Hebatnya LEMPER dari sudut pandang ahli hakekat.
Apalagi si pembuat lempernya hehhehehehe...
 

--- On Mon, 3/8/10, muhamad rasidi <[email protected]> wrote:


From: muhamad rasidi <[email protected]>
Subject: [kendal-online] "Lemper"
To: [email protected]
Date: Monday, March 8, 2010, 10:49 AM


  





Adi bercerita kepada Budi, bahwa tiga hari yang lalu Adi membeli kue Lemper di 
warung kue Ibu Sumi. Budi membanggakan rasa kue Lemper yang dibelinya,bahwa 
rasanya enak sekali beras ketan di dalamnya pulen dan lengketnya pas kala di 
kunyah. Daging cincang di dalamnya pun mak nyuuus, menyertai gurihnya beras 
ketan.
Keesok harinya, karena penasaran dengan cerita Adi, Budi membeli kue Lemper di 
warung Ibu Sumi. Di belinya lima buah kue Lemper, ketika dibuka bungkusannya 
dilihatnya Lemper itu tak jauh beda dengan Lemper pada umumnya. Bahkan hanya 
dibungkus dengan daun pisang saja, tidak di tambah bungkus plastik seperti 
lemper2 jaman sekarang.
Aromanya lumayan cukup mengundang selera, apalagi yang mempromosikan Adi 
temannya yang memang doyan makan. Ketika dibukanya daun pisang bungkus lemper 
itu, tersembul beras ketan putih yang terbalut bungkus dalamnya. Dan 
digigitnyalah Lemper itu, hmmm... tenyata betul kata Budi. Wangi daun pandak 
yang tidak begitu menyengat,lengket beras ketan, gurihnya dan mak nyuus..daging 
cincang di dalamnya. Muaantap.

Banyak hal yang terjadi dalam cerita di atas:
WUJUD & GAIB
Ketika Adi bercerita pada Budi ttg Lemper Ibu Sumi, dan mendiskripsikan Lemper 
itu. Bagi Budi saat itu wujud Lemper adalah berupa "wujud HAKIKAT", krn saat 
itu Budi hanya bisa mendiskripsikan dengan angan2 tidak bisa dengan panca 
indera secara fisik. Kondisi Lemper saat itu adalah bersifat GAIB, krn bagi 
Budi Lemper Ibu Sumi hanya berupa wacana.
Sedangkan bagi Adi saat bercerita pada Budi, ia menceritakan secara 
Hakikat,walau dia telah meraskan secara Fisik/SYARIAT dari Lemper itu. Dan Adi 
kondisi Lemper sudah bersifat TIDAK GAIB lagi, krn telah memahami si Lemper.
DEMI WAKTU.Ketika keesok harinya Budi membeli Lemper, "gugurlah" sifat GAIB se 
Lemper bagi BUDI. Dan ketika kelezatan Lemper dirasakannya "gugur" pula wujud 
Hakikat menjadi wujud FISIK.
Bagi Adi dan Budi setelah itu, si Lemper sudah tidak bersifat GAIB, mereka bisa 
menghadirkan lemper dalam wujud Hakikat maupun Syariat. Kalau dalam bentuk 
Syariat tentu harus membelinya di Ibu Sumi.

YAKIN
ILMU YAKIN, bagi BUDI ketika Adi bercerita mempromosikan Lemper Ibu Sumi ttg 
kelezatanya mak nyuuus...keyakinan BUDI terhadap Lemper adalah ILMU YAKIN, krn 
baru berupa wacana.
AINUL YAKIN, dan ketika BUDI membeli Lemper itu pun hingga mengupasnya, dan 
mengunyahnya serta "belum" menarik kesimpulan tentang rasa Lemper. Keyakinan 
BUDI saat itu adalah AINUL YAKIN.
HAQQUL YAKIN, dan ketika BUDI menarik kesimpulan tentang rasa dan kelezatan si 
Lemper maak nyuuuuus... HAQQUL YAKIN lah keyakinan Budi terhadap si Lemper.

Proses Hakikat kemudian Syariat, ataupun sebaliknya Syariat kemudian Hakikat 
adala wajar. Walau dalam kehidupan kita sekarang lebih sering sebenarnya 
HAKIKAT dahulu baru kemudian SYARIAT, dan akhirnya harus mengikuti tuntunan N 
Muhammad SAW karena beliaulah "penghulu" umat manusia.

Itulah IQRO si Lemper. Mohon maaf,










      

Kirim email ke