Kalau hanya pandai saling menyalahkan pihak lain, itu sudah "lagu lama" bangsa ini. Kalau hanya bisa menanam, itu belumlah cukup ! Petani tidak boleh hanya berhenti pada ending peningkatan produksi, baik secara kuantitas maupun kualitas. Petani tidak boleh berpangku tangan menyerahkan "nasib harga" kepada para tengkulak yang menghampirinya. Petani punya kuasa untuk berpijak di atas kedua kakinya, walau kadang terkendala tingkat pendidikan dan wawasan yang umumnya rendah. Petani harus tergerak dengan kelompoknya (baca: kelompok tani), agar punya hak tawar yang tinggi pada produk yang dihasilkan. Walau kadang pembentukan kelompok tani hanyalah jurus instan untuk jadi penadah bantuan top down dari sang penguasa yang suka ngantuk di saat rapat (karena malamnya begadang nonton bola). Petani gak usah mengandalkan, apalagi berani menyalahkan, kepada para politikus dan birokrat negeri ini sebagai pihak yang paling bertanggungjawab pada nasib petani. Lha wong mereka asyik sendiri membuat aturan untuk sayembara perang-perangan meraih tujuan partai (tapi sering dicelotehkan "atas nama rakyat"). Petani juga gak perlu berciut nyali, ketika produk antah berantah tumpah ruah di negeri ini, yang secara pasti mematikan nilai BEP (break even point) dari logika lokal. Mending belajar meningkatkan kualitas, memperbaiki kemasan, dan mencari kerjasama membuka pasar. Alangkah baiknya bila para petani berdikari, merangkak di atas alas perut sendiri, lha wong sudah jelas di depannya para pedagang yang menawar dan akhirnya membeli produknya. Kenapa tidak sekalian menjadi Petani juga Pedagang? sehingga bisa mengenyam harga bawang putih yang 20 ribuan, harga cabe yang 40 ribuan, harga ayam 30 ribuan. Caranya ? Mulailah merangkak belajar marketing se kawasan RT, sambil berbenah memperbaiki kualitas dan kemasan produk. Jangan sungkan belajar komunikasi via internet. Hanya dengan modal hand phone mirip blackberry, yang harganya terjangkau kalangan bawah, para petani bisa bertukar informasi, menawarkan barang dan layanan lintas ruang. Tidak perlu lebih dulu melintasi meja pak pemimpin yang bingung membuat strategi "balik modal". Tidak perlu pula menunggu gerak dan prestasi organisasi nasional yang mengatasnamakan petani, lha wong para kandidat itu politikus kekuasan semua. Apa yang bisa diharapkan ? Banggalah menjadi petani, karena banyak petinggi negeri ini yang ternyata anak seorang petani. Apa rahasianya ? sering pegang cangkul dengan ikhlas kale..... Ki Asmoro Jiwo

