Tapi jare wong jowo kon do ojo dumeh, ojo rumongso.
He...he..he,, nuwun


________________________________
From: ASROFI <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, March 1, 2010 9:06:26 PM
Subject: Re: [kendal-online] CAHAYA LANGIT: JALAN TERANG UNTUK BAYAR HUTANG

  
Terimakasih banyak mas Anto.
Bersedekah = Bersyukur
Bersyukur = merasa kaya
Merasa kaya = percaya diri
Percaya diri = yakin mampu menjalani hidup
yakin mampu menjalani hidup = punya cita2
punya cita2 = bekerja keras
bekerja keras = kaya
kaya karena bersedekah = ulangi sedekah lagi
selalu mengulangi bersedekah = LIFE IS BEAUTIFUL.

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id
Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com



2010/3/1 moh anto <anto_sarimanan@ yahoo.com>

>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>  >
>
>>
> 
>>      
> 
>
>
> Dari milis tetangga, semoga bermanfaat
>
>
>>
>>
>>>>
>>
>>
>>
>>  >>
>>
>> 
>>>>      
>> 
>>>>JALAN TERANG UNTUK BAYAR HUTANG
>>
>>Seorang pria bernama Mukhlis tengah mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung. 
>>Bisnis yang begitu menggiurkan sesaat membuatnya terjerembab hutang hingga 
>>lebih dari Rp 2 milyar. Ia tak sanggup bayar dan perusahaan kreditur pun 
>>memperkarakannya hingga ia dipenjara.
>>
>>Hari itu adalah Ahad, sudah dua pekan lebih Mukhlis berada di dalam sel 
>>sempit di balik jeruji. Ia merasa sedih dan kesepian. Kebebasan yang biasa ia 
>>hirup sebelumnya kini hanya tinggal kenangan. Jangankan untuk 
>>bersenang-senang dengan rekan dan sahabat, untuk berkumpul dengan keluarga 
>>tercinta saja sudah tidak lagi bisa. Mukhlis merasa sedih, dan ia berjanji
>> tidak ingin lagi hidup seperti ini. Berkali-kali dengan mulutnya ia gumamkan 
>> doa kepada Allah Sang Maha Penolong dari balik jeruji agar ia dapat 
>> menyelesaikan perkara dan segera bebas dari penjara dan
>> kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga.
>>
>>Dalam kesedihan yang Mukhlis alami, tiba-tiba seperti ijabah doa yang datang 
>>dari Allah Swt maka Mukhlis dapati ustadz Iman sedang berkeliling dari satu 
>>sel ke sel lainnya. Ustadz Iman adalah pembimbing rohani Islam para tahanan 
>>yang kerap memberikan pelajaran mental bagi setiap tahanan yang ada di Lapas 
>>Sukamiskin. Sepekan dua kali biasanya ustadz Iman datang ke lapas. Demi 
>>melihat datangnya ustadz Iman maka Mukhlis pun memanggil beliau dari balik 
>>jeruji.
>>
>>Terjadilah obrolan antara Mukhlis dan ustadz Iman. Banyak nasehat yang 
>>disampaikan sang ustadz kepada Mukhlis, termasuk salah satu nasehatnya adalah 
>>agar Mukhlis rajin bersedekah.
>>Ustadz Iman menyampaikan bahwa sedekah itu menjadi salah satu cara yang 
>>membuat datangnya pertolongan Allah Swt.
>>>>Mukhlis meresapi nasehat itu, maka sejurus kemudian ia bangkit untuk 
>>>>mengambil sesuatu. Ia buka tas dan dari dalam tas tersebut ia ambil uang
>> sejumlah Rp 1 juta dan ia berikan kepada sang ustadz.
>>“Ustadz..., mohon salurkan uang ini sebagai sedekah saya. Terserah ustadz mau 
>>berikan kepada siapa... saya berharap dengan sedekah ini saya akan mendapat 
>>pertolongan Allah seperti yang ustadz sampaikan kepada saya!”
>>
>>Sang Ustadz menerima sedekah Mukhlis. Beliau berjanji untuk menyalurkan 
>>sedekah tersebut selekas mungkin. Tak lupa sang Ustadz mendoakan Mukhlis agar 
>>segala masalah yang ia hadapi diberi kemudahan oleh Allah Swt.
>>
>>>>Sejurus kemudian ustadz Iman pun berlalu meninggalkan Mukhlis. 
>>
>>===0===
>>
>>Ustadz Iman kembali ke kampungnya. Sebelum beliau tiba di rumah beliau 
>>menyempatkan untuk mampir di sebuah warung kecil. Beliau membeli sesuatu di 
>>sana. Teringat akan titipan sedekah Mukhlis, maka ustadz Iman pun berbincang 
>>dengan pemilik warung.
>>
>>“Bu, punten..., apakah di warung ini ada orang-orang miskin yang punya hutang 
>>dan belum bisa terlunaskan? !” tanya
>> ustadz Iman kepada ibu pemilik warung.
>>“Ada ustadz....! ada beberapa orang susah yang punya hutang di warung saya.” 
>>jawab ibu pemilik warung.
>>“Berapa orang bu kira-kira jumlah mereka dan besaran hutangnya?!” kejar 
>>ustadz Iman lagi.
>>
>>Maka ibu pemilik warung pun menceritakan bahwa ada sejumlah orang miskin yang 
>>berhutang di warungnya, dan itu membuat usahanya sulit berkembang sebab modal 
>>yang ia putar tertahan oleh hutang-hutang mereka.
>>
>>Sang ibu pemilik warung menyebutkan sejumlah nama, namun setelah dihitung 
>>semua orang itu memiliki jumlah hutang Rp 1,8 juta. Sang ibu mengutarakan; 
>>biasanya mereka berhutang keperluan sehari-hari seperti sembako, namun 
>>rupanya mereka selalu tidak mampu membayar hutangnya sementara sang ibu tidak 
>>tega kalau mendengar mereka mengiba, maka ia pun memberikan izin kepada 
>>mereka untuk berhutang di warungnya.
>>
>>Usai mendapat penjelasan dari ibu pemilik warung maka ustadz Iman menjelaskan 
>>bahwa ia
>> memiliki titipan sedekah sebesar 1 juta rupiah. Beliau meminta kepada ibu 
>> pemilik warung untuk menghitung siapa saja kiranya yang bisa ditolong agar 
>> terbebas dari hutang.
>>
>>Sang ibu pemilik warung amat senang mendengarnya. Maka ia memberikan data 
>>orang-orang susah yang kerap berhutang di warungnya. Setelah dihitung maka 
>>ada 7 nama di antara mereka yang bisa dilunaskan hutangnya dengan uang 
>>sedekah 1 juta rupiah tersebut.
>>
>>Dengan baca basmalah ustadz Iman menyerahkan uang sedekah Mukhlis kepada ibu 
>>pemilik warung. Sang ibu berucap syukur dan ia mengangkatkan tangan seraya 
>>berdoa kepada Allah Swt atas anugerah-Nya yang telah menggerakan hati 
>>Mukhlis, orang yang tidak dikenalnya, untuk mau melunasi hutang-hutang orang 
>>susah yang ada di warungnya.
>>
>>Ibu pemilik warung berjanji kepada ustadz Iman untuk memberitahukan kepada 7 
>>nama tadi kabar gembira ini. Maka saat kesemua nama tadi mendapatkan kabar 
>>tersebut maka mereka pun bersyukur kepada
>> Allah Swt dan mendoakan Mukhlis dengan penuh kesungguhan.
>>
>>===0===
>>
>>Ina, istri Mukhlis datang berkunjung ke lapas pada hari Kamis. Ada gurat 
>>kegembiraan pada wajahnya. Saat Mukhlis datang di ruang besuk, maka Ina 
>>bangkit dari duduknya dan ia tak kuasa menahan tangis. Mukhlis kaget melihat 
>>istri tercintanya menangis. Mukhlis menanyakan apa gerangan namun Ina tidak 
>>mampu menjawab apa-apa. Tubuhnya bergetar dan terlihat banyak air mata yang 
>>mengalir di pipinya. Ina mengeluarkan secarik surat berwarna putih dari 
>>tasnya. Surat itu ia serahkan kepada Mukhlis dan langsung surat itu dibaca.
>>
>>Tidak banyak kata dan kalimat tertulis dalam surat itu. Namun demi membaca 
>>surat tersebut, maka Mukhlis pun tertunduk dan mulai meneteskan air mata haru.
>>
>>“Allahu akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar....
>>Alhamdulillah ya Rabb.... sungguh Engkau Maha Penolong dan Maha Pemurah... 
>>Engkau tolong hamba-Mu yang lemah ini untuk keluar dari
>> masalah” pekik Mukhlis dalam doa.
>>
>>Dalam surat tertanggal hari Selasa dua hari yang lalu tertulis bahwa 
>>perusahaan tempat Mukhlis berhutang menyatakan bahwa hutangnya SEBESAR 1 
>>MILYAR RUPIAH TELAH DIHAPUSKAN!
>>
>>>>Mukhlis dan Ina saling berpegangan tangan. Mereka sungguh bahagia mendengar 
>>>>berita gembira ini. Berita ini sungguh membuat beban hutang Mukhlis 
>>>>bertambah ringan. Maka usai bertemu dan bertukar kabar, beberapa saat 
>>>>kemudian Ina pun berpamitan untuk pulang ke rumah.
>>
>>===0===
>>
>>Keesokannya adalah hari Jumat. Seluruh penghuni lapas bersiap untuk 
>>melaksanakan shalat  Jum'at. Saat menanti  datangnya waktu Jum'at tiba 
>>Mukhlis mengisinya dengan dzikir dan i'tikaf. Begitu adzan Zuhur 
>>dikumandangkan maka naiklah sang khatib yang tiada lain adalah ustadz Iman. 
>>Saat menyimak khutbah Jum'at yang disampaikan ustadz Iman maka air mata 
>>Mukhlis kembali menetes deras. Mukhlis mengingat perjumpaannya dengan ustadz 
>>Iman pada hari
>> Ahad lalu dan ia teringat sedekah satu juta rupiah yang ia titipkan kepada 
>> beliau. Sungguh sedekah itu telah dibayar Allah Swt hanya dalam tempo 2 hari 
>> menjadi 1000 kali lipat. 
>>
>>Saat shalat Jum'at usai, maka Mukhlis mendatangi ustadz Iman. Ia menyampaikan 
>>ucapan terima kasih yang berulang-ulang atas bantuan ustadz Iman menyalurkan 
>>sedekahnya. Ustadz Iman pun kembali mengucapkan terima kasih. Beliau 
>>sampaikan bahwa pemilik warung dan 7 orang yang berhutang juga turut 
>>berterima kasih kepada Mukhlis dan mendoakan. Mendengarkan penuturan ustadz 
>>Iman kembali air mata haru mengalir deras di pipi Mukhlis.
>>>>Sambil terisak Mukhlis berkata kepada ustadz Iman, “Ustadz..., janji Allah 
>>>>Swt yang ustadz sebutkan bagi orang yang bersedekah sungguh kini telah saya 
>>>>rasakan. Sedekah saya kemarin dalam dua hari sungguh telah Allah bayarkan 
>>>>kepada saya sebesar 1000 kali lipat!”
>>
>>Mukhlis pun merangkul erat tubuh ustadz Iman. Kedua manusia itu tak
>> henti-hentinya berucap hamdalah dan bersyukur kepada Allah Swt. Ada 
>> kebahagiaan yang tiada terperi di hati kedua manusia itu. Keduanya menjadi 
>> saksi atas janji Allah, bahwa masalah yang dihadapi bisa mudah diatasi 
>> asalkan kita saling menolong terhadap sesama.
>>
>>Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt senantiasa menolong seorang hamba, selagi 
>>sang hamba kerap menolong saudaranya.” HR.Muslim dari Abu Hurairah.
>>
>>Apakah Anda ingin mencoba cara ini?! Semoga Allah mudahkan jalan Anda! Amien
>>
>>Cahaya Langit,
>>Bobby Herwibowo
>> 
>> 
>________________________________
 Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
>Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
>
> 

 


      

Kirim email ke