Subhanallah.....
terima kasih mas YIs telah menggugah setiap insan untuk membantu pak Syahroni

Tabungan Haji a/n Pak Syahroni di bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8



________________________________
Dari: ASROFI <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Ming, 29 Agustus, 2010 05:30:09
Judul: Re: [kendal-online] Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji

  


Sungguh mulia niat Pak Syahroni ini, Khusnuszon pada Allah begitu tingginya.
Mungkin saya mempunyai usaha yang lebih masuk akal dari Pak Syahroni untuk niat 
naik haji, tapi justru niat saya naik haji masih begitu rendahnya.

Mari kita bantu pak Shahroni dengan kemampuan kita seadanya mungkin 10.000 atau 
berapapun, mudah2an sekecil apapun yang kita berikan ke Pak Syahroni bisa 
membuat kita ketularan Positive thinking seperti Pak Syahroni.

Bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8

Salam.

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com



2010/8/29 Yusuf Iskandar <[email protected]>

  
>Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji
>------------------------------------------------------- 
>
>Suatu ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung dan berencana naik 
>kereta 
>api Malabar yang berangkat dari Stasiun Hall Bandung jam 15:30. Rupanya hari 
>itu 
>saya keasyikan melewatkan waktu siang ditambah dengan lalu lintas kota yang 
>cukup padat, sehingga terlambat tiba di stasiun. Sebagai gantinya saya mencari 
>karcis kereta jam-jam sesudahnya, karena sebelumnya saya sempat menilpun call 
>centre katanya tiket masih banyak. Ternyata sore itu semua tiket kereta menuju 
>arah timur untuk hari itu sudah habis. Mencoba menghubungi agen travel sebagai 
>alternatif ternyata juga sudah tidak tersedia perjalanan hari itu. 
>
>
>Saya memutuskan untuk menginap semalam di Bandung dan pulang ke Jogja dengan 
>kereta besok paginya. Sementara saya dheleg-dheleg (terbengong-bengong) karena 
>harus menunda kepulangan ke Jogja, mampirlah saya ke mushola yang ada di ujung 
>kiri stasiun, untuk sholat Dzuhur wal-Ashar, sambil berdoa agar pikiran tidak 
>kemrungsung dan semoga ada pencerahan. (Jadi kalau lain kali Anda 
>dheleg-dheleg, 
>dimanapun Anda berada, mampirlah ke mushola atau masjid terdekat. Insya Allah 
>akan menemukan hikmahnya. Tapi ya sholat, jangan hanya pindah dheleg-dheleg).
>
>Usai sholat saya sempatkan mengobrol dengan penjaga mushola yang ternyata 
>orangnya beda dengan yang pernah saya jumpai beberapa bulan sebelumnya. Dari 
>obrolan dengan penjaga mushola yang belakangan saya ketahui bernama pak 
>Syahroni 
>itu saya ditanya : "Tadi tidak ada orang yang nawarin tiket?". Saya langsung 
>paham apa yang dimaksud, pasti beli tiket ke calo. Sejenak kemudian saya pamit 
>kepada pak Syahroni sambil menitipkan tas. Saya hendak melihat-lihat ke bagian 
>penjualan tiket di stasiun siapa tahu dapat inspirasi. 
>
>
>Benar juga. Saya dihampiri seorang bapak tua yang katanya bisa mengusahakan 
>tiket ke Jogja malam itu. Tapi harga tiketnya Rp 100.000,- lebih mahal di atas 
>harga loket. Tanpa pikir panjang langsung saya setujui, ketimbang harus 
>menginap 
>semalam di Bandung. Akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket KA Lodaya 
>keberangkatan jam 8 malam, dengan harga calo tentu saja.
>
>Menunggu waktu keberangkatan malam harinya, sore itu saya memiliki banyak 
>waktu 
>luang yang kemudian saya habiskan untuk mengobrol dengan pak Syahroni sang 
>penjaga mushola. Rupanya pembicaraan semakin mengasyikkan dan akrab. Bahkan 
>pak 
>Syahroni yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengurusi mushola stasiun itu 
>menawari saya untuk dipesankan minuman ke kedai di dekat situ, juga menawari 
>akan dibelikan rokok. Tentu saja, yang pertama saya setujui tapi yang kedua 
>saya 
>tolak. Tak terasa obrolan terus berlanjut hingga masuk waktu maghrib bahkan 
>isya, sampai akhirnya saya berpamitan sesaat menjelang keberangkatan kereta 
>Lodaya yang akan meninggalkan Bandung. 
>
>
>***
>
>Pak Syahroni yang kini bertempat tinggal di daerah Soreang, Bandung, bersama 
>seorang istri dan ketiga anaknya itu rupanya seorang yang sederhana tapi 
>berwawasan cukup luas. Meski sehari-harinya bertugas mengurusi dan menjaga 
>mushola, namun beliau sering diminta untuk mengisi pengajian agama di 
>lingkungan 
>pegawai stasiun Bandung. Di kampungnya pun beliau membantu memberi pengajaran 
>agama kepada sekitar 40 orang anak-anak di lingkungan rumah tinggalnya. 
>Semuanya 
>dilakukan semata-mata untuk tujuan ibadah tanpa berharap imbalan, alias 
>dilakukannya dengan gratis. Di kampungnya pula pak Syahroni sering terlibat 
>dan 
>dipercaya mengisi kegiatan keagamaan. 
>
>
>Sudah 18 tahun pak Syahroni (kini berusia 45 tahun) menekuni pekerjaannya 
>sebagai penjaga mushola stasiun tanpa pernah mengeluh. Tanpa gaji, tanpa 
>honor, 
>dan satu-satunya sumber penghasilannya adalah dari pemasukan kotak infak 
>mushola 
>stasiun yang dibagi dua dengan seorang teman kerjanya sesama penjaga mushola 
>(yang juga pernah saya kenal, bernama pak Nanang). Hasil infak itu pun masih 
>dipakai sebagiannya untuk biaya operasi mushola antara lain untuk 
>perbaikan-perbaikan kecil, kebersihan, dsb. Bisa saya bayangkan, pasti tidak 
>seberapa nilai "take home pay" yang bisa diperolehnya untuk menghidupi 
>keluarganya.
>
>Di balik semangatnya untuk terus ingin mengurus mushola dan menekuni 
>pengabdian 
>ibadahnya mengajarkan agama kepada siapapun tanpa berharap imbalan lebih, pak 
>Syahroni memimpikan ingin pada suatu saat nanti bisa pergi menunaikan ibadah 
>haji ke tanah suci. Pak Syahroni menceritakan impiannya itu sambil tertawa, 
>seolah menyadari bahwa impiannya itu memang sekedar impian yang nyaris tak 
>mungkin bakal terwujud. Namun beliau sangat yakin bahwa jika Allah menghendaki 
>maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan saking kepinginnya untuk dapat pergi 
>ke Mekkah, tanpa ragu-ragu setiap kali membicarakan tentang ibadah haji, 
>dengan 
>percaya diri pak Syahroni mengatakan kepada siapapun: "Insya Allah tahun depan 
>saya akan pergi ke tanah suci". Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu 
>diwiridkannya. Tapi doanya tak pernah putus.
>
>Tentu saja, saya harus memberi dorongan semangat kepada beliau. Bak seorang 
>"tukang kompor" (motivator, maksudnya), saya katakan : "Benar pak, jangan 
>berhenti berharap dan berdoa. Insya Allah impian bapak akan terwujud. Dan, 
>Insya 
>Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan bapak benar-benar 
>berangkat 
>ke tanah suci pada suatu saat nanti".
>
>*** 
>
>Pengalaman sejenak bersama pak Syahroni itu saya tuliskan sebagai cersta 
>(cerita 
>status) di Facebook, sekedar ingin berbagi pengalaman kepada sahabat-sahabat 
>saya di Facebook. Bunyi status saya begini:
>
>Sdh 18 th ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji ato honor, mlainkn hasil kotak 
>infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kpingin skali naik haji. Stiap thn 
>mngatakn: "insya Allah thn depan ke tnh suci". Kini entah sdh thn ke brp 
>kalimat 
>itu diwiridkan. Tp doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: 
>"Pak, insya Allah jika umur sy panjang, sy ingin mnyaksikan Bpk benar2 brngkat 
>ke tanah suci...". (02/08/2010)
>Setelah saya mem-posting status di Facebook itu, ternyata beberapa sahabat 
>memberi respon yang di luar dugaan saya yang membuat saya merinding dan 
>membangkitkan semangat. Beberapa sahabat malah berniat ingin menyumbangkan 
>sejumlah dana untuk pak Syahroni. Maka kutulis cerita status berikutnya:
>
>Awalnya hnya ingin sharing pngalaman '3 jam brsama sang penjaga mushola' di 
>stasun Bandung. Pak Syahroni, pnjaga mushola itu ingin skali naik haji, tp 
>satu2nya smber pnghasilan adlh kotak infak. Sy lalu mnjelma mnjd "tukang 
>kompor". Sy yakinkan: "Insya Allah, niat Bpk akn terwujud. Jngn brhenti 
>berdoa". 
>Respon rekan2 sungguh mmbuat sy merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah 
>@Rp 1 juta. (03/08/2010)
>
>Sebenarnya saya sendiri tidak pernah berencana membantu pak Syahroni dari sisi 
>materi, melainkan dalam hati saya berniat membantunya dengan doa. Maka saya 
>pun 
>menuliskan cerita status berikutnya:
>
>Msh ttg impian pak Syahroni (18 th mjd pnjaga, muadzin & imam mushola stasiun 
>Bandung) utk naik haji, sdg pnghsilannya hnya dr kotak infak. Sy tdk prnah 
>brencana mmbantu kcuali dg doa, tdk jg prnh brniat mnggalang dana apalg jd 
>Panitia. Tp mmbaca respon para sahabat, sy jd brgairah spt ktika mlm Jum'at 
>tiba 
>(utk lbh bnyak tadarus, maksudnya) & adrenalin sy mningkat spt ktika mndaki 
>gunung. (03/08/2010)
>
>Siang tadi sy bicara via telp dg pak Syahroni. Trdengar dr bicaranya beliau 
>terkejut, dgn terbata2 mngucap syukur & 'hatur nuhun'. Sgr akan dibuka 
>Tabungan 
>Haji a/n beliau, shg siapapun yg berniat sedekah utk pak Syahroni, tinggal 
>transfer ke rek tsb (boleh jg via sy). Ini akan mnjd bukti ksungguhan seorg 
>hamba utk mmnuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yg 
>mnggenapi.  (03/08/2010)
>
>Pak Syahroni ini memang bukan apa-apa saya, selain sekedar seseorang yang baru 
>saya kenal di stasiun Bandung. Namun semangatnya untuk bisa menunaikan ibadah 
>haji sungguh sangat menginspirasi, bahkan di mata sahabat-sahabat saya yang 
>tersentuh hatinya untuk berempati kepada pak Syahroni. Kemudian saya pun 
>menuliskan cerita status berikutnya:
>
>Prlu dketahui bhw pak Syahroni ini bkn apa2 sy. Ttangga bkn, famili apalg, 
>teman 
>jg br kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan & ketulusan niatnya utk 
>pergi 
>haji benar2 mnginspirasi sy. Klo ada yg tanya knapa mau repot2 mmbantunya? Sy 
>tdk tahu. Smua trjd bgitu sj tnpa prnah sy rencana. Brngkali itulah jln rejeki 
>bg pak Syahroni.. "min khoitsu laa yahtasiib (dr sumber yg tak trduga)". 
>(04/08/2010)
>
>Hingga akhirnya atas bantuan seorang teman di Bandung, pak Syahroni telah 
>membuka rekening Tabungan Haji. Saya tuliskan dalam cerita status saya:
>
>Mmfasilitasi semangat brsedekah rekan2 FB utk pak Syahroni, pnjaga mushola 
>stasiun Bdg (lihat status2 sy sblmnya). Hr ini telah dibuka rekening Tabungan 
>Haji a/n Pak Syahroni di bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8, dg setoran 
>awal 
>Rp 8,5 jt. Sy pesankan kpd beliau: "Jaga niat seolah2 bpk akn sgr brngkt ke 
>tanah suci.... Tabunglah brppun rejeki yg bpk ada & tdk usah dipikir 
>kurangnya, 
>biar Allah swt yg menggenapi...". (09/08/2010)
>
>Alhamdulillah, hingga saat ini telah terkumpul saldo sejumlah Rp 9,5 juta di 
>rekening Tabungan Haji pak Syahroni. Memang masih jauh dari jumlah minimal 
>yang 
>diperlukan untuk memperoleh nomor urut daftar tunggu. 
>
>
>Ucapan terima kasih ingin saya sampaikan kepada segenap sahabat yang dengan 
>niat 
>tulus ikhlasnya mentransfer sejumlah dana untuk pak Syahroni. Bukan soal 
>jumlah 
>rupiahnya, melainkan berapapun nilai sedekah itu, insya Allah akan menjadi 
>pembuka jalan bagi terwujudnya mimpi pak Syahroni untuk berkunjung ke tanah 
>suci, entah kapan hal itu akan menjadi kenyataan. Semoga semua kebaikan para 
>sahabat itu akan memperoleh balasan yang jauh lebih baik dari Allah swt. Amin.
>
>NB : Jika masih ada sahabat yang ingin bersedekah untuk pak Syahroni, silakan 
>mentransfer dananya, bisa melalui saya atau langsung ke no. rekening yang 
>tertulis di atas dan tolong kesediannya untuk mengkonfirmasi kepada saya agar 
>saya dapat membantu memonitornya. 
>
>
>Yogyakarta, 29 Agustus 2010
>Yusuf Iskandar 
>
>http://yiskandar.wordpress.com
>http://madurejo.wordpress.com
>
>





Kirim email ke