Menarik sekali Pak Kundarto, apalagi menyambung dengan berita tentang plagiarisme yang dilakukan oleh Prof. Bayu dari Unpar. Indek rasio publikasi ilmiah kita memang masih sangat rendah. Banyak jurnal-jurnal ilmiah kita yang semestinya menjadi ajang kompetisi antar hasil penelitian justru malah nasibnya antara mati dan hidup, karena ternyata tidak cukup ada karya2 ilmiah yang masuk, sehingga banyak jurnal yang akhirnya tutup alias mati. Sangat ironis, kalau di luar para publisher jurnal justru kebanjiran karya yang masuk dan ingin turut dipublikasikan sehingga seleksinya cukup ketat, nah di negara kita justru kebalikannya...
Semoga kasus Prof. Bayu menjadi bahan refleksi bagi kita semua, bahwa di tengah lesunya ilmuwan Indonesia membuat karya ilmiah, bukan lantas kita menghalalkan segala cara untuk meng-aku-kan hasil karya orang lain menjadi karyanya. Salam, Ery Wijaya http://erywijaya.wordpress.com/ http://energyplanning.wordpress.com --- On Wed, 10/2/10, muhamad kundarto <[email protected]> wrote: From: muhamad kundarto <[email protected]> Subject: [kendal-online] Etika Dalam Publikasi Ilmiah To: "milist dosen UPN" <[email protected]>, "milist pty" <[email protected]>, "kendal online" <[email protected]>, "milist alumni" <[email protected]>, "Mustofa Espos" <[email protected]>, "alumni faperta" <[email protected]> Date: Wednesday, 10 February, 2010, 14:41 ETIKA DALAM PUBLIKASI ILMIAH oleh : Muhamad Kundarto PENDAHULUAN Banyak orang memerlukan publikasi ilmiah sebagai kelanjutan atas penelitian yang telah dilakukan. Publikasi ilmiah juga dilakukan dengan tujuan mendapatkan poin nilai yang berguna bagi peningkatan jenjang karier pekerjaannya. Mengingat arti penting publikasi ilmiah ini, cenderung mendorong banyak orang berlomba melakukan dengan banyak cara, bahkan ada yang menggunakan cara kurang santun. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam etika publikasi ilmiah yang dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu factor eksternal (di luar naskah publikasi) dan factor internal (di dalam naskah publikasi). Faktor eksternal terdiri dari : (1) Hak Publikasi, (2) Tujuan Publikasi, dan (3) Tekanan Lembaga. Faktor internal terdiri dari : (1) Topik dan Judul, (2) Latar Belakang dan Dasar Teori, (3) Maksud dan Tujuan, (4) Metode Ilmiah, (5) Hasil Penelitian, (6) Pembahasan, (7) Kesimpulan, dan (8) Daftar Pustaka. Berikut ini penjelasan dari masing-masing bagian tersebut. A. FAKTOR EKTERNAL 1. HAK PUBLIKASI Setiap publikasi mencantumkan siapa penulisnya. Penulis dapat tunggal atau kelompok orang. Penulis kelompok ditulis berurutan berdasarkan kontribusinya, dari yang paling utama sampai pelengkap. Penulis utama ditulis pertama kali, diikuti oleh penulis pelengkap. Penelitian ilmiah yang melahirkan publikasi ilmiah, dilakukan oleh seseorang dengan beaya sendiri, umumnya tidak menimbulkan masalah karena tidak ada alasan bagi pihak lain untuk menentang kepemilikan dan hak publikasi tersebut. Namun bagi penelitian yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, penelitian yang dibeayai oleh pihak lain (biasanya lembaga), dan status kepemilikan peneliti sendiri terhadap obyek penelitiannya; sering menjadi masalah ketika akan dipublikasikan. Siapa yang berhak mempublikasikan, bolehkah hanya satu orang, bolehkah tanpa ijin lembaga tersebut, dan lain-lain. Penelitian kelompok sering dilakukan oleh para peneliti di lembaga penelitian, para dosen, dan antara mahasiswa dengan dosennya. Para peneliti di lembaga penelitian sering mencantumkan nama penulis lebih dari satu orang dalam publikasi ilmiah. Pencantuman ini dapat bermakna memang mereka semua meneliti, namun ada juga yang politis. Dalam rangka berbagi poin nilai dari sebuah publikasi ilmiah, dimana penulis tunggal nilainya 100%, penulis kelompok nilainya 60% untuk penulis pertama dan 40% dibagi rata untuk penulis kedua dan seterusnya. Biasanya poin 40% ini yang dijadikan untuk berbagai, dengan alasan untuk member poin kepada teman atau bahkan ada nama yang dicantumkan karena orang tersebut adalah pimpinan di lembaganya. Peneliti mahasiswa juga sering mencantumkan nama-nama dosen pembimbingnya di urutan kedua dan ketiga pada publikasi ilmiahnya, walaupun dosen pembimbing tersebut tidak pernah terlibat dalam penulisan. Dosen pembimbing hanya terlibat pada pembimbingan penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Bahkan ironisnya ada dosen pembimbing yang mempublikasikan hasil penelitian mahasiswa bimbingannya. Secara etika, hal ini masih dapat dimaklumi apabila dosen yang bersangkutan meminta ijin hak publikasi kepada mahasiswanya, walaupun faktanya sangat jarang mahasiswa yang berani mengatakan “tidak” pada permintaan dosen pembimbingnya ini. Bahkan ada dosen pembimbing yang lebih agresif dengan meminta file laporan dan hasil analisis laboratorium untuk dijadikan bahan publikasi ilmiah. Lebih parah lagi, publikasi yang dilakukan kalimat-per- kalimat sama persis dengan isi laporan penelitian mahasiswanya. 2. TUJUAN PUBLIKASI Tujuan publikasi berbeda dengan tujuan di dalam materi publikasi. Tujuan publikasi lebih bernuansa politis. Ada orang yang memang senang mempublikasikan hasil penelitian ilmiahnya. Ada orang yang menulis karya publikasi ilmiah untuk mengumpulkan poin nilai bagi kenaikan pangkat fungsionalnya sebagai peneliti atau sebagai dosen. Namun ada juga publikasi ilmiah ini yang merupakan bagian dari rencana politik ekonomi antar Negara. Berikut ini dicantumkan dua contoh kasus : - Negara-negara di kawasan Asia Tenggara adalah penghasil padi dan masyarakatnya menjadikan beras (nasi) menjadi makanan pokok. Negara barat sebagai penghasil utama gandum perlu memasukkan budaya makan dengan menggunakan bahan baku gandum, seperti roti dan mie instan. Sehingga muncul penelitian-peneliti an yang cenderung mendiskreditkan lahan pertanian penghasil padi (baca: sawah), seperti : irigasi sawah sangat boros air (baca: berlawanan dengan konsep pengawetan air) dan sawah penghasil utama gas metan yang menipiskan ozon. Kemudian Negara-negara di kawasan Asia Tenggara memberikan ‘perlawanan’ dengan melakukan penelitian dan publikasi ilmiah tentang multifungsi sawah, bahwa sawah aman bagi lingkungan dan sawah mempunyai fungsi lain seperti preservasi (penyimpan) air, keindahan, obyek pendidikan, dll. - Isu pemanasan global yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan, cenderung didorong oleh Negara-negara barat (baca: penghasil utama pencemaran industry) menuju isu bahwa penyebab utama pemanasan global adalah kegiatan-kegiatan di kawasan tropika (baca: lokasi Negara-negara berkembang) seperti pembakaran hutan, aktifitas peternakan dan aktifitas pertanian. Sehingga publikasi ilmiah didorong untuk men-justifikasi (membenarkan) bahwa pencemaran akibat kebakaran hutan, peternakan dan perikanan itu jauh lebih besar dibandingkan pencemaran oleh kegiatan industri. Selanjutnya publikasi ilmiah di kawasan tropika ada yang tanpa sadar ‘membenarkan’ isu global tersebut dan ada pula yang menentang dengan melakukan penelitian dan publikasi ilmiah dengan hasil yang sebaliknya. Bagi penulis publikasi ilmiah di tingkat local, isu global ini sangat sulit terdeteksi. Bahkan diantara peneliti sendiri banyak yang larut pada politik global. Banyak diantara penulis yang berpendirian bahwa publikasi ilmiah sangat tidak terkait dengan urusan politik antara Negara. Agaknya anggapan ini perlu dikoreksi dengan dua contoh fakta di atas. 3. TEKANAN LEMBAGA Terkadang lembaga juga mempunyai misi tertentu dalam publikasi ilmiahnya. Suatu waktu, ada isu penelitian dan publikasi ilmiah yang memberikan informasi bahwa tanaman Pinus sangat rakus air sehingga mengancam pelestarian air di kawasan hulu (upland). Pernyataan ini tentu didukung oleh data-data ilmiah. Namun di satu sisi yang lain, bagi lembaga yang sudah puluhan tahun membudidayakan tanaman Pinus tentu merasa gerah, karena otomatis seperti tertuduh sebagai lembaga yang melegalkan ancaman pelestarian lingkungan. Selanjutnya lembaga tersebut menerjunkan banyak peneliti untuk menguji kebenaran tuduhan tersebut. Secara tersirat dapat dimengerti bahwa tujuan utama lembaga tersebut adalah untuk menentang secara ilmiah, sehingga mendapat kesimpulan penelitian bahwa tanaman Pinus aman bagi lingkungan. Fenomena lain menunjukkan bahwa budidaya kentang sangat merusak lahan pertanian karena meningkatkan proses terjadinya erosi dan longsor, sehingga lapisan atas akan cepat habis (tipis). Namun menjadi ironi ketika suatu lokasi ada program penanaman kentang untuk para petani. Setelah diusut, ternyata program itu adalah paket dari pusat, sehingga kabupaten harus melaksanakan agar dananya turun. Muara dari fenomena ini adalah publikasi ilmiah bahwa tanaman kentang tetap aman dibudidayakan asal mematuhi asas konservasi tanah dan air. Dua fakta yang bertolak belakang ini sengaja disatukan agar berkesan program tersebut aman. Fenomena ini memerlukan lembaga kontrol atau publikasi ilmiah tandingan agar penyimbangan publikasi ilmiah akibat tekanan lembaga dapat dikembalikan pada jalur ilmiah yang sebenarnya. B. FAKTOR INTERNAL 1. TOPIK DAN JUDUL Banyak orang ingin meneliti dan melakukan publikasi ilmiah. Namun sedikit yang puny aide-ide baru yang kreatif dan menarik. Banyak diantara mereka yang malas kurang beretika dengan cara meniru topic dan judul penelitian orang. Apabila lokasi penelitian berbeda karakteristiknya, maka langkah meniru tersebut masih dapat dimaklumi. Namun apabila topic, judul, lokasi dan isi penelitian-publikas i ilmiahnya relative sama maka langkah ini kurang sesuai dengan etika ilmiah. Banyak mahasiswa datang ke perpustakaan karena belum ada ide meneliti dan membuat publikasi ilmiah. Namun apabila yang dia lakukan adalah menjiplak penelitian dan publikasi ilmiah kakak kelasnya, maka itu adalah langkah yang kurang beretika. Melihat fenomena ini, beberapa kampus mengharuskan mahasiswanya menjelaskan secara ilmiah dalam proposal, bahwa penelitiannya ini sudah dibandingkan dengan penelitian lain yang sejenis tetapi tetap ada perbedaan secara ilmiah, sehingga tidak dianggap sebagai plagiat. 2. LATAR BELAKANG, DASAR TEORI DAN TUJUAN Ternyata banyak orang kesulitan merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, walaupun dia adalah seorang peneliti yang handal. Kesulitan membuat laporan ini menyebabkan penulis akan berpikir jalur pintas dengan cara memindahkan (copy-paste) publikasi ilmiah orang lain sama persis ke laporan penelitiannya. Bahkan dengan nekad, dia memindahkan bagian teori yang berasal dari sumber pustaka yang lain. Misalnya di laporan publikasi ilmiah tersebut tercantum kutipan teori dari Agus (2001), maka penulis langsung mencantumkan hal sama ke tulisannya. Padahal dia sama sekali belum pernah melihat tulisan Agus (2001) tersebut. Jika tanpa melihat ke sumber aslinya dilakukan oleh banyak penulis secara turun temurun, maka cuplikan teori yang keliru akan berdampak dahsyat pada kekeliruan massal. Etika publikasi ilmiah memaklumi kemungkin terjadinya pengambilan sebagian materi dari publikasi ilmiah lain. Namun dalam pencantuman sumber perlu menyebutkan secara berurutan sejarah penulisannya. Jadi jika yang dibaca laporan Budi (2007) yang di dalamnya mencantumkan pendapat Agus (2001), maka dalam penulisan sumber menjadi Agus (2001) cit Budi (2007). Tetapi pengutipan semua kalimat tanpa menjadikannya sebagai kalimat baru, perlu dihindari karena etikanya kurang baik dan cenderung sebagai plagiat. Demikian juga dengan pencantuman tujuan penelitian atau publikasi ilmiah, sebaiknya berdasarkan pada kreasi sendiri walaupun kreasi itu diolah berdasarkan tujuan penelitian dari beberapa karya ilmiah. Apalagi jika peneliti/penulis mampu membuat tujuan baru yang bersifat lebih inovatif. 3. METODE ILMIAH Penelitian dan publikasi ilmiah mempunyai inti di dalam metode ilmiah. Banyak orang ingin meneliti, tetapi tidak tahu dan ragu bagaimana metodenya. Sehingga banyak orang yang mencoba mengadopsi metode ilmiah dari orang lain. Etikanya, metode ilmiah yang diadopsi tidak sama persis, tetapi dapat terjadi kemiripan. Kenapa tidak sama? Karena penelitian yang dilakukan perlu didukung oleh sarana dan prasarana guna mendukung metode ilmiah yang akan dilakukan. Misalnya ketersediaan alat dan bahan di lapangan dan laboratorium, ketersediaan data sekunder, perbedaan wawasan, dll. Apabila mencantumkan metode ilmiah, sebaiknya mencantumkan pula sumber yang diacu, sehingga langkah-langkah penelitian dapat dipertanggung- jawabkan secara ilmiah. Metode ilmiah perlu memberikan informasi tentang alur piker, lokasi, waktu, dan kebutuhan alat dan bahan. Metode ilmiah ini terbuka untuk umum, artinya orang lain dapat melakukan penelitian dengan metode yang sama dengan hasil yang relative sama pula. Itulah yang disebut langkah pembuktian ilmiah. Namun ada pula peneliti/penulis yang tidak mencantumkan metode ilmiah secara detail karena takut hasil karyanya ditiru oleh orang lain. Biasanya hasil karya tersebut yang akan memberikan manfaat buat orang banyak. 4. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian biasanya mencantumkan beberapa data hasil analisis laboratorium atau olah data dengan metode dan alat tertentu. Etika yang perlu diperhatikan apakah data yang dicantumkan tersebut merupakan murni hasil karyanya sendiri atau mengambil data orang lain. Data tersebut kemudian ditampilkan dalam bentuk table, grafik dan gambar. Sejauh data yang ditampilkan adalah hasil karya sendiri, maka publikasi ilmiah tersebut tidak akan melanggar etika. Apabila ternyata mengambil dari data publikasi ilmiah orang lain, kita perlu mencantumkan sumbernya. Namun apabila data tersebut belum dipublikasikan, kita perlu meminta ijin kepada pemiliknya. Bahkan lebih baik mendapatkan ijin secara tertulis. Sehingga jika ada tuntutan di kemudian hari, kita mempunyai bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabk an. 5. DAFTAR PUSTAKA Biar terkesan publikasi ilmiahnya berkualitas tinggi, ada penulis yang sengaja mencantumkan sumber pustaka yang sangat banyak sampai beberapa halaman. Padahal tidak semua sumber pustaka itu diacu dalam tulisannya. Secara etika, sebaiknya pustaka yang dicantumkan adalah yang memang diacu dalam tulisan tersebut. PENUTUP Pelanggaran terhadap kode etik publikasi ilmiah memang sering kita lihat dan bahkan mungkin kita pernah melakukan sebagian kecil atau besar tanpa disadari. Untuk itu perlu aturan yang jelas dan pengawasan dalam implementasinya di lapangan. Sehingga pelanggaran etika dapat ditekan dan publikasi ilmiah yang dilakukan dapat dipertanggungjawabk an secara ilmiah pula.

