan bahan. Metode ilmiah ini terbuka untuk umum,
artinya orang lain dapat melakukan penelitian dengan metode yang sama dengan
hasil yang relative sama pula. Itulah yang disebut langkah pembuktian ilmiah.
Namun ada pula peneliti/penulis yang tidak mencantumkan metode ilmiah secara
detail karena takut hasil karyanya ditiru oleh orang lain. Biasanya hasil karya
tersebut yang akan memberikan manfaat buat orang banyak.
4. HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian biasanya mencantumkan beberapa data hasil analisis
laboratorium atau olah data dengan metode dan alat tertentu. Etika yang perlu
diperhatikan apakah data yang dicantumkan tersebut merupakan murni hasil
karyanya sendiri atau mengambil data orang lain. Data tersebut kemudian
ditampilkan dalam bentuk table, grafik dan gambar.
Sejauh data yang ditampilkan adalah hasil karya sendiri, maka publikasi ilmiah
tersebut tidak akan melanggar etika. Apabila ternyata mengambil dari data
publikasi ilmiah orang lain, kita perlu mencantumkan sumbernya. Namun apabila
data tersebut belum dipublikasikan, kita perlu meminta ijin kepada pemiliknya.
Bahkan lebih baik mendapatkan ijin secara tertulis. Sehingga jika ada tuntutan
di kemudian hari, kita mempunyai bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan.
5. DAFTAR PUSTAKA
Biar terkesan publikasi ilmiahnya berkualitas tinggi, ada penulis yang sengaja
mencantumkan sumber pustaka yang sangat banyak sampai beberapa halaman. Padahal
tidak semua sumber pustaka itu diacu dalam tulisannya. Secara etika, sebaiknya
pustaka yang dicantumkan adalah yang memang diacu dalam tulisan tersebut.
PENUTUP
Pelanggaran terhadap kode etik publikasi ilmiah memang sering kita lihat dan
bahkan mungkin kita pernah melakukan sebagian kecil atau besar tanpa disadari.
Untuk itu perlu aturan yang jelas dan pengawasan dalam implementasinya di
lapangan. Sehingga pelanggaran etika dapat ditekan dan publikasi ilmiah yang
dilakukan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula.