Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji
------------------------------------------------------- 

Suatu ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung dan berencana naik 
kereta api Malabar yang berangkat dari Stasiun Hall Bandung jam 15:30. Rupanya 
hari itu saya keasyikan melewatkan waktu siang ditambah dengan lalu lintas kota 
yang cukup padat, sehingga terlambat tiba di stasiun. Sebagai gantinya saya 
mencari karcis kereta jam-jam sesudahnya, karena sebelumnya saya sempat 
menilpun call centre katanya tiket masih banyak. Ternyata sore itu semua tiket 
kereta menuju arah timur untuk hari itu sudah habis. Mencoba menghubungi agen 
travel sebagai alternatif ternyata juga sudah tidak tersedia perjalanan hari 
itu. 

Saya memutuskan untuk menginap semalam di Bandung dan pulang ke Jogja dengan 
kereta besok paginya. Sementara saya dheleg-dheleg (terbengong-bengong) karena 
harus menunda kepulangan ke Jogja, mampirlah saya ke mushola yang ada di ujung 
kiri stasiun, untuk sholat Dzuhur wal-Ashar, sambil berdoa agar pikiran tidak 
kemrungsung dan semoga ada pencerahan. (Jadi kalau lain kali Anda 
dheleg-dheleg, dimanapun Anda berada, mampirlah ke mushola atau masjid 
terdekat. Insya Allah akan menemukan hikmahnya. Tapi ya sholat, jangan hanya 
pindah dheleg-dheleg).

Usai sholat saya sempatkan mengobrol dengan penjaga mushola yang ternyata 
orangnya beda dengan yang pernah saya jumpai beberapa bulan sebelumnya. Dari 
obrolan dengan penjaga mushola yang belakangan saya ketahui bernama pak 
Syahroni itu saya ditanya : "Tadi tidak ada orang yang nawarin tiket?". Saya 
langsung paham apa yang dimaksud, pasti beli tiket ke calo. Sejenak kemudian 
saya pamit kepada pak Syahroni sambil menitipkan tas. Saya hendak melihat-lihat 
ke bagian penjualan tiket di stasiun siapa tahu dapat inspirasi. 

Benar juga. Saya dihampiri seorang bapak tua yang katanya bisa mengusahakan 
tiket ke Jogja malam itu. Tapi harga tiketnya Rp 100.000,- lebih mahal di atas 
harga loket. Tanpa pikir panjang langsung saya setujui, ketimbang harus 
menginap semalam di Bandung. Akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket KA Lodaya 
keberangkatan jam 8 malam, dengan harga calo tentu saja.

Menunggu waktu keberangkatan malam harinya, sore itu saya memiliki banyak waktu 
luang yang kemudian saya habiskan untuk mengobrol dengan pak Syahroni sang 
penjaga mushola. Rupanya pembicaraan semakin mengasyikkan dan akrab. Bahkan pak 
Syahroni yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengurusi mushola stasiun itu 
menawari saya untuk dipesankan minuman ke kedai di dekat situ, juga menawari 
akan dibelikan rokok. Tentu saja, yang pertama saya setujui tapi yang kedua 
saya tolak. Tak terasa obrolan terus berlanjut hingga masuk waktu maghrib 
bahkan isya, sampai akhirnya saya berpamitan sesaat menjelang keberangkatan 
kereta Lodaya yang akan meninggalkan Bandung.  
 
***

Pak Syahroni yang kini bertempat tinggal di daerah Soreang, Bandung, bersama 
seorang istri dan ketiga anaknya itu rupanya seorang yang sederhana tapi 
berwawasan cukup luas. Meski sehari-harinya bertugas mengurusi dan menjaga 
mushola, namun beliau sering diminta untuk mengisi pengajian agama di 
lingkungan pegawai stasiun Bandung. Di kampungnya pun beliau membantu memberi 
pengajaran agama kepada sekitar 40 orang anak-anak di lingkungan rumah 
tinggalnya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk tujuan ibadah tanpa berharap 
imbalan, alias dilakukannya dengan gratis. Di kampungnya pula pak Syahroni 
sering terlibat dan dipercaya mengisi kegiatan keagamaan. 

Sudah 18 tahun pak Syahroni (kini berusia 45 tahun) menekuni pekerjaannya 
sebagai penjaga mushola stasiun tanpa pernah mengeluh. Tanpa gaji, tanpa honor, 
dan satu-satunya sumber penghasilannya adalah dari pemasukan kotak infak 
mushola stasiun yang dibagi dua dengan seorang teman kerjanya sesama penjaga 
mushola (yang juga pernah saya kenal, bernama pak Nanang). Hasil infak itu pun 
masih dipakai sebagiannya untuk biaya operasi mushola antara lain untuk 
perbaikan-perbaikan kecil, kebersihan, dsb. Bisa saya bayangkan, pasti tidak 
seberapa nilai "take home pay" yang bisa diperolehnya untuk menghidupi 
keluarganya.

Di balik semangatnya untuk terus ingin mengurus mushola dan menekuni pengabdian 
ibadahnya mengajarkan agama kepada siapapun tanpa berharap imbalan lebih, pak 
Syahroni memimpikan ingin pada suatu saat nanti bisa pergi menunaikan ibadah 
haji ke tanah suci. Pak Syahroni menceritakan impiannya itu sambil tertawa, 
seolah menyadari bahwa impiannya itu memang sekedar impian yang nyaris tak 
mungkin bakal terwujud. Namun beliau sangat yakin bahwa jika Allah menghendaki 
maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan saking kepinginnya untuk dapat pergi 
ke Mekkah, tanpa ragu-ragu setiap kali membicarakan tentang ibadah haji, dengan 
percaya diri pak Syahroni mengatakan kepada siapapun: "Insya Allah tahun depan 
saya akan pergi ke tanah suci". Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu 
diwiridkannya. Tapi doanya tak pernah putus.

Tentu saja, saya harus memberi dorongan semangat kepada beliau. Bak seorang 
"tukang kompor" (motivator, maksudnya), saya katakan : "Benar pak, jangan 
berhenti berharap dan berdoa. Insya Allah impian bapak akan terwujud. Dan, 
Insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan bapak benar-benar 
berangkat ke tanah suci pada suatu saat nanti".

*** 

Pengalaman sejenak bersama pak Syahroni itu saya tuliskan sebagai cersta 
(cerita status) di Facebook, sekedar ingin berbagi pengalaman kepada 
sahabat-sahabat saya di Facebook. Bunyi status saya begini:

Sdh 18 th ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji ato honor, mlainkn hasil kotak 
infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kpingin skali naik haji. Stiap thn 
mngatakn: "insya Allah thn depan ke tnh suci". Kini entah sdh thn ke brp 
kalimat itu diwiridkan. Tp doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, 
kubilang: "Pak, insya Allah jika umur sy panjang, sy ingin mnyaksikan Bpk 
benar2 brngkat ke tanah suci...". (02/08/2010)
Setelah saya mem-posting status di Facebook itu, ternyata beberapa sahabat 
memberi respon yang di luar dugaan saya yang membuat saya merinding dan 
membangkitkan semangat. Beberapa sahabat malah berniat ingin menyumbangkan 
sejumlah dana untuk pak Syahroni. Maka kutulis cerita status berikutnya:

Awalnya hnya ingin sharing pngalaman '3 jam brsama sang penjaga mushola' di 
stasun Bandung. Pak Syahroni, pnjaga mushola itu ingin skali naik haji, tp 
satu2nya smber pnghasilan adlh kotak infak. Sy lalu mnjelma mnjd "tukang 
kompor". Sy yakinkan: "Insya Allah, niat Bpk akn terwujud. Jngn brhenti 
berdoa". Respon rekan2 sungguh mmbuat sy merinding, ketika ada 4 rekan berniat 
sedekah @Rp 1 juta. (03/08/2010)

Sebenarnya saya sendiri tidak pernah berencana membantu pak Syahroni dari sisi 
materi, melainkan dalam hati saya berniat membantunya dengan doa. Maka saya pun 
menuliskan cerita status berikutnya:

Msh ttg impian pak Syahroni (18 th mjd pnjaga, muadzin & imam mushola stasiun 
Bandung) utk naik haji, sdg pnghsilannya hnya dr kotak infak. Sy tdk prnah 
brencana mmbantu kcuali dg doa, tdk jg prnh brniat mnggalang dana apalg jd 
Panitia. Tp mmbaca respon para sahabat, sy jd brgairah spt ktika mlm Jum'at 
tiba (utk lbh bnyak tadarus, maksudnya) & adrenalin sy mningkat spt ktika 
mndaki gunung. (03/08/2010)

Siang tadi sy bicara via telp dg pak Syahroni. Trdengar dr bicaranya beliau 
terkejut, dgn terbata2 mngucap syukur & 'hatur nuhun'. Sgr akan dibuka Tabungan 
Haji a/n beliau, shg siapapun yg berniat sedekah utk pak Syahroni, tinggal 
transfer ke rek tsb (boleh jg via sy). Ini akan mnjd bukti ksungguhan seorg 
hamba utk mmnuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yg 
mnggenapi.  (03/08/2010)

Pak Syahroni ini memang bukan apa-apa saya, selain sekedar seseorang yang baru 
saya kenal di stasiun Bandung. Namun semangatnya untuk bisa menunaikan ibadah 
haji sungguh sangat menginspirasi, bahkan di mata sahabat-sahabat saya yang 
tersentuh hatinya untuk berempati kepada pak Syahroni. Kemudian saya pun 
menuliskan cerita status berikutnya:

Prlu dketahui bhw pak Syahroni ini bkn apa2 sy. Ttangga bkn, famili apalg, 
teman jg br kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan & ketulusan niatnya 
utk pergi haji benar2 mnginspirasi sy. Klo ada yg tanya knapa mau repot2 
mmbantunya? Sy tdk tahu. Smua trjd bgitu sj tnpa prnah sy rencana. Brngkali 
itulah jln rejeki bg pak Syahroni.. "min khoitsu laa yahtasiib (dr sumber yg 
tak trduga)". (04/08/2010)

Hingga akhirnya atas bantuan seorang teman di Bandung, pak Syahroni telah 
membuka rekening Tabungan Haji. Saya tuliskan dalam cerita status saya:

Mmfasilitasi semangat brsedekah rekan2 FB utk pak Syahroni, pnjaga mushola 
stasiun Bdg (lihat status2 sy sblmnya). Hr ini telah dibuka rekening Tabungan 
Haji a/n Pak Syahroni di bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8, dg setoran 
awal Rp 8,5 jt. Sy pesankan kpd beliau: "Jaga niat seolah2 bpk akn sgr brngkt 
ke tanah suci.... Tabunglah brppun rejeki yg bpk ada & tdk usah dipikir 
kurangnya, biar Allah swt yg menggenapi...". (09/08/2010)

Alhamdulillah, hingga saat ini telah terkumpul saldo sejumlah Rp 9,5 juta di 
rekening Tabungan Haji pak Syahroni. Memang masih jauh dari jumlah minimal yang 
diperlukan untuk memperoleh nomor urut daftar tunggu. 

Ucapan terima kasih ingin saya sampaikan kepada segenap sahabat yang dengan 
niat tulus ikhlasnya mentransfer sejumlah dana untuk pak Syahroni. Bukan soal 
jumlah rupiahnya, melainkan berapapun nilai sedekah itu, insya Allah akan 
menjadi pembuka jalan bagi terwujudnya mimpi pak Syahroni untuk berkunjung ke 
tanah suci, entah kapan hal itu akan menjadi kenyataan. Semoga semua kebaikan 
para sahabat itu akan memperoleh balasan yang jauh lebih baik dari Allah swt. 
Amin.

NB : Jika masih ada sahabat yang ingin bersedekah untuk pak Syahroni, silakan 
mentransfer dananya, bisa melalui saya atau langsung ke no. rekening yang 
tertulis di atas dan tolong kesediannya untuk mengkonfirmasi kepada saya agar 
saya dapat membantu memonitornya. 

Yogyakarta, 29 Agustus 2010
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke