Iya bagus dan pagi ini saya jd sedikit semangat kerja,hehehe...6hr 
kerja,semangat2...maka nikmat Tuhanmu yg manakah yg kan kau dustakan?...
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: ASROFI <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 4 Sep 2010 07:08:13 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kendal-online] Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan

Terimakasih banyak pak Is,
Cerita ini sungguh bisa menambah rasa terimakasih kita kepada Allah.

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : http://asrofi.web.id
Office : http://domainhosting.web.id, http://sentraproperty.com,



2010/9/2 Yusuf Iskandar <[email protected]>

>
>
> Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan
> -----------------------------------------
>
> Pagi itu saya sengaja tidak tidur setelah makan sahur dan sholat subuh,
> karena ada agenda pagi yang harus saya penuhi. Padahal biasanya tidur
> setelah subuhan itu, wow... luar biasa nikmatnya hingga terkadang terasa
> malas untuk bangun, seolah-olah ingin terus tidur sampai tiba waktu berbuka.
> Seolah-olah...
>
> Belum jam delapan pagi, matahari sedang beranjak untuk memulai tugasnya
> hari itu. Datang seseorang bersepeda lalu duduk di luar pagar halaman rumah.
> Melihat istri saya keluar, seseorang itu berkata terbata-bata : "Saya
> temannya Yusuf, temannya Yusuf...". Seperti kesulitan untuk berkata-kata
> lebih banyak. Tinggal istri saya kebingungan yang lalu memanggil saya
> keluar.
>
> Masya Allah, ternyata seseorang itu adalah teman kuliahku dulu. Pagi itu
> adalah untuk kedua kali saya bertemu sejak terpisah lebih dua puluh tahun
> yll. Saat pertemuan pertama beberapa bulan sebelumnya, sengaja saya yang
> mencari rumahnya untuk menemuinya. Teman saya ini tinggal di sebuah rumah
> sangat sederhana di sudut sebuah perkampungan di kawasan Kotagede,
> Yogyakarta.
>
> Waktu itu saya sengaja mencarinya setelah memperoleh informasi bahwa teman
> saya ini sekarang sedang mengalami kesulitan. Tubuhnya yang dulu waktu
> kuliah tinggi gagah kini terlihat kurus dan loyo digerogoti penyakit stroke
> dan paru-paru. Tidak lagi mempunyai penghasilan tetap karena pekerjaan
> terakhirnya sudah ditinggalkannya akibat sakit tak tersembuhkan. Saya sempat
> menuliskan cerita status di Facebook :
>
> "B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang
> lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke.
> Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf
> halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara,
> jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung
> kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan,
> 'mencuri-curi' bersepeda...". (17/04/2010)
>
> Setelah saya sambut kedatangannya pagi itu, kemudian saya bimbing dan saya
> ajak duduk santai di teras depan rumah. Badannya terlihat kurus dan rapuh.
> Berjalannya tak lagi tegak. Bicaranya nampak sangat kesulitan. Hanya senyum
> ramahnya yang masih tersisa menandakan masih ada gairah dan semangat hidup
> dalam dirinya. Tapi dia sanggup bersepeda dari rumahnya yang berjarak
> sekitar tiga kilometer dari rumah saya.
>
> Setelah menanyakan kabarnya, pertanyaan berikutnya adalah : "Apa istrimu
> tahu kamu bersepeda ke sini?". Dijawabnya : "Ya dia tahu. Aku tadi pamit".
> Agak lega saya mendengar jawabannya. Sebab ketika sebelumnya saya bertemu
> dengan istrinya, teman saya ini suka mencuri-curi bersepeda kemana-mana
> padahal kondisi fisiknya sebenarnya tidak memungkinkan. Demi menyambut tamu
> istimewa saya itu, terpaksa saya menunda keberangkatan ke acara yang
> seharusnya saya hadiri jam delapan.
>
> Setelah mengobrol kesana-kemari. Akhirnya saya mendengar pengakuannya bahwa
> dia perlu bantuan keuangan. Dengan menunjukkan sebundel kertas lusuh dari
> dompetnya yang ternyata adalah bukti pembayaran pembelian obat bertanggal
> beberapa bulan sebelumnya dari sebuah Rumah Sakit di Jogja. Pendek cerita
> dia sudah telambat membeli obat karena kesulitan biaya. Mak deg atiku...!
> Tidak ada yang sempat terpikir di otakku kecuali bahwa teman saya itu sedang
> berkata yang sebenarnya dan bahwa saya perlu membantunya.
>
> Bukan soal pemberian bantuan yang ingin saya ceritakan. Kalau soal itu saya
> percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik daripada yang saya lakukan.
> Melainkan perasaan betapa bersyukurnya saya. Bersyukur yang pertama karena
> pagi itu saya masih dianugerahi keadaan yang lebih baik ketimbang yang
> sedang dialami oleh teman saya itu. Bersyukur yang kedua karena pagi-pagi
> saya sudah memperoleh peluang untuk berbagi kebaikan kepada orang lain yang
> orang lain itu sedang sangat membutuhkannya. Tuhan begitu luar biasa
> menawarkan sebuah "peluang bisnis" kepada saya pagi itu, di saat saya sedang
> terburu-buru hendak berangkat memenuhi sebuah komitmen di tempat lain.
>
> Namun tampaknya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu. Melalui utusan-Nya pernah
> disabdakan: "Pergunakan sebaik-baiknya masa sehatmu sebelum masa sakitmu,
> masa mudamu sebelum masa tuamu...". Astaghfirullah... Sepuluh tahun yll.
> teman saya itu karirnya sedang melejit dan bersiap hendak menerima promosi
> jabatan di sebuah perusahaan BUMN. Namun apa hendak dikata, semuanya seolah
> lenyap dalam sekejap akibat dirinya tidak sanggup lagi menanggung derita
> atas serangan stroke yang dialaminya dan hingga kini praktis tak
> tersembuhkan secara total. Bahkan untuk melakukan pekerjaan sederhana pun
> dia tak lagi mampu walau semangatnya masih menggebu-gebu.
>
> Jika demikian, tahulah saya bahwa nikmat Tuhan yang pernah dianugerahkan
> kepada seorang manusia itu tidak ada yang dapat menggaransi akan langgeng
> selamanya. Ketika Sang Pemberi Nikmat menganggapnya cukup, maka benar-benar
> cukuplah sampai di situ. Kita sering salah kaprah dalam merespon setiap
> nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ternyata mengucap doa syukur saja
> belum cukup, melainkan perlu ditambah dengan doa agar kiranya nikmat itu
> tidak dibreidel sama Tuhan dan agar nikmat itu minimal bertahan tidak
> dicabut atau dibatalkan.
>
> ***
>
> Sempat terpikir, pagi-pagi bukannya saya menerima rejeki tapi malah harus
> memberi rejeki kepada orang lain. Padahal doa yang sering saya panjatkan
> adalah agar diberi rejeki yang buanyak, seperti halnya yang saya lakukan
> saat usai sholat Dhuha sebelum saya menemui teman saya pagi itu. Dan doa itu
> pun spontan dikabulkan tapi dalam wujud yang sebaliknya, bukan menerima
> rejeki tapi justru memberi rejeki kepada orang lain.
>
> Nampaknya formula yang harus saya hafalkan adalah bahwa menerima rejeki itu
> berbanding lurus dengan memberi rejeki kepada orang lain. Sedangkan
> nominalnya, rejeki yang diterima minimal akan sama besar dengan rejeki yang
> diberikan kepada orang lain dan bahkan seringkali jauh lebih besar. Maka
> kalau menurut pernyataan dalam kitab sucinya orang Islam bahwa rejeki itu
> akan datang dari sumber yang tak terduga (min khaitsu la yahtasib), itu
> berarti hal yang sama berlaku baik bagi rejeki yang diterima maupun
> diberikan, si penerima maupun pemberi.
>
> Oleh karena itu, jika pagi itu saya memperoleh peluang untuk memberi rejeki
> kepada orang lain berarti harus saya terjemahkan bahwa sesungguhnya saya
> juga sedang memperoleh portofolio rejeki yang minimal sama nilainya. Kapan
> cairnya saya tidak tahu, akan tetapi kitab suci yang sama menjanjikan bahwa
> investasi itu pada saat yang tepat nanti pasti akan diterimakan dan
> seringkali nilainya jauh lebih besar dari yang pernah diberikan kepada orang
> lain.
>
> Jika demikian, maka ketika nikmat berupa kemampuan untuk menerima atau
> memberi itu datang, jangan pernah disia-siakan. Sebab kebaikan yang tersirat
> di dalam kemampuan untuk memberi maupun menerima hakekatnya adalah sama. Dan
> tidak ada balasan atas kebaikan itu kecuali kebaikan pula. "Maka nikmat
> Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. 55:60-61). Dan ketika
> Tuhan mengulang-ulang kalimat itu hingga 31 kali, maka mudah-mudahan bukan
> kepada kita sindiran itu ditujukan. Kalaupun benar demikian, maka pasti
> terkandung maksud yang lebih baik. Wallahu a’lam...
>
> Yogyakarta, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431H)
> Yusuf Iskandar
>
> http://yiskandar.wordpress.com
>
>  
>

Kirim email ke