Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan
-----------------------------------------

Pagi itu saya sengaja tidak tidur setelah makan sahur dan sholat subuh, karena 
ada agenda pagi yang harus saya penuhi. Padahal biasanya tidur setelah subuhan 
itu, wow... luar biasa nikmatnya hingga terkadang terasa malas untuk bangun, 
seolah-olah ingin terus tidur sampai tiba waktu berbuka. Seolah-olah...

Belum jam delapan pagi, matahari sedang beranjak untuk memulai tugasnya hari 
itu. Datang seseorang bersepeda lalu duduk di luar pagar halaman rumah. Melihat 
istri saya keluar, seseorang itu berkata terbata-bata : "Saya temannya Yusuf, 
temannya Yusuf...". Seperti kesulitan untuk berkata-kata lebih banyak. Tinggal 
istri saya kebingungan yang lalu memanggil saya keluar.

Masya Allah, ternyata seseorang itu adalah teman kuliahku dulu. Pagi itu adalah 
untuk kedua kali saya bertemu sejak terpisah lebih dua puluh tahun yll. Saat 
pertemuan pertama beberapa bulan sebelumnya, sengaja saya yang mencari rumahnya 
untuk menemuinya. Teman saya ini tinggal di sebuah rumah sangat sederhana di 
sudut sebuah perkampungan di kawasan Kotagede, Yogyakarta. 

Waktu itu saya sengaja mencarinya setelah memperoleh informasi bahwa teman saya 
ini sekarang sedang mengalami kesulitan. Tubuhnya yang dulu waktu kuliah tinggi 
gagah kini terlihat kurus dan loyo digerogoti penyakit stroke dan paru-paru. 
Tidak lagi mempunyai penghasilan tetap karena pekerjaan terakhirnya sudah 
ditinggalkannya akibat sakit tak tersembuhkan. Saya sempat menuliskan cerita 
status di Facebook :

"B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 
20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis 
dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya 
sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga 
makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya 
yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, 'mencuri-curi' 
bersepeda...". (17/04/2010)

Setelah saya sambut kedatangannya pagi itu, kemudian saya bimbing dan saya ajak 
duduk santai di teras depan rumah. Badannya terlihat kurus dan rapuh. 
Berjalannya tak lagi tegak. Bicaranya nampak sangat kesulitan. Hanya senyum 
ramahnya yang masih tersisa menandakan masih ada gairah dan semangat hidup 
dalam dirinya. Tapi dia sanggup bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar 
tiga kilometer dari rumah saya.

Setelah menanyakan kabarnya, pertanyaan berikutnya adalah : "Apa istrimu tahu 
kamu bersepeda ke sini?". Dijawabnya : "Ya dia tahu. Aku tadi pamit". Agak lega 
saya mendengar jawabannya. Sebab ketika sebelumnya saya bertemu dengan 
istrinya, teman saya ini suka mencuri-curi bersepeda kemana-mana padahal 
kondisi fisiknya sebenarnya tidak memungkinkan. Demi menyambut tamu istimewa 
saya itu, terpaksa saya menunda keberangkatan ke acara yang seharusnya saya 
hadiri jam delapan.  

Setelah mengobrol kesana-kemari. Akhirnya saya mendengar pengakuannya bahwa dia 
perlu bantuan keuangan. Dengan menunjukkan sebundel kertas lusuh dari dompetnya 
yang ternyata adalah bukti pembayaran pembelian obat bertanggal beberapa bulan 
sebelumnya dari sebuah Rumah Sakit di Jogja. Pendek cerita dia sudah telambat 
membeli obat karena kesulitan biaya. Mak deg atiku...! Tidak ada yang sempat 
terpikir di otakku kecuali bahwa teman saya itu sedang berkata yang sebenarnya 
dan bahwa saya perlu membantunya. 

Bukan soal pemberian bantuan yang ingin saya ceritakan. Kalau soal itu saya 
percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik daripada yang saya lakukan. 
Melainkan perasaan betapa bersyukurnya saya. Bersyukur yang pertama karena pagi 
itu saya masih dianugerahi keadaan yang lebih baik ketimbang yang sedang 
dialami oleh teman saya itu. Bersyukur yang kedua karena pagi-pagi saya sudah 
memperoleh peluang untuk berbagi kebaikan kepada orang lain yang orang lain itu 
sedang sangat membutuhkannya. Tuhan begitu luar biasa menawarkan sebuah 
"peluang bisnis" kepada saya pagi itu, di saat saya sedang terburu-buru hendak 
berangkat memenuhi sebuah komitmen di tempat lain.

Namun tampaknya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu. Melalui utusan-Nya pernah 
disabdakan: "Pergunakan sebaik-baiknya masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa 
mudamu sebelum masa tuamu...". Astaghfirullah... Sepuluh tahun yll. teman saya 
itu karirnya sedang melejit dan bersiap hendak menerima promosi jabatan di 
sebuah perusahaan BUMN. Namun apa hendak dikata, semuanya seolah lenyap dalam 
sekejap akibat dirinya tidak sanggup lagi menanggung derita atas serangan 
stroke yang dialaminya dan hingga kini praktis tak tersembuhkan secara total. 
Bahkan untuk melakukan pekerjaan sederhana pun dia tak lagi mampu walau 
semangatnya masih menggebu-gebu.

Jika demikian, tahulah saya bahwa nikmat Tuhan yang pernah dianugerahkan kepada 
seorang manusia itu tidak ada yang dapat menggaransi akan langgeng selamanya. 
Ketika Sang Pemberi Nikmat menganggapnya cukup, maka benar-benar cukuplah 
sampai di situ. Kita sering salah kaprah dalam merespon setiap nikmat yang 
diberikan Tuhan kepada kita. Ternyata mengucap doa syukur saja belum cukup, 
melainkan perlu ditambah dengan doa agar kiranya nikmat itu tidak dibreidel 
sama Tuhan dan agar nikmat itu minimal bertahan tidak dicabut atau dibatalkan.

*** 

Sempat terpikir, pagi-pagi bukannya saya menerima rejeki tapi malah harus 
memberi rejeki kepada orang lain. Padahal doa yang sering saya panjatkan adalah 
agar diberi rejeki yang buanyak, seperti halnya yang saya lakukan saat usai 
sholat Dhuha sebelum saya menemui teman saya pagi itu. Dan doa itu pun spontan 
dikabulkan tapi dalam wujud yang sebaliknya, bukan menerima rejeki tapi justru 
memberi rejeki kepada orang lain.

Nampaknya formula yang harus saya hafalkan adalah bahwa menerima rejeki itu 
berbanding lurus dengan memberi rejeki kepada orang lain. Sedangkan nominalnya, 
rejeki yang diterima minimal akan sama besar dengan rejeki yang diberikan 
kepada orang lain dan bahkan seringkali jauh lebih besar. Maka kalau menurut 
pernyataan dalam kitab sucinya orang Islam bahwa rejeki itu akan datang dari 
sumber yang tak terduga (min khaitsu la yahtasib), itu berarti hal yang sama 
berlaku baik bagi rejeki yang diterima  maupun diberikan, si penerima maupun 
pemberi. 

Oleh karena itu, jika pagi itu saya memperoleh peluang untuk memberi rejeki 
kepada orang lain berarti harus saya terjemahkan bahwa sesungguhnya saya juga 
sedang memperoleh portofolio rejeki yang minimal sama nilainya. Kapan cairnya 
saya tidak tahu, akan tetapi kitab suci yang sama menjanjikan bahwa investasi 
itu pada saat yang tepat nanti pasti akan diterimakan dan seringkali nilainya 
jauh lebih besar dari yang pernah diberikan kepada orang lain.

Jika demikian, maka ketika nikmat berupa kemampuan untuk menerima atau memberi 
itu datang, jangan pernah disia-siakan. Sebab kebaikan yang tersirat di dalam 
kemampuan untuk memberi maupun menerima hakekatnya adalah sama. Dan tidak ada 
balasan atas kebaikan itu kecuali kebaikan pula. "Maka nikmat Tuhan kamu yang 
manakah yang kamu dustakan?" (QS. 55:60-61). Dan ketika Tuhan mengulang-ulang 
kalimat itu hingga 31 kali, maka mudah-mudahan bukan kepada kita sindiran itu 
ditujukan. Kalaupun benar demikian, maka pasti terkandung maksud yang lebih 
baik. Wallahu a’lam...   

Yogyakarta, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke