Adi bercerita kepada Budi, bahwa tiga hari yang lalu Adi membeli kue Lemper di
warung kue Ibu Sumi. Budi membanggakan rasa kue Lemper yang dibelinya,bahwa
rasanya enak sekali beras ketan di dalamnya pulen dan lengketnya pas kala di
kunyah. Daging cincang di dalamnya pun mak nyuuus, menyertai gurihnya beras
ketan.
Keesok harinya, karena penasaran dengan cerita Adi, Budi membeli kue Lemper di
warung Ibu Sumi. Di belinya lima buah kue Lemper, ketika dibuka bungkusannya
dilihatnya Lemper itu tak jauh beda dengan Lemper pada umumnya. Bahkan hanya
dibungkus dengan daun pisang saja, tidak di tambah bungkus plastik seperti
lemper2 jaman sekarang.
Aromanya lumayan cukup mengundang selera, apalagi yang mempromosikan Adi
temannya yang memang doyan makan. Ketika dibukanya daun pisang bungkus lemper
itu, tersembul beras ketan putih yang terbalut bungkus dalamnya. Dan
digigitnyalah Lemper itu, hmmm... tenyata betul kata Budi. Wangi daun pandak
yang tidak begitu menyengat,lengket beras ketan, gurihnya dan mak nyuus..daging
cincang di dalamnya. Muaantap.
Banyak hal yang terjadi dalam cerita di atas:
WUJUD & GAIB
Ketika Adi bercerita pada Budi ttg Lemper Ibu Sumi, dan mendiskripsikan Lemper
itu. Bagi Budi saat itu wujud Lemper adalah berupa "wujud HAKIKAT", krn saat
itu Budi hanya bisa mendiskripsikan dengan angan2 tidak bisa dengan panca
indera secara fisik. Kondisi Lemper saat itu adalah bersifat GAIB, krn bagi
Budi Lemper Ibu Sumi hanya berupa wacana.
Sedangkan bagi Adi saat bercerita pada Budi, ia menceritakan secara
Hakikat,walau dia telah meraskan secara Fisik/SYARIAT dari Lemper itu. Dan Adi
kondisi Lemper sudah bersifat TIDAK GAIB lagi, krn telah memahami si Lemper.
DEMI WAKTU.Ketika keesok harinya Budi membeli Lemper, "gugurlah" sifat GAIB se
Lemper bagi BUDI. Dan ketika kelezatan Lemper dirasakannya "gugur" pula wujud
Hakikat menjadi wujud FISIK.
Bagi Adi dan Budi setelah itu, si Lemper sudah tidak bersifat GAIB, mereka bisa
menghadirkan lemper dalam wujud Hakikat maupun Syariat. Kalau dalam bentuk
Syariat tentu harus membelinya di Ibu Sumi.
YAKIN
ILMU YAKIN, bagi BUDI ketika Adi bercerita mempromosikan Lemper Ibu Sumi ttg
kelezatanya mak nyuuus...keyakinan BUDI terhadap Lemper adalah ILMU YAKIN, krn
baru berupa wacana.
AINUL YAKIN, dan ketika BUDI membeli Lemper itu pun hingga mengupasnya, dan
mengunyahnya serta "belum" menarik kesimpulan tentang rasa Lemper. Keyakinan
BUDI saat itu adalah AINUL YAKIN.
HAQQUL YAKIN, dan ketika BUDI menarik kesimpulan tentang rasa dan kelezatan si
Lemper maak nyuuuuus... HAQQUL YAKIN lah keyakinan Budi terhadap si Lemper.
Proses Hakikat kemudian Syariat, ataupun sebaliknya Syariat kemudian Hakikat
adala wajar. Walau dalam kehidupan kita sekarang lebih sering sebenarnya
HAKIKAT dahulu baru kemudian SYARIAT, dan akhirnya harus mengikuti tuntunan N
Muhammad SAW karena beliaulah "penghulu" umat manusia.
Itulah IQRO si Lemper. Mohon maaf,