Matur nuwun tanggapannya Mas Ery.

Saya coba memberikan gambarannya nggih ... :)
Ini konteks kasus saya pribadi. Saya sendiri kenal dan akhirnya terjun di
ranah OSS setelah diskusi darat beberapa kali dengan Pak Onno W.Purbo. Salah
satu yang beliau "pertanyakan" adalah masalah kehalalan mengajar. Mas Ery
dan milisser KOL tentu amat paham dengan sikon ini, yakni pengajaran dengan
menggunakan OS dan aplikasi bajakan. Sebenarnya kejadian ini terjadi karena
ketidaktahuan adanya pilihan lain. Hal ini saya buktikan setelah saya jalan2
ke beberapa sekolah dan memberikan semacam workshop OSS Ubuntu dan contoh
aplikasi untuk pembelajaran. Banyak guru yang mengaku ingin pindah ke Ubuntu
agar bisa menjalankan program-program ini.

Masalah OS (operating system) dan aplikasi bajakan ini memang rumit. Saya
pernah mengajukan pertanyaan, terkait dengan kekhawatiran sekolah jika
mengajarkan selain Wi***ws, pertanyaan saya : apakah benar pernah dilakukan
survei secara benar, bahwa sebagian besar lulusan menjadi pengguna aktif OS
tadi ? Sekolah tersebut akhirnya mengakui, masalah sebenarnya adalah
keengganan untuk "belajar lagi". Jangankan ganti OS dan belajar aplikasi
baru, untuk belajar Open Office yang nyaris persis sama dengan MS Office pun
masih berat, padahal saat ditunjukkan bahwa file Open Office lebih tahan
virus mereka pun menunjukkan keinginan pakai yang tinggi.

Masalah kehalalan mengajar menjadi masalah sensitif tersendiri. Ada kejadian
aneh yang akan dialami oleh guru-2 TIK SMA dan SMK, yakni pembelajaran
mengenai UU HAKI. Materi UU HAKI ini diajarkan persis sebelum siswa2
dikenalkan pada pemahaman OS dan aplikasi, yang sayangnya bajakan. Memang
tidak semua sekolah, namun sebagian besar sekali  adalah sekolah.

Hal lain yang menampar benak saya adalah saat Pak Onno menyampaikan bahwa
ada sekian ratus juta dolar yang harus dibayarkan Indonesia karena pemakaian
OS dan aplikasi berbayar. Hal ini sebenarnya mungkin bukan masalah jika
memang sikon-nya bisa seperti India, yakni OS dan aplikasi yang dibeli ini
benar-benar memberikan nilai tambah kembali yang minimal sama besarnya. Kita
pun tahu, sejauh mana kemampuan rata-rata penguna komputer dengan OS dan
aplikasi bajakan ini, di Indonesia.

Kurang terkenalnya OSS di Indonesia terjadi karena memang kurangnya
sosialisasi yang mestinya dibantu oleh pemerintah (idealnya lewat sekolah).
Produk-produk OSS nasional, seperti IGOS Nusantara, dan bahkan Blank-On yang
sudah terkenal di Asia pun, jarang dikenal masyarakat kita. Masalah
sosialisasi ini sepertinya terkait dengan kebanggaan nasional, bangga
sebagai bangsa Indonesia, dan hal-hal semacamnya. Kurangnya sinergi dan
komunikasi antara lembaga pengguna OSS dan pecinta OSS (KPLI) menjadi PR
berikutnya.

Kekhawatiran tidak lakunya ketrampilan IT berbasis OSS, sebenarnya tidak
terbukti, dan sudah ditunjukkan oleh produk-produk OSS yang mendunia.
Ambillah contoh Java dan Android. Saya selalu sampaikan kepada para siswa
saya (dulu saat saya masih mengajar), jangan berpikiran untuk beli barangnya
tok, tapi coba berpikir untuk membuat isian atau konten. Siswa-siswa
menunjukkan ketertarikan dan respek yang baik, namun hambatan justru datang
dari para petinggi sekolah.

Tentang banyaknya pilihan OSS, sebenarnya justru memberikan pembelajaran
tersendiri, dan akan membawa kekayaan pengetahuan tersendiri. Jika tidak ada
limitasi pilihan pada OS dan aplikasinya, dan pengajaran di-orientasi-kan
pada hasil dan diagram blok proses, dan membebaskan siswa untuk memilih
aplikasi (dan tentu sang guru ikut mencontohkan), maka akan terbentuk
pemikiran yang kaya, yang tidak berorientasi pada satu tool semata. Contoh,
untuk pembelajaran ketik-mengetik, bisa diperkenalkan Open Office, K-Office,
dan AbiWord.

Untuk saat ini, OSS berbasis debian lebih banyak dipakai di Indonesia, yang
paling terkenal mungkin Ubuntu, dengan GNOME-nya, atau Kubuntu dengan
KDE-nya yang tampilannya bisa melebihi Windows 7 sekalipun. Saya pernah
membuktikan bahwa dengan Kubuntu yang dikustomisasi (dan proses ini yang
mengasyikkan), para pengguna Windows 7 pun tampak gigit jari. Saya
menunjukkan bahwa proses kustomisasi di Ubuntu, bisa nyaris tak terbatas.
Saya bisa mengatakan Linux itu *gue banget*. Dan saat ini saya kenalkan pada
siswa, antuasiasmenya luar biasa. Apalagi itu semua bisa diperoleh dengan
bebas (bebas dilihat dari filosofi free), bebas dan legal. Jika dikatakan
banyaknya distro itu akan membingungkan, maka saya katakan, dengan
penjelasan dan pengarahan yang benar, yang muncul justru kebanggaan pakai.
Kejadiannya akan mirip dengan *theming *pada Windows, namun di OSS jauh
lebih kaya dan mencerdaskan (karena banyaknya pilihan kustomisasi).

Jika dilihat dari sisi anggaran untuk pengadaan, maka kita akan melihat
sebuah beda harga yang amat mencolok. Saya sendiri melihat sudah waktunya
"memaksakan yang haram menjadi halal" dengan alasan kurang mampu itu bisa
segera diakhiri, utamanya untuk dunia pendidikan. Karena ini akan meracuni
benak kita sendiri. Alasan kurang mampu ini menjadi kurang relevan, apalagi
melihat tingginya biaya yang ditarik sekolah saat ini. Apalagi jika dilihat
bahwa yang diajarkan adalah hal-hal sederhana, yang jelas banyak pilihannya
di ranah OSS. Jika pembelajaran berbasis IT, sering dikonotasikan dengan
pembuatan slide Power Point, maka dengan OSS, bukan lagi sekedar slide, tapi
siswa akan akan berkenalan dengan aplikasi yang memang dibuat untuk itu.
Contoh, Kalzium untuk pembelajaran Kimia, KAlgebra, SciLab, dan semacamnya
untuk matematika. Lebih lengkap bisa di-*googling* dengan kata kunci
Edubuntu atau Debian Science. Apalagi untuk pembelajaran bidang IT
networking, OSS memberikan pilihan strata kesaktian yang tiada tara. Untuk
multimedia, jika tidak ingin repot bisa ambil paket Ubuntu Studio. Untuk
belajar 3D, bisa dengan Blender, yang katanya bahkan bisa dijalankan di PDA
sekalipun :-)  Untuk belajar web, ada Quanta Plus yang sama luar biasanya
dengan Dreamweaver. Untuk belajar mind-map, ada XMind. Untuk mengganti MS.
Project, ada Open Proj. Untuk mengganti CorelDraw, ada sK1. Untuk mengganti
Photoshop, ada GiMP. Dan, bagi saya yang membuat semua itu menjadi luar
biasa adalah itu semua bisa didapatkan secara bebas, dan legal pula untuk
meng-kostumisasi, bahkan dengan di-merk-i kita sendiri. Saya pribadi saya
melihat hal ini sebagai *unlimited possibilities* untuk belajar dan
berproduksi.

Mohon maaf jika kepanjangan.

Salam "OSS untuk Kendal"
PakPur

Kirim email ke